15 May 2014

Baru tahu kalau JEMBER artinya KOTOR



Orang Surabaya itu lebih banyak berbahasa Jawa pasaran (ngaka). Karena itu, kita yang datang dari luar Jawa pasti sulit menguasai bahasa Jawa standar, yang baik dan benar, meskipun sudah tinggal di Surabaya atau Malang selama 10 tahun, 20 tahun, bahkan 30 tahun. Paman saya di Malang tidak  bisa berbahasa Jawa dengan fasih meskipun sudah berkeluarga di kota lama, kawasan pecinan Kota Lama, sejak awal 1970-an.

Orang Surabaya sangat sulit, bahkan nyaris mustahil, menguasai ragam bahasa Jawa halus alias krama inggil. Khususnya mereka-mereka yang lahir di atas tahun 1980. Yang lahir di atas tahun 1990 lebih susah lagi karena sejak bayi justru diajari bahasa Indonesia. Bahasa ibu anak-anak kecil di Surabaya bukan lagi bahasa Jawa, melainkan bahasa Indonesia ragam informal.

Bahasa Jawa dianggap gampang sehingga bisa dipelajari anak-anak di luar rumah. Ketika bermain dengan anak-anak sebaya. Tapi, karena semua orang tua modern, berpikir begitu, ya, di luar rumah pun anak-anak Surabaya, Sidoarjo, Malang berbicara dalam bahasa Indonesia. Ada bumbu bahasa Jawa tapi tidak banyak. Itu pun kelas ngaka, khas Suroboyoan.

Saya sendiri sudah lama punya kebiasaan membaca Alkitab atau Bibel berbahasa Jawa versi PADINTENAN. Semacam Good News Bible atau Alkitab BIS (Bahasa Indonesia Sehari-hari). Versi ini lebih sederhana, kalimat-kalimatnya pendek. Ini seperti pepatah sambil menyelam minum air. Sambil baca kitab suci, kita sekaligus belajar bahasa Jawa ragam tulisan. Bagaimana Yesus bicara dalam ngaka, sementara murid-murid menjawab dalam krama inggil kelas tinggi.

Alkitab Padintenan sekalipun tetap mengandung bahasa Jawa tinggi (halus) yang sulit ditemukan di Surabaya. Contoh: Matius 15:10-20 perikop berjudul SING MARAKAKE WONG DADI JEMBER. Kok ada kata JEMBER? Artinya apa?

Orang Kristen yang sudah membaca Alkitab bahasa Indonesia selama bertahun-tahun pasti langsung mengaitkan perikop ini dengan masalah kenajisan. Apa yang membuat orang menjadi najis. Maka, saya langsung mengaitkan kata JEMBER itu dengan NAJIS atau kotor. Dan sudah pasti benar karena konteks pengajaran Yesus dalam perikop ini memang demikian.

Gusti Yésus nuli ndhawuhi wong-wong padha nyedhak, banjur dipangandikani mengkéné: 

“Padha rungokna lan padha lebokna ing atimu! Sing marakaké wong dadi JEMBER, kuwi dudu apa sing mlebu ing cangkem, nanging apa sing metu ing cangkem.”

Saya pun tersenyum sendiri 'menemukan' kosakata baru: JEMBER. Saya langsung ingat Kota Jember. Meski cukup lama tinggal di Jember, saya tidak pernah tahu (dan tak pernah diberi tahu) bahwa dalam bahasa Jawa JEMBER juga punya arti KOTOR. Di Surabaya pun orang tak pernah menggunakan kata JEMBER untuk kotor. Kotor ya kotor atau RUSUH.

Minggu lalu saya sengaja ngetes sekitar 10 orang di Surabaya yang sehari-hari berbahasa Jawa Suroboyoan. Bukan orang Tionghoa atau warga keturunan Madura yang penguasaan bahasa Jawanya pasti kurang. Usia responden saya ini 20 sampai 50 tahun.

Saya bertanya, "JEMBER itu dalam bahasa Jawa artinya apa?"

"Jember itu ya Kota Jember. Nggak ada kata bahasa Jawa Jember. Mungkin JEMBAR, artinya luas," kata si A.

Saya berusaha memodifikasi kalimat dengan konteks cerita pengajaran Yesus Kristus dalam Alkitab bahasa Jawa yang saya baca itu. Saya buat sehalus mungkin agar responden tidak tahu kalau yang saya tanyakan itu vocabulary kitab sucinya wong kristiani. Poinnya saya hanya ingin tahu dari orang Surabaya (baik asli maupun pendatang) tentang arti kata JEMBER.

Hasilnya? 100 persen tidak tahu kalau JEMBER ada kaitan dengan kotor atau najis.

Beberapa hari kemudian saya mampir di warung kopi. Menyimak obrolan orang-orang tua dalam bahasa Jawa halus. Begitu ada kesempatan, saya ikut nimbrung. Lalu pelan-pelan saya susupi pertanyaan: kata JEMBER itu artinya apa?

"Oh, JEMBER itu artinya kotor, rusuh, nggak bersih," ujar seorang eyang 70-an tahun.

Hehehe....

Akhirnya, saya mendapat konfirmasi kata JEMBER dari kakek sepuh yang sederhana itu. Masih di Surabaya juga. Dari sini saya berkesimpulan bahwa sesungguhnya JEMBER itu kata bahasa Jawa yang tidak produktif di Surabaya dan sekitarnya. Memang bahasa Jawa tulen, tapi sangat jarang dipakai. Hanya para lansia saja yang masih nyambung.

Tak hanya JEMBER. Banyak lagi kata-kata bahasa Jawa yang sangat jarang dipakai oleh penutur bahasa Jawa masa kini. Tanyakan saja arti kata WADON atau KENYA pada orang Surabaya yang lahir di atas 1985. Saya jamin tidak ada yang tahu.

Itu pula yang terjadi dengan bahasa Indonesia. Kata KAKUS sudah lama tergusur oleh toilet atau WC. Dua puluh tahun ke depan orang Indonesia akan terbengong-bengong membaca buku cerita lama. KAKUS itu apa sih? PERIGI itu apa?

6 comments:

  1. Penggemar Bahasa12:53 PM, May 15, 2014

    Kata "kakus" itu sendiri asalnya dari bahasa Belanda kasar "kak huis" alias rumah tahi. Rupanya juga digunakan di South Africa di mana orang2 kulit putih di sana keturunan Belanda (Boer). Kata kakus sendiri tidak akan hilang selama program kebersihan dengan nama MCK (mandi cuci kakus) masih berjalan.

    ReplyDelete
  2. Betul banget Mas, program MCK (mandi cucui kakus) masih ada.

    Tapi kata KAKUS sendiri sudah lama tidak digunakan sehari-hari di masyarakat Jawa. Beda dengan Flores Timur, daerah saya, KAKUS ini sudah sejak dulu sudah dianggap bahasa daerah. Ketika kita pakai KAKUS untuk bahasa Indonesia, di Jawa, orang merasa heran, aneh, geli, karena tidak lazim. Biasanya orang mengganti kakus dengan toilet atau kamar kecil. Kalau di pasar-pasar tradisional atau terminal, ada istilah PONTEN.

    Terima kasih atas tanggapan Mas Penggemar Bahasa.

    ReplyDelete
    Replies
    1. kalau mau betul2 cari kata asli Indonesia, harusnya tempat buang air itu disebut JAMBAN atau TANDAS...

      kalo di Malaysia, TANDAS itu formal (contoh kalo kita liat papan2 di mall atau bandara), tapi kesehariannya orang biasa bilang JAMBAN...

      Delete
  3. "Unthuk" Itu Artinya Buih- Buih Di Sungai Lho, Jare Mbahku. Bhahasa Langka Itu

    ReplyDelete
  4. Klo unthuk memang lazim artinya buih klo orang surabaya bilang.. munthuk yg artinya berbuih

    ReplyDelete
  5. Jember dalam bahasa jawa artinya jembrek(kotor)

    ReplyDelete