12 May 2014

Hilangnya doa sebelum makan

Tempo dulu makan itu seperti ritual. Setidaknya di pelosok Flores Timur dan Lembata, NTT. Orang kampung saling menunggu agar bisa makan bersama. Selapar-laparnya wanita, dia harus menunggu para bapak pulang baru makan. Begitu pula bapak-bapak harus makan bersama mam-mama dan anak-anak di rumah. Meskipun hidangannya cuma nasi jagung.

Namanya juga ritual, sebelum makan harus ada doa bersama. Satu orang pimpin doa. Doa sebelum makan ala Katolik zaman dulu: Benedic Domine nos et haec... Kemudian disusul Bapa Kami yang ada di surga... ditutup tanda salib.

Kemudian makan. Ada basa-basi omongan kecil, small talk. Lalu doa sesudah makan. Setelah itu baru bubar, cuci piring, dan sebagainya. Makan benar-benar ritual keseharian.

Zaman berubah sangat cepat, banyak orang Flores merantau ke Jawa atau Malaysia. Makan sih tetap makan (lebih enak dan lebih sering) tapi ritualnya hampir tidak ada lagi. Sekadar bikin tanda salib saja pun susah.

Ah, kita kan minoritas! Ah, nanti kelihatan kalau kita ini Katolik! Ah, kita berdoa dan bikin tanda salib dalam hati saja! Bukankah Tuhan sudah tahu apa yang ada di hati kita? Ah, gak usah berdoa secara demonstratif di warung atau restoran di tengah warga yang 98 persen Islam.

Maka ritual sebelum dan sesudah makan makin lama makin hilang. Hari gini makan dibuat praktis tis tis. Tidak usah ritual sembahyang, makan bersama, dsb. Kalau lapar ya makan, belum lapar ya nanti aja kalau sudah lapar.

Makan menjadi praktis karena ad yang namanya nasi bungkus. Beli di pinggir jalan, masukkan tas, bawa ke tempat kerja. Kalau lapar ya nasi bungkus dikeluarkan, makan di depan komputer. Sambil makan sambil browsing, baca macam-macam di internet, plus jawab SMS atau telepon.

Doa sebelum makan? Cukup dalam hati saja. Lama-lama orang Flores yang punya tradisi doa sebelum makan (wajib dihafal agar bisa sambut baru atau komuni pertama) lupa karena lebih asyik di komputer. Amboi, betapa perkasanya teknologi informasi di era multitasking ini.

Saya baru saja melihat film lawas di internet. Ada sebuah keluarga yang punya kebisaan makan bersama dan yang pimpin doa digilir tiap hari. Ah, pengalaman masa kecil di kampung ketika orang tua masih lengkap!

Kini rasanya makin sulit saja makan tanpa melihat televisi, komputer, atau urusan lain di luar santap ria. Fokus makan thok makin sulit di zaman bergegas ini. Ponsel alias HP, komputer, media sosial, makin menyedot konsentrasi manusia modern ke berbagai titik. Keasyikan baru yang belum tentu membuat kita bahagia.

Mastib, petugas kebersihan di sebuah gedung bertingkat di Surabaya, pernah mengeluhkan banyaknya bungkusan nasi, sisa makanan, kulit buah-buahan di meja kerja sebuah perusahaan media. Kotornya bukan main! Sebab hampir semua orang makan sambil menikmati internet atau bekerja.

Kalau sudah begini, ya, jangan harap ada doa bersama sebelum dan sesudah makan. Ia menjadi cerita masa lalu ketika komputer, internet, BB, media sosial dan sejenisnya belum ditemukan.

Maka ke depan, suami, istri, anak cukup makan sendiri-sendiri, sibuk sendiri-sendiri, beli nasi sendiri-sendiri, berdoa sendiri-sendiri. Semuanya serba sendiri.

No comments:

Post a Comment