01 May 2014

Agatha Retnosari: Berpolitik ala Ikan di Laut



"Terima kasih kepercayaan yang diberikan kepada saya. 33.379 suara, semoga saya bisa menjaga amanah ini."

Begitu kicauan Agatha Retnosari di akunnya: ‏@agatha_frogie.

Akhirnya, Agatha,  alumnus Teknik Lingkungan ITS Surabaya ini berhasil menembus kursi DPRD Jawa Timur. Agatha sejak pemilu 2009 sudah berjuang, tapi belum lolos. Kali ini pengurus DPD PDI Perjuangan ini lolos ke Jalan Indrapura bersama 11 caleg terpilih lainnya.

Wanita bernama lengkap AGATHA EKA PUSPITA RETNOSARI ini sosok aktivis sejati. Waktu mahasiswa ikut paduan suara (vokalnya bagus sih), aktif di mana-mana, bahkan sudah jadi simpatisan partai banteng gemuknya Megawati Soekarnoputri.

"Bapak saya memang Soekarnois. Beliau pengagum berat Bung Karno. Jadi, sejak kecil saya sudah dididik ayah tentang pentingnya nasionalisme," kata lulusan SMAN 5 Surabaya, sekolah elite yang melahirkan banyak politisi itu.

Kuliah pada 1990-an membuat mahasiswa saat itu, apalagi aktivis macam Agatha, dipaksa turun ke jalan. Demo membongkar tatanan Orde Baru yang dinilai tidak demokratis, otoriter, KKN (korupsi, kolusi, nepotisme). Suaranya yang bagus membuat Agatha sering menyanyi menghibur teman-temannya saat unjuk rasa.

"Saya memilih PDI Perjuangan karena cocok dengan ideologinya. PDI Perjuangan itu partai besar yang punya basis massa yang jelas dan loyal dengan semboyan sampai gepeng melok banteng. Partai ini tetap sederhana," katanya dalam sebuah seminar di lingkungan Gereja Katolik Surabaya beberapa waktu silam.

Setelah reformasi, Agatha ingin masuk ke dalam sistem untuk mewujudkan cita-cita Proklamasi yang tercantum dalam Pembukaan UUD 1945, katanya. Dengan menjadi wakil rakyat, dia ingin bersuara, membantu mengurangi kesenjangan ekonomi di Jawa Timur.

Bagaimana dengan pendapat banyak orang bahwa politik itu kotor? Khususnya umat Katolik di Jawa Timur yang kebanyakan tidak suka politik?

Wanita asli Surabaya ini menjawab: "Saya menggunakan perumpamaan ikan di lautan. Walaupun air laut itu asin, tapi ikan tidak ikut asin. Meskipun lingkungan kotor, kita tidak akan terpengaruh. Mengenai kekotoran dalam politik, tidak hanya ada di partai. Di kantor pun ada politik kantor. Sebab, pada dasarnya manusia adalah makhluk politik."

Sebagai perempuan politisi, ibu dua anak yang masih kecil, bagaimana Agatha membagi waktu dengan aktivitas partai dan parlemen nanti?

Agatha bilang perempuan karir itu bebannya dobel. "Puji Tuhan, suami saya mendukung dan memahami apa yang menjadi kesenangan istrinya. Ortu dan mertua juga bisa," katanya.

Okelah, Agatha, kita tunggu kiprah sampeyan sebagai anggota DPRD Jawa Timur periode 2014-2019.

No comments:

Post a Comment