26 May 2014

Nana JP berhenti jadi wartawan

 Cukup lama saya tak berjumpa Nana Elisabeth. Juga tak melihat kodenya di Jawa Pos (JP). Ke mana gerangan nona Tionghoa yang lulusan sastra Jawa, yang bahasa krama inggilnya lebih bagus ketimbang wong Jawa asli itu?

Saya pikir si Nana dimutasi ke luar kota, misalnya Jakarta. Kangen juga sama wartawan satu ini yang biasa meliput bareng kegiatan komunitas Tionghoa di Surabaya. Paling sering acara marga Huang yang dipimpin Ibu Shinta Wibisono.

Terakhir kami ikut misa bersama di rumah Bu Shinta merayakan ulang tahun Spectrum Choir pimpinan Bu Shinta. Nana ini mantan aktivis paduan suara yang pintar nyanyi. Klop dengan posnya di seni budaya serta hiburan.

Akhirnya, kemarin tiba-tiba dapat SMS dari Nana JP (begitu namanya di HP saya). Saya sudah berhenti dari JP, tulisnya. Oh, pantas saja kalau kodenya hilang dari koran besar itu.

Mungkin karena dia menikah? Mungkin dilarang suaminya kerja sampai tengah malam? Nana bilang sudah nikah bulan Oktober 2013. Suaminya masih di Jogja, dia di Surabaya. Akhir tahun baru sang suami gabung di Surabaya.

"Saya mau selesaikan S2. Kalau tetap di JP ntar gak selesai-selesai," katanya.

Syukurlah kalau begitu. Sejak dulu Nana memang tipe wanita karir yang gandung ilmu + akademis. Dia ingin studi pascasarjana hingga doktoral atau S3. Dan itu akan sulit diwujudkan kalau tiap hari sibuk wira-wiri cari berita, kejar narasumber, dan urusan ini itu.

Saya hanya bisa berdoa agar Nana segera selesai S2-nya plus menuntaskan S3 pula. Mumpung masih antusias mengejar ilmu... dan gelar. Kalau sudah kadung kecanduan kerja, cari duit, biasanya orang lupa menambah gelar akademiknya.

Buat apa S2, S3, atau profesor kalau toh ujung-ujungnya cari duit juga? Begitu pikiran kebanyakan orang Indonesia. Syukulah, Nana termasuk orang Indonesia yang tidak masuk kategori kebanyakan. Semangat kuliah, menekuni dunia akademik, sangat tinggi.

Sejak awal melihat Nana, saya langsung teringat Ika, juga mantan wartawan Jawa Pos. Si Ika ini paling fasih bahasa Inggris, dibandingkan wartawan-wartawan lain di Surabaya waktu itu, dan punya kegandrungan akademik.

Benar saja. Tak berapa lama kemudian Ika 'menghilang' dari media. Tahu-tahu saya mendengar kabar bahwa Ika sudah jadi dosen bahasa Inggris di Universitas Airlangga Surabaya. Tak ada lagi acara menonton dan meliput konser malam-malam bersama Ika.

Yah, saya hanya bisa berdoa semoga Nana dan Ika sukses di dunia akademik. Dunia yang mengejar kedalaman berpikir, meneliti, kajian-kajian, dan transfer ilmu kepada mahasiswa. Dunia yang lebih tertib, birokratis, dengan waktu tidur yang lebih panjang.

No comments:

Post a Comment