31 May 2014

Tiga Petinggi Partai Islam Terjerat Korupsi

Indonesia ini negara yang sarat ironi. Selalu mengklaim paling religius, paling rajin beribadah, tapi korupsinya juga paling hebat. Khotbah-khotbah tentang kejujuran, amanah, amar makruf nahi munkar pun ibarat pepesan kosong.

Guyonan lama bahwa kementerian yang paling korup itu kementerian agama (kemenag) sudah lama terbukti. Kemenag yang tiap hari bicara agama, berisi orang-orang yang hafal kitab suci, ternyata doyan korupsi. Menteri Agama lama Pak Al Munawar sudah lama dipenjara karena korupsi.

Sekarang giliran Menag Suryadharma Ali yang disangka korupsi. Uang haji yang dikumpulan jutaan jamaah dan calon jamaah haji diemat. Oleh orang-orang yang sangat paham agama Islam. Dicolong oleh pejabat tinggi yang diamanatkan untuk jadi amirul haj alias pemimpin rombongan haji dari Indonesia.

Menteri Agama Suryadharma Ali ini juga ketua PPP. Partai politik berasal Islam yang getol bicara amar makruf nahi munkar. Kemungkaran itu ya termasuk korupsi atau mencuri uang rakyat. Tapi, namanya juga manusia, selalu ada khilaf dan lupa. Maka ketua partai islamis, yang mengklaim rumah besar umat Islam, pun harus berhadapan dengan KPK.

Sebelum pentolan PPP, kita masih ingat Presiden PKS Lutfi Hasan Ishaq pun terjerat kasus korupsi sapi impor. PKS ini juga paling doyan bicara amar makruf nahi munkar. Sang presidennya tentu sangat fasih di bidang agama Islam. Kemampuan bahasa Arabnya sulit dibedakan dari orang Mesir atau Palestina.

Tapi begitulah yang terjadi kemarin. Presiden partai yang punya slogan "peduli dan bersih" itu ternyata ya tidak bersih. Manusia memang tempatnya salah dan lupa. Dan sekarang Pak Lutfi harus tinggal di hotel prodeo.

Satu lagi pentolan partai islamis yang kena virus korupsi adalah Malam Sambat Kaban. Dia ketua PBB. Partai yang juga sangat keras kalau bicara soal syariah, islamisasi negara, dan sebagainya. Tapi ya begitulah kenyataan yang dihadapi Pak Kaban. Dia kesandung kasus korupsi ketika masih menjabat menteri kehutanan.

Tidak ada yang senang dengan kasus korupsi yang melibatkan pejabat tinggi di negara kita. Baik itu partai islamis, partai nasionalis, politisi atau pengusaha yang beragama apa pun. Sebab korupsi itu sama saja: sangat merusak negeri ini. Negara bisa hancur kalau pejabat-pejabatnya doyan korupsi, menganggap korupsi sebagai mainan biasa.

Lebih fatal lagi, korupsi sudah merambah ke kementerian agama dan partai islamis yang justru diharapkan jadi pejuang amar makruf nahi munkar. Korupsi di kementerian agama yang masif, kronis, sistematis, dan mungkin massal bisa membuat masyarakat kehilangan respek pada kementerian agama. Bicara antikorupsi, amar makruf nahi munkar, tapi lembaganya justru gagal membersihkan diri dari penyakit lama itu.

Korupsi yang dilakukan petinggi partai-partai Islam (di Indonesia ada 3: PKS, PPP, dan PBB) jelas merusak kepercayaan masyarakat. Jadi bahan guyonan ala ludruk di Surabaya. Ini juga makin menguatkan tesis Muchtar Lubis tentang 6 ciri khas manusia Indonesia.

Dan ciri khas nomor satu adalah MUNAFIK. Kita, bangsa Indonesia, selalu merasa paling suci, paling dekat Tuhan, paling rajin beribadah, tapi perbuatan kita justru bertentangan dengan ajaran agama. Suka ceramah muluk-muluk tentang amar makruf nahi munkar tapi ya... iku mau!

Karena itu, ketika membaca berita tentang kampanye hitam terhadap Jokowi, serangan yang mempertanyakan keislamannya, kemampuannya beribadah, rakyat Indonesia, yang waras, hanya bisa ketawa-ketawa di warung kopi. Langsung ingat menteri agama + pentolan partai-partai agama yang berurusan dengan KPK karena korupsi.

Pak Jusuf Kalla sempat guyon di televisi. "Bagaimana kalau diadakan pertandingan mengaji antarcapres?" katanya. Rupanya Pak JK yakin Jokowi akan menang dalam lomba ngaji melawan Prabowo.

Hehehe.... Tidak perlu lomba ngaji antarcapres Pak! Tidak perlu tes bahasa Arab untuk calon presiden. Siapa yang jamin juara mengaji, yang hafal Alquran, bersih dari korupsi? Dan tidak akan korupsi saat menjabat?

1 comment:

  1. Bravo Bung Hurek, tulisan yang pedas tapi jujur
    tentang Kemunafikan bangsa kita. Hal2 itulah yang selalu saya dengar 50 tahun silam, jika ngobrol dengan Joseph, si Flores yang rambutnya keriting dan kulitnya hitam. Joseph dulunya anak Seminari Tinggi di Maumere, namun wurung jadi Pastor, karena dia mendapat beasiswa ke Praha untuk kuliah jurusan elektro-tehnik.
    Kalau saya dan Joseph bersama naik trem, orang2 bule disekitar kita pada melongo, sebab mereka heran melihat ada seorang negro dan seorang jepang yang sedemikian akrabnya cekikikan, terlebih heran lagi mereka, ketika mendengar kita berdua berbahasa indonesia yang mereka tak kenal. Kok ada orang jepang yang fasih berbahasa Afrika. Kita berdua juga sering ke Casino untuk berjudi Roulette. Suatu hari Joseph dan seorang teman indonesia pergi ke perusahaan medis untuk menjual Plasma ( darah ). Si Sekretaris membuat data, nama ? Joseph ! umur, alamat, dll. Kamu dari mana ? Dari Indonesia ! Oleh Sekretaris ditulis Tunesia. Bukan Tunesia, tetapi Indonesia,
    kata Joseph. Ya,ya, saya tahu kamu dari Tunesia di Afrika, kata si sekretaris. Bukan, sangkal si Joseph, saya dari Indonesia di Asia ! Ya,ya, saya juga tahu Tunesia itu di Afrika, kata si sekretaris. Achirnya Joseph bo-hwat dan pergi, tidak jadi jual Plasma, daripada pegel berurusan dengan manusia bodoh yang keminter. Yo wis, wurung ke Casino, bo lui.
    Lagu Indonesia yang sering kita nyanyikan berdua adalah Mimpi Sedih versi Tetty Kadi.
    Joseph temanku itu sering ber-angan2 untuk menjadi Presiden Republik Indonesia, dan kalau dia jadi Presiden, saya akan diangkat sebagai Menteri. Itu janji nya dia kepada ku.
    Tapi janji tinggal janji, jadi menteri hanya mimpi.

    ReplyDelete