12 May 2014

La Liga tahun ini kurang menarik

Pagi ini saya kesiangan karena nonton Elche vs Barca di televisi. Begitu Atletico kebobolan, saya kira pemain-pemain Barcelona kesetanan, main habis-habisan, mengelurkan kemampuan terbaik untuk menang. Kalau menang, dan Atletico benar-benar kalah, maka Barca juara La Liga musim ini.

Tapi saya kecewa. Bukannya membaik, permainan Barca mbulet aja. Tidak seperti tim super seperti dipamerkan di era Pep Guadiola dan mendiang Tito Vilanova. Mainnya datar, tidak ada umpan terobosan yang berbahaya. Justru Elche yang mengancam gawang Barca dengan serangan balik berbahaya. Untung tidak gol.

Sembari menikmati pertandingan Elche vs Barcha yang datar itu, sang komentator berbahasa Inggris mengabarkan bahwa pada saat yang sama Real Madrid ketinggalan 1-0. Tak lama kemudian jadi 2-0.

Lho, kok gampang banget si Madrid yang penuh bintang itu kebobolan? Minggu lalu sudah seri dua kali... yang membuat peluang jadi juara La Liga alias Liga Spanyol hancur berantakan. Madrid tak lagi seganas ketika mengalahkan Bayern Muenchen di Liga Champions.

Baik Real Madrid maupun Barcelona sama-sama tidak meyakinkan musim ini. Pola main cepat, pendek, passing akurat, penetasi Messi, Xavi, Iniesta hampir tak terlihat musim ini. Karena itu, ketika mendengar

Atletico menyamakan kedudukan menjadi 1-1, saya berharap segera disusul gol berikut. Gol kemenangan untuk Atletico sekaligus mengunci gelar juara La Liga. Tapi itu pun tak terjadi. Maka sang jawara baru ditentukan minggu depan di kandang Barca.

Dari segi permainan, meski main di rumah sendiri, Barca tahun ini merosot sangat jauh. Jauh dari pesona tika taka Barca yang menghibur penggemar bola di seluruh dunia dalam beberapa tahun terakhir. Sistem baru yang coba dikembangkan Tata Martino rupanya belum bisa jalan. Barca menjadi mudah dijinakkan oleh tim-tim medioker macam Elche.

Real Madrid lebih payah lagi. Seharusnya La Liga sudah selesai dua minggu lalu dan Madrid bisa juara dengan mudah. Tapi skenario penikmat La Liga di Indonesia itu meleset jauh. Madrid bahkan dua kali diganjal tim kecil, kemudian kalah sama tim kecil pula.

Sulit kita menerima alasan Ancelotti tentang kekalahan timnya. Sebab pemain-pemain cadangan yang dipasang Madrid sebenarnya masih lebih berkualitas ketimbang pemain-pemain utama tim lawan. Siapa sih yang meragukan kualitas Isco, Morrata, Khedira, Lopez?

La Liga tahun ini pun menjadi sangat unik karena Barca dan Madrid bisa dijinakkan dengan mudah oleh klub-klub papan bawah. Jadi lebih kompetitif. Tapi, di sisi lain, daya tarik La Liga selama bertahun-tahun hilang. Daya tarik itu adalah kehebatan dua raksasa bola, Madrid dan Barca, menghabisi lawan-lawannya dengan mudah.

Fenomena ini mengingatkan saya pada tinju profesional. Dulu ada Muhammad Ali, Holmes, atau Mike Tyson yang begitu dahsyat dan menangan di kelas berat. Bisa membantai lawan-lawan dengan mudah. Lawan sudah ketakutan sebelum naik ring.

Kita, penonton di seluruh dunia, selalu menunggu di depan televisi ketika Ali atau Tyson berlaga. Karena alam bawah sadar kita sudah punya psikologi menangan atau sang jagoan yang tak pernah kalah layaknya di film laga. Kita tunggu bagaimana Tyson dan Ali menghabisi sang pecundang yang kita anggap bad guys.

Sayang, era Tyson dan Ali sudah lama berlalu. Dan kegairan warga dunia untuk menonton tinju sudah tak ada lagi. Saya sendiri bahkan tidak tahu siapa juara dunia tinju kelas berat saat ini.

1 comment:

  1. Maaf ama, saya langsung kasi komentar, saya jg penggemar La Liga, saya rasa ada yang aneh dengan musim ini.. benar-benar aneh, bukannya Barca dan El Real ngott mau menang... mereka malah santai.. aneh sekali ama.. ijin artikel ini saya share ke FB...

    ReplyDelete