14 May 2014

Pasar sapi Krian rawan AIDS



Namanya pasar sapi atau pasar hewan. Tapi kompleks di dekat stasiun dan pasar baru Krian, Kabupaten Sidoarjo, itu lebih dikenal sebagai lokalisasi pelacuran kelas teri. Orang Sidoarjo biasanya senyam-senyum atau tertawa jika mendengar istilah 'pasar sapi'.

"Maksudnya pasar sapi yang mana? Pasar sapi Krian atau sapi opo?" Begitu biasanya komentar orang Sidoarjo, Jawa Timur. Makna pasar sapi itu sudah sangat konotatif. Gak enak didengar.

Jumlah sapi yang dijual di pasar sapi milik Pemkab Sidoarjo itu tidak banyak. Hanya sekitar 40 sampai 50 ekor saja. Menjelang Idul Adha baru banyak. Wedhus alias kambing pun tak banyak.

Yang ramai justru itu... 'sapi-sapi betina berkaki dua'. Begitu guyonan teman asal Krian. Yah, pekerja seks memang mangkal di pasar sapi ini. Ada pemilik gubuk yang menyediakan kamar untuk adegan begituan. Short time!

"Sapi-sapi tuwek kabeh. PSK-nya tua-tua, di atas 30 tahun," kata seorang pedagang.

Pekerja-pekerja seks ini sebetulnya bukan asli Krian, Balongbendo, Taman, atau Sidoarjo, tapi wanita-wanita luar kota lumpur. Entah sejak kapan kompleks pasar sapi dijadikan tempat mangkal PSK. Yang jelas, kata beberapa warga setempat, dari dulu sudah berkeliaran di dekat stasiun kereta api.

Asal tahu saja, kawasan sekitar stasiun kereta api memang sejak dulu sering dijadikan tempat mangkal WTS alias PSK alias wanita harapan. Ketika pasar sapi didirikan, perlahan-lahan PSK jalanan itu punya tempat mangkal. Karena memang ada warga yang hidupnya dari menyediakan kamar-kamar gedhek itu.

Razia dari Satpol PP, kepolisian, tentara, bahkan ormas sudah sering dilakukan. Tapi hasilnya kurang memuaskan. Obrakan bahkan lebih sering bocor karena rupanya ada oknum yang diam-diam ada main dengan orang-orang yang berkepentingan dengan bisnis esek-esek itu.

"Gawat banget karena PSK-PSK di Sidoarjo ini bergerak secara liar. Kompleks pasar sapi itu sangat rawan HIV/AIDS karena tidak ada kontrol," kata Mas Hartono, aktivis LSM peduli AIDS di Sidoarjo.

Berbeda dengan Kota Surabaya, Kabupaten Sidoarjo secara resmi tidak punya lokalisasi PSK baik yang resmi atau setengah resmi. Namun, kenyataannya ada lokalisasi ilegal seperti pasar sapi Krian yang praktik terang-terangan. Bahkan di siang bolong.

Kok aparat tutup mata? Cuma razia sekali-sekali saja menjelang bulan puasa. Atau suka-sukanya satpol PP kalau lagi senang operasi.

Mudah-mudahan Pemkab Sidoarjo segera tanggap. Apalagi sebentar lagi, 19 Juni 2014, Pemkab Surabaya menutup semua lokalisasi di Surabaya. Termasuk Gang Dolly dan Jarak yang terkenal itu. Bukan tidak mungkin PSK-PSK eks Surabaya semburat ke Krian. Bergabung dengan sapi-sapi beneran! @rek

1 comment:

  1. itu adalah tugas aparat dan dinas yg berwenang untuk menertibkan. mereka di bayar untuk bekerja...bukan bermalas-malasan

    ReplyDelete