01 May 2014

Pelacur Dolly transmigrasi ke NTT

Lokalisasi pelacuran Gang Dolly, Jarak, dan Moroseneng di Surabaya bakal ditutup pada 19 Juni 2014 sebelum Ramadan. Rupanya Bu Risma, wali kota Surabaya, tak lagi memberi toleransi kepada para pengusaha hiburan esek-esek itu.

Persiapan sudah lama dilakukan. Para pelacur alias PSK diajari keterampilan untuk alih profesi. Bu Risma dan Pak Karwo gubernur Jawa Timur juga menyiapkan pesangon untuk penghuni Dolly. Mana ada buruh di Jatim dikasih pesangon oleh pemerintah selain pekerja seks?

Tapi siapa pun tahu pindah profesi itu tidak gampang. Bertahun-tahun jualan gituan dengan hasil wah, kemudian jualan pecel atau rujak cingur? Bertahun-tahun kerjanya macak, dandan, mejeng... kemudian harus memeras keringat di bawah terik matahari?

Maka, tidak heran banyak pengamat dan penggiat LSM yang tidak yakin kalau para pelacur Dolly + Jarak itu bisa dientas semuanya. Sepuluh persen saja sudah bagus. Sisanya akan semburat ke mana-mana. Tetap meneruskan profesi aslinya di dunia esek-esek di tempat lain.

Pak Bagong Suyanto dari Universitas Airlangga di koran hari ini menyebut praktik prostitusi itu sudah lama berlangsung diam-diam di hotel, salon, panti pijat. Bahkan dengan media sosial orang bisa memesan wong wadon secara online. Jadi, menutup Dolly dan sejenisnya tidak otomatis menghentikan pelacuran di Surabaya.

"Kalau mau menghentikan prostitusi ya harus semuanya. Yang di hotel-hotel juga harus ditutup. Jangan di Dolly saja," kata Pak Bagong.

Yah, para germo ini punya jaringan yang luas dan rapi. Mereka tentu sudah lama melakukan antisipasi jika Gang Dolly benar-benar tutup. Cewek-cewek itu akan disalurkan ke tempat lain yang lokalisasinya masih ada. Baik lokalisasi liar, setengah resmi, atau terselubung ala panti pijat tradisional.

Ada media yang bilang sejumlah PSK Dolly sudah siap transmigrasi ke luar Jawa. Entah Kalimantan, Sulawesi, Papua, termasuk NTT.

Khusus NTT ini kabarnya sudah lama sebagian pelacur Dolly yang tidak laku (ketuaan) transmigrasi ke Kupang. Kebetulan di dekat pelabuhan Tenau ada lokalisasi pelacuran yang sudah lama eksis.

Ada pula yang gentayangan di panti pijat di Kupang. Di televisi beberapa waktu lalu ada berita gadis di bawah umur dijebloskan ibunya ke panti pijat di Kupang untuk bayar utang. Wah, gawat!

Ibarat balon, ketika lokalisasi pelacuran ditutup di salah satu tempat, maka otomatis dia menyembul di tempat lain. Dolly tutup, arek-arek mokong itu akan lari ke hotel atau kota lain. Kecuali program pelatihan atau alih profesi itu berhasil.

Teguh, juru bicara pekerja lokalisasi Dolly, sinis dengan pelatihan bikin kue atau salon ala Pemkot Surabaya. "Siapa yang beli roti di desa? Orang desa mana ada yang datang ke salon?" katanya.

Yah, kita tunggu saja tanggal 19 Juni 2014!

No comments:

Post a Comment