23 May 2014

Namo Budaya di Pondok Jati Sidoarjo



Tepat Hari Waisak, 15 Mei 2014, saya mampir ke rumah Pak Nugroho di Pondok Jati X/8 Sidoarjo. Kebiasaan lama untuk memotret perayaan trisuci Waisak. Sekitar 100 umat Buddha berkumpul di rumah merangkap wihara keluarga itu.

Detik-detik Waisak sebetulnya sudah berlangsung dinihari. Tapi Pak Nugroho (Romo Pandita Nugroho Notodiputera) memutuskan kebaktian Waisak di Sidoarjo dimulai jam 9 pagi. Soalnya banyak anak-anak dan umat lansia macam Tante Tok yang terkenal dengan kue keranjang dan bacang yang enak itu.

Semua umat Buddha di Sidoarjo pakaian pakaian putih. Yang tidak pakai baju putih dipastikan bukan buddhis. Seperti dua anak muda yang memang wartawan Arek TV. Saya pun pakai batik biru sehingga kelihatan sekali kalau bukan jemaat. Saya lupa kalau Waisak itu identik dengan baju putih.

Setelah puji-pujian dan membaca mantra, sampailah pada acara meditasi bersama. Ritual khas buddhis yang juga banyak dipraktikkan agama-agama lain. Yang menarik bagi saya adalah posisi tubuh, khususnya dua kaki umat Buddha, yang enak saja membentuk teratai.

Dua kaki mereka begitu lemas, bisa dilipat untuk posisi apa saja. Saya coba melipat kaki tapi gagal. Perlu latihan dan ketekunan, kata Tante Tok.

Yang selalu ditanyakan orang di Sidoarjo: mengapa umat Buddha beribadah di rumah Pak Nugroho? Mengapa tidak ada wihara alias vihara? Mengapa rumah kok dijadikan wihara? Mengapa tidak bikin wihara saja? Atau menyewa ruko seperti yang dilakukan banyak gereja aliran karismatik dan pentakosta?

Pak Nugroho sih tenang saja. Dan selalu senyum. Tokoh barongsai dan basket Sidoarjo ini mengatakan, sampai saat ini belum ada wihara di Kabupaten Sidoarjo. Yang ada itu dua kelenteng di dalam kota Sidoarjo dan Krian. Kelenteng Tridharma, kata Pak Nugroho, memang sedikit banyak ada pertautan dengan Buddha. Tapi kelenteng bukan wihara.

"Jadi, umat Buddha tidak bisa beribadah di kelenteng. Sebaliknya, umat kelenteng juga tidak bisa beribadah di wihara. Selama Orde Baru memang ada pengaburan makna, seakan-akan kelenteng itu sama dengan wihara," katanya.

Memang umat yang KTP-nya tertulis beragama Buddha cukup banyak di Kabupaten Sidoarjo. Tapi Buddha-nya Buddha kelenteng, bukan Buddha wihara. Karena itu, biasanya umat Buddha yang bukan Tridharma pergi ke Surabaya, Malang, atau Mojokerto untuk sembahyang Waisak dan sebagainya. Atau diam di rumah saja.

Nah, sebagai rohaniwan dan guru agama Buddha di berbagai sekolah di Sidoarjo, Nugroho alias Njoo Tiong Hoo ini tergerak untuk menghadirkan wihara di kota petis ini. Pada 25 Febuari 2002 dia mengikhlaskan sebagian besar ruangan di rumahnya untuk wihara. Namanya Wihara Dharma Bhakti.

Setiap Minggu digelar sembahyang bersama disusul sekolah Minggu. Anak-anak sekolah yang tak mendapat pelajaran agama Buddha di sekolahnya mengikuti pelajaran agama di wihara ini. Pak Nugroho jadi pengajar dibantu para sukarelawan. "Anak-anak kita kasih kue, permen, dan lain-lain agar rajin ikut sekolah Minggu," katanya.

Ternyata wihara rumahan yang dirintis Nugroho 12 tahun lalu ini terus berkembang. Umat makin banyak. Ini membuat Pak Nugroho harus mengorbankan ruangan rumahnya untuk umatnya. Dia bersama istri dan anak-anaknya terpaksa menggunakan ruangan yang makin sempit.

Lalu, sampai kapan umat Buddha Sidoarjo uyel-uyelan di Pondok Jati? Kapan punya wihara yang resmi dan cukup luas?

Pak Nugroho kembali tersenyum. "Saya serahkan sama Tuhan. Kalau Sang Buddha menghendaki pasti ada jalan. Entah kapan," katanya.

Perayaan Hari Waisak tahun ini berlangsung sederhana. Tidak ada tenda di jalan. Pun tidak ada penyanyi dan organ tunggal. Cukup makan bersama hidangan yang disiapkan Bu Nugroho: nasi pecel, lodeh, tempe goreng, ayam goreng, tahu, dan menu vegetarian.

Matur nuwun Pak Nugroho sekeluarga. Namo Budaya! Selamat Waisakh!

No comments:

Post a Comment