26 May 2014

Cak Ipul berteman dengan burung liar

Mengapa burung-burung liar tidak bisa berteman dengan orang Indonesia? Tak ada burung yang mau bercengkerama dengan manusia? Sulit mengundang burung-burung liar masuk kampung atau kota?

Banyak alasannya. Pemkot Surabaya dan Pemkab Sidoarjo yang getol bikin penghijauan menganggap burun-burung liar itu gandrung pohon-pohon tertentu. Pohon-pohon penghijauan yang ada selama ini dianggap kurang mampu menarik burung. Bunga dan buahnya tidak disukai burung liar.

Maka, Pemkab Sidoarjo melakukan semacam kajian khusus untuk menemukan pohon-pohon penghijauan yang mampu menarik ribuan burung ke kota. Kalau cuma pohon-pohonnya rindang, hijau, tapi tanpa burung, kurang afdal. Itu yang ditekankan Pak Sutjipto, wakil bupati Sidoarjo, selama ini.

Bisa jadi asumsi Pak Tjip ini benar. Tapi bisa jadi burung-burung di Indonesia trauma berat dengan kebiasaan orang kita yang suka menembaki burung. Sejak kecil kita sudah terbiasa main ketapel. Dan burung-burung jadi sasaran tembak. Siapa yang paling banyak menembak burung, dialah pemenangnya.

Itulah yang mendorong Syaiful Munir alias Cak Ipul mencoba berteman dengan burung. Caranya sederhana tapi makan waktu lama. Dia tanami lahan gersang nan keras di Desa Buncitan, Sedati, tak jauh dari Bandara Internasional dengan tanaman klampis dan waru. Dua jenis pohon itu rupanya bisa bertahan hidup di tanah bergaram. Buncitan memang kawasan tambak, dekat laut.

Sekitar 10 tahun kemudian klampisnya tumbuh besar. Tanaman waru masih sedangan. Alhamdulillah, pohon klampisnya sudah jadi jujukan burung gelatik yang mungil itu. Burung-burung itu bikin sarang di atas dahan klampis.

Ramai sekali cericit burung-burung liar itu. Ketika tidur-tidur di bawah pohon klampis itu akhir pekan lalu, saya menjumpai keasyikan gelatik-gelatik liar yang jinak. Beda dengan burung-burung peliharaan yang tinggal di sangkar buatan.

"Saya barusan beli makanan burung," kata Cak Ipul sembari menunjukkan satu kresek pakan burung.

Pakan burung buatan pabrik itu kemudian digantung di dahan klampis. Gelatik-gelatik itu bisa makan kapan saja. "Mengajak burung jadi teman itu gampang-gampang susah. Soalnya masih banyak orang Indonesia yang hobinya menembaki burung. Lha, membunuh burung, sesama makhluk Tuhan, kok malah jadi hobi," katanya.

Kerja sederhana Cak Ipul ini perlu dukungan semua pihak di Sidoarjo dan Surabaya. Tidak mungkin burung-burung itu mau main-main di jalan, bercengkrama dengan manusia Indonesia, bila menembaki burung masih jadi hobi sebagian orang Indonesia. Tak hanya burung, hobi menembak binatang apa pun perlu ditinjau kembali. Kecuali membasmi hama seperti tikus di sawah.

5 comments:

  1. salam utk mas syaiful. daerah buncitan itu memang tanahnya keras tapi mulai kelihatan tanaman2nya.

    ReplyDelete
  2. Jenis pohon apa yang disukai oleh burung2 liar, tentang itu saya kurang paham. Tahun 1960 jenis pohon yang ada dipinggir jalanan di lingkungan Ketabang Surabaya adalah pohon2 Kenari yang tinggi. Dikala senja berbagai macam burung2 liar, bergerombol hinggap beristirahat di-pohon2 itu. Ada betet, manyar, macam2 burung pipit, emprit biasa, emprit peking dan emprit kaji.
    Anehnya saya tidak pernah melihat burung gelatik liar di Surabaya kala itu, yang ada hanya burung gereja. Lain halnya dipulau Bali ditahun 50-an, banyak burung gelatik yang bersarang diatap Pura dan rumah2 belanda yang terbuat dari ijuk. Sejak zaman Orde Baru saya sudah tidak pernah lagi melihat burung gelatik liar dipulau Jawa dan Bali.
    Tahun 1997 saya bisa melihat burung gelatik liar lagi dikota Tentena sekitar Danau Poso.
    Tahun 2000 saya pindah ke Tiongkok, ketika itu orang2 di Indonesia sedang gandrung dengan burung2 import dari China yang namanya Hwa Mei, Poksay, San Ma,...dll. Saya sebaliknya di Tiongkok membeli burung gelatik, yang di Tiongkok diberi nama Huiwenniao, 灰文鸟, untuk pelipur rindu pada Bali dan Jawa. Konon gelatik dibawa oleh para tentaranya Kublai Khan dan Chengho kenegeri China.
    Karena tidak bisa membedakan jenis jantan dan betina, saya sembarangan membeli 8 ekor, termasuk sepasang yang berwarna putih dan matanya merah, burung gelatik albino.
    Seekor gelatik di China kala itu harganya 80 Yuan, sedangkan seekor ayam jago atau babon yang gemuk harganya cuma 26 Yuan. Saya buatkan kandang yang besar, makanannya, gabah, jewawut, ulat tepung, batok cumi2, sayur mayur,buah2-an, tanah dan pasir. Kecuali air minum, harus diberi tempat untuk mandi, sebab gelatik memang habitat aslinya dari pulau Jawa, ben dino mesti adus koyo wong jowo.
    Gelatik2 itu saya beri gelang spesial burung dari plastik warna warni, beli di Frankfurt, supaya bisa membedakan generasi pertama sampai anak, cucu mereka. Burung2 itu berkembang biak cepat sekali. Yang jantan bisa berkicau, sedangkan yang betina cuma binyi tik..tik..
    Burung2 itu kecuali Hobby, juga disumbang kepada teman2 untuk Fang Sheng ke klenteng.
    Bung Hurek, bolehkah menanam pohon dilahan kosong ? Setahu saya setiap jengkal tanah di Jawa sudah ada pemiliknya yang bersertifikat.
    Di Tiongkok semua lahan milik negara, rakyat hanya diberi sertifikat Hak Pakai selama 70 tahun. Kalau pemerintah tidak membutuhkan tanah tersebut, bisa diwariskan atau dijual-belikan, selama ada sertifikatnya. Kalau pemerintah butuh, ya disita, diganti rugi, punya rumah mewah pun diratakan sama tanah. Lahan2 negara inilah sering disalahgunakan, dijadikan sumber korupsi oleh para pejabat tinggi yang bermental bejat. Kepala Partei dikota saya, yang kebal hukum di era Jiang Zheming dan Hu Jintao, sekarang dipenjara oleh Xi Jinping, karena dia main jual-beli lahan dan istrinya juga ikut main jual-beli jabatan. Mereka hanya punya satu anak perempuan. Si anak malu kerena di-olok2 oleh seluruh penduduk dan teman2-nya, achirnya bunuh diri, meloncat dari apartement tinggi. Si ibu jadi gila sungguhan, masuk rumah sakit jiwa. Si bapak dipenjara menunggu waktunya didor. Menyesal kemudian tak ada gunanya. Ketika ayah dan ibu jadi raja dan ratu, kok tidak malu jadi princess.

    ReplyDelete
    Replies
    1. nanam di lahan kosong bagus lah. tapi nanam apa dulu? eman2 kalo tanamannya sudah besar dan tanahnya laku. ditebang habis.
      saya juga suka nanam. tapi cuman tanaman2 hias yg banyak daunnya aja. musim kemarau kudu rajin2 nyiram biar gak mati. anggap aja olahraga.

      aha... kalau mainan burung2 memang rame banget di jatim. burung kicauan mahal banget. sepeda motor bisa kalah. makanya maling burung tambah buanyaaak. khususnya burung cinta.. love bird itu.

      piara burung atawa hewan itu hobi yg baek. tapi bikin orang sangat terikat kerna saben hari kudu kasih makan itu binatang.

      saya trauma kerna dulu waktu SD piara burung dan mati di sangkar. kelupaan kasih makan.

      maka saya ikut ajaran bung karno: burung2 atawa hewan itu sebaiknya dilepas aja di alam liar. biarkan dia bebas cari makan dan minum, pacaran kawin dsb.

      makanya saya kurang suka lihat orang2 yg suka tidur sama anjing kucing ular dsb.

      makanya kita orang seneng dengen itu ajaran dan praktek fang sheng ala buddhis.

      tempo doeloe ada lagu :

      wahai kau burung dalam sangkar
      sungguh nasibmu malang benar...

      Delete
  3. Burung Made in China. Suatu hari saya dan istri belanja ke pasar. Di tengah jalan saya lihat seorang encek penjual burung dengan pikulan. Istri saya bilang, lihat burungnya cantik2, tukuen. Harganya cukup mahal, tetapi warna bulunya sedemikian bagus, warna warni. Achirnya saya beli seekor. Sampai dirumah saya kasih makan dan air minum. Heran kok burung itu tidak mau makan, tetapi mandi terus menerus. Setelah habis mandi, ternyata bulunya hitam, dan air mandinya jadi butek. Kok utek China itu lihay nya, jika dipakai untuk menipu. Kok telaten tenan menggambar bulu burung sedemikian indah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. haiya hahaha.. itu otak dagang wong tenglang yang primitif. kalo di sidoarjo biasanya dikepruk dulu sampe nyonyor... kemudian dibawa ke kantor polisi. dijamin kapok.

      Delete