14 May 2014

Anggota DPRD Sidoarjo 100% Islam

KPU Sidoarjo kemarin menetapkan 50 caleg terpilih. Mereka akan duduk sebagai anggota DPRD Sidoarjo 2014-2015. Dari 12 partai peserta pemilu, hanya PKPI yang gagal mengirim wakilnya ke dewan. PPP dan PBB yang lama absen kini masing-masing meloloskan satu wakil.

Yang menarik, dari perspektif minoritas, wakil rakyat Sidoarjo kali ini tidak representatif. Sebab tidak ada caleg yang latar belakangnya kaum minoritas. Semua caleg terpilih beragama Islam. Tidak ada yang dari kalangan Tionghoa, etnis yang sejak ratusan tahun lalu menduduki posisi bisnis strategis di kawasan pecinan Jalan Gajah Mada dan sekitarnya.

DPRD Sidoarjo sebelumnya selalu ada unsur minoritas. Saat ini ada Mas Wayan yang Hindu. Sebelumnya lagi ada Mas David yang Kristen. Dulu di era Orde Baru selalu ada anggota dewan non-Islam dari Fraksi ABRI atau TNI/Polri.

Dengan sistem nomor urut, dulu ada satu dua caleg Golkar dari kalangan minoritas yang bisa katut. Masa itu sudah lama berlalu. Sistem pemilu berubah total sehingga caleg minoritas sulit mendapat suara yang cukup. Hanya untuk sisa suara saja pun susah.

"Sistem pemilu sekarang sangat berat dan mengerikan. Logistiknya harus kuat, punya jaringan, dan sosialisasi panjang. Tidak bisa instan," kata Mas David, mantan anggota DPRD Sidoarjo, yang dulu ketua Partai Damai Sejahtera alias PDS.

PDS sudah lama buyar. Caleg-caleg kristiani di Sidoarjo pada pemilu legislatif lalu bukannya tidak ada, tapi justru terlalu banyak. Popularitas dan bobot mereka pun kurang. Cenderung bondo nekat dan tak punya strategi kampanye yang baik.

Karena itu, habislah semuanya! Mas Wayan juga hilang. David yang punya pengalaman sudah lama tidak berurusan dengan politik karena "saya sudah bertobat".

"Biarlah teman-teman lain saja yang maju. Saya fokus di bisnis," kata Mas David yang tinggal di kawasan Candi.

Sebetulnya di era yang makin terbuka dan bebas ini pemilih justru lebih cair. Latar belakang agama memang penting tapi bukan faktor paling menentukan. Apa pun agamanya, kalau punya rekam jejak yang panjang, rajin menebar kebajikan (tak hanya menjelang pencoblosan), pasti punya peluang.

Inilah yang dibuktikan dr Benjamin Kristianto, caleg terpilih DPRD Jawa Timur, dari dapil Sidoarjo-Surabaya. Perolehan suaranya di Kabupaten Sidoarjo sangat fantasis.

"Bahkan di Kecamatan Gedangan saja saya dapat 7000 lebih. Benar-benar di luar dugaan saya," kata dr Benjamin kepada saya.

Apa rahasianya? "Mau tahu rahasia saya? Sederhana saja. Siapa yang banyak menuai dia akan menabur. Itu yang saya lakukan," kata dokter yang punya klinik di kawasan Juanda ini.

Dokter Benjamin selama 22 tahun mengadakan bakti sosial kesehatan, membebaskan biaya pengobatan untuk pasien kurang mampu. Maka, tidak heran warga Sidoarjo, khususnya Kecamatan Gedangan, Sedati, Waru, bahkan Surabaya sangat mengenal dokter yang ceplas-ceplos itu.

Benjamin mengaku rajin menabur baksos bukan untuk maju caleg. Dia bahkan tak pernah terpikir untuk mencalonkan diri sebagai anggota DPRD Jatim. Bahkan berpikir untuk terjun ke politik saja tidak. Hingga suatu ketika Gerindra mengajaknya untuk berpartisipasi dalam politik praktis.

"Ternyata apa yang saya lakukan selama 22 tahun di Kabupaten Sidoarjo itu diingat masyarakat. Saya tidak banyak kampanye tapi warga mempercayakan suaranya kepada saya," kata dr Benyamin.

Pengalaman dr Benjamin kiranya bisa menjadi cermin bagi politisi-politisi minoritas di Kabupaten Sidoarjo. Bahwa hukum tabur tuai itu berlaku dalam segala aspek kehidupan ini.
Kalau tak pernah menabur kebaikan untuk masyarakat, anda mau menuai apa?

Last but not least, kita yang minoritas di Kabupaten Sidoarjo hanya bisa menitip aspirasi kepada 50 caleg terpilih. Setelah dilantik jadi anggota DPRD Sidoarjo, anda tidak lagi menjadi wakil partai, golongan, mayoritas minoritas, melainkan wakil seluruh rakyat Sidoarjo. Itu saja.

No comments:

Post a Comment