08 May 2014

Pabrik Gula di Sidoarjo Tinggal 4

Pabrik gula di Balongbendo pada zaman Hindia Belanda.


Sejarah industrialisasi di Sidoarjo tak lepas dari keberadaan pabrik gula. Pabrik-pabrik gula itu tersebar di berbagai kawasan, mulai Waru, Taman, Gedangan, Buduran, hingga kawasan selatan seperti Krian, Tulangan, Prambon, dan Balongbendo. Sayang, kini hanya tersisa empat pabrik gula di Kota Delta.

Empat pabrik gula yang masih eksis itu adalah PG Toelangan, PG Watoetoelis (Prambon), PG Krembong, dan PG Candi Baru. Henri Nurcahyo, penulis dan pemerhati Sidoarjo tempo doeloe, menjelaskan, berdirinya pabrik-pabrik gula di Jawa berkaitan erat dengan kulturstelsel yang diterapkan pemerintah kolonial Hindia Belanda.

Sudah banyak buku sastra yang terinspirasi oleh konflik antara petani tebu dan manajemen pabrik gula di masa kolonial. Di antaranya, novel tetralogi Pramoedya Ananta Toer yang mengambil setting PG Toelangan. Demikian pula kisah pemberontakan Kiai Kasan Moekmin. Cerita rakyat tentang Pak Sakerah dalam ludruk-ludruk di Jawa Timur pun menceritakan konflik seputar kebun tebu dan pabrik gula.

Sayang, seiring dengan perkembangan zaman, pabrik-pabrik gula itu rontok satu per satu. Di Jawa Timur, pabrik gula yang berada dalam naungan PT Perkebunan Nusantara X ada 11 buah. Dari empat pabrik gula yang ada di Sidoarjo, hanya PG Candi Baru yang dikelola swasta.


"Sidoarjo dulu sempat punya 16 pabrik gula. Lama-kelamaan menyusut menjadi lima pabrik. Dan, sekarang hanya ada empat pabrik, termasuk PG Candi Baru," ujar Henri yang tinggal di kawasan Bungurasih itu.

Tak banyak yang tahu kalau markas Artileri Pertahanan Udara Sedang (Arhanudse), TNI Angkatan Darat, di pinggir jalan raya Sruni, Gedangan, itu dulunya pabrik gula bikinan Belanda. Kompleks PG Wonoayu berubah menjadi markas polisi. Begitu pula PG Porong menjadi Pusdik Brimob.

Adapun pabrik-pabrik gula yang lain berubah menjadi puskesmas, kantor kecamatan, dan sebagainya. "Sebagian lain hancur tanpa jejak," ujar pria yang juga pengurus Dewan Kesenian Sidoarjo itu.

Salah satu pabrik gula yang punya sejarah menarik, dan masih eksis hingga sekarang, menurut Henri, pabrik gula yang baru direvitalisasi itu didirikan Oleh NV Cooy dan Coster Van Voor Hout pada 1847. Saat zaman penjahahan itu PG Kremboong memproduksi gula dengan tenaga manusia yang dibantu dengan peralatan sederhana. Masih home industry.

Saat Belanda dikalahkan Jepang, pabrik gula ini tidak hanya digunakan untuk memproduksi gula, tetapi juga digunakan untuk produksi senjata perang.
Selang beberapa tahun, pecah Perang Dunia II. Jepang kalah sehingga terjadi kevakuman kekuasaan, sehingga Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945.

Selanjutnya, pabrik-pabrik gula yang ada kemudian diambil alih oleh pemerintah Indonesia. (*)

4 comments:

  1. Bung Hurek, Abang saya punya perusahaan pengangkutan dikresidenan Besuki, truck-truck-nya ( prahoto ) tua2, sisa perang dunia kedua dan yang terbaru Toyota-bajul produksi tahun 60-an. Dia doeloe masih sering mengangkut barang trayek Muncar/Banyuwangi - Surabaya, achirnya berhenti, sebab tidak kuat membayar pungli-polisi disepanjang jalan, mulai Genteng, Kalibaru, Jember, Klakah, Probolinggo, Pasuruan, ...,.Timbangan-dinas jalan raya,...dan terachir palakan preman di Wonokromo. Sekarang PT-nya spesialis angkut tebu untuk Pabrik Gula Asembagus-Situbondo. Payah Bung Hurek, kebun2 tebu dikabupaten Banyuwangi Selatan letaknya di-plosok2, tidak ada jalan beraspal, truck2-nya harus masuk kedalam sawah, kalau hujan kondisi lapangannya seperti kubangan kerbau, kendaraan keblowok, Ass putul, ongkos menarik truck lebih mahal daripada ongkos angkutan yang dibayar Pabrik-Gula. Jika Anda ke Banyuwangi lewat jalur Pantura, maka Anda, waktu musim panen tebu, melihat deretan panjang truck2-tua pengangkut tebu dipinggir jalan yang antree untuk menurunkan muatannya dipabrik gula Asembagus. Kadang2 antree sampai 3 hari
    3 malam, sehingga tebunya kisut-kering kena terik matahari, sehingga berat muatan jadi sungsut, berkurang. Pembayaran ongkos angkutan tergantung dari berat tebu yang ditimbang, jadi rugi lagi, selain itu harus membayar uang-jalan untuk sopir dan kernet percuma selama 3 hari. Yang paling kasian adalah si-sopir dan kernetnya. Kalau mau cepat dilayani, ya harus menyuap kepala bagian timbangan. Itulah Ibu Pertiwi ! Sebab-musabab kebobrokan itu adalah :
    Pabrik Gula itu dibangun waktu zaman Belanda, kapasitas timbangannya hanya
    4 ton, jadi tebu2 harus dibongkar dari bak-truck, barulah ditimbang ton per ton, padahal muatan trucknya 10 sampai 12 ton. Lah kapan selesainya ?????
    Buruh2 penebang tebu adalah buruh harian, jika ada pekerjaan lain yang bayarannya lebih tinggi, mereka tidak sudi menebang tebu, capek dan gatel.
    Kadangkala truck2 harus nginap ber-hari2 ditengah sawah. Rugi maneh !
    Kalau ada komentator yang keminter bilang : Kalau rugi koq lu kerjakan ! Orang itu tidak sadar, bahwa tidak semua orang Cina-Indonesia kaya raya, mereka juga seperti sopir, kernet, buruh, hanya cari makan untuk menyambung hidup !

    ReplyDelete
  2. Bung Hurek saya sambung lagi. Kemarin saya baca berita, Wapres Jusuf Kalla ceramah, produksi gula Indonesia 8000,- Rupiah per kilogram, sedangkan di Thailand cuma 6000,- Rupiah. Beliau kuatir Indonesia tahun ini akan import gula lagi ratusan juta ton. Pejabat- & Politisi-Indonesia memang serba ciamik, buta-tuli tapi bicaranya pinter, serba bisa. Ceramah pabrik peniti Tiongkok, pabrik gula Thailand. Makanya saya pribadi lebih senang pejabat dan politisi dari kalangan rakyat jelata, cukup lulusan SMA, kejuruan, pertukangan, pernah berdikari punya usaha sendiri dan punya karyawan, jadi ngerti keadaan real bangsanya,
    tahu betapa susahnya mencari uang, sehingga bisa berhemat, tahu prioritas, bukannya kepala besar, omong besar, otaknya hanya mercu suar, seperti para akademisi S2,S3,S teller. Orang pandai berijasah sekolah tinggi memang diperlukan, tetapi hanya sebagai pegawai, jadi bawahan yang tugasnya menjalankan perintah lao-ban yang lulusan SMA dan juga memberi pendapat ilmiah jika ditanya. Orang tanpa gelar akademik, belum tentu otaknya lebih bodoh daripada yang bergelar bertele-tele, banyak yang tidak punya kesempatan, gara2 ekonomi, sewaktu remaja.
    Dinegeri China, jika ada perkebunan besar, pasti dibangunkan jalan-beton oleh
    pemerintah, guna melancarkan panen. Jika ada kampung, dipelosok-pun, pasti dibuatkan jalan beton yang lebarnya cuma 3 meter. Penduduk bisa dapat pekerjaan, gaji, membangun jalan untuk kepentingan mereka sendiri.
    Republik Indonesia punya Start 15 tahun lebih awal daripada China, bandingkanlah hasilnya sekarang ini !
    Pada tahun 70- sampai 80-an, Indonesia punya uang sedemikian banyak dari hasil minyak bumi, kemanakah larinya uang2 itu ? Koq tidak membangun infra-
    struktur dan mempermodern industri2 pangan kita, garam dan lombok saja harus import. Koq malah bikin industri pesawat terbang yang percuma menghabiskan uang rakyat milliard-an US$.
    Jerman yang kaya dan jagoan, ketika itu tidak mampu membangun industri pesawat Air Bus sendiri, dia berkongsi dengan Perancis, Inggris, Spanyol
    dan Italia. Kita, orang Indonesia, tidak pernah mengakui kesalahan sendiri, selalu orang lain yang salah. Padahal Bapak Habibie sudah pernah dikritik, dalam wawancara di TV-Jerman, gara2 berambisi bikin pesawat terbang, saya nonton tayangan itu. Masih ingat betapa marahnya beliau, dengan mata ber-api2. Mungkin gara2 si-bule Jerman bilang: Bikin sepeda dulu, lalu sepeda motor, mobil, kalau sudah pandai, barulah bikin pesawat. Seperti manusia, merangkak dulu, berdiri, jalan, baru lari. Pak Habibie jawab: Jika bangsaku bisa bikin pesawat terbang, apakah artinya bikin barang2 yang lainnya, terlalu mudah-lah !
    Bung Hurek, didalam ilmu kedokteran ( Psychiatrie ) ada penyakit jiwa yang istilahnya Narzissmus atau Egomanie.
    Seorang Narziss atau Egozentrik, biasanya seorang yang sangat pandai dan sangat sukses dalam hidupnya, dia umumnya berlatar belakang dari masyarakat bawah ( orang kecil ). Dia ingin, mengharap, disukai dan dikagumi oleh semua
    orang. Selalu ingin mencapai kesuksesan yang lebih hebat, sehingga tidak lagi bisa membedakan secara akal sehat, zwischen wertschoepfendem Erfolgswillen und zerstoererischen Selbstvernarrheit, ( antara Manfaat dan Mudarat ).

    ReplyDelete
  3. boleh saya ijin membagikan tulisannya Mas Hurek? sumber dan penulis tetap saya cantumkan. Trimakasih.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Silakan mas nugroho. Saya senang sampean kulonuwun izin dulu ke penulis. Tulisanku banyak dijiplak tanpa permisi. bahkan dibuat buku segala. Zaman internet memang makin bebas copy paste.

      Delete