31 May 2014

Lumpur Lapindo: SBY Gagal Tekan Bakrie

Semburan lumpur Lapindo di Porong, Sidoarjo, sudah berlangsung delapan tahun. Entah kapan berhenti. Ada pakar ITB yang bilang semburan akan berhenti 10 tahun lagi. Ada juga yang bilang 30 tahun lagi.

Bencana alamnya sendiri sebetulnya sudah dikendalikan sepenuhnya oleh BPLS. Begitu pula infrastruktur pengganti seperti jalan raya. Bahkan, saat ini menurut saya jalan raya Porong jauh lebih mulus dan lancar ketimbang sebelum ada lumpur 29 Mei 2006. Ini setelah dibangun bypass dari Tanggulangin ke Gempol.

Yang masih mengganjal itu cuma ganti rugi untuk korban lumpur di dalam peta area terdampak (PAT). Ribuan warga ini korban paling awal dan paling asli karena paling dekat pusat semburan.

Lapindo Brantas sebetulnya sudah membayar ganti rugi tapi belum lunas. Tinggal Rp 731 miliar. Lapindo beralasan tidak punya uang. Padahal, sesuai Perpres 14/2007, yang memang diminta Lapindo dan disetujui manajemen Lapindo, pembayaran ganti rugi seharusnya sudah selesai akhir 2012.

Artinya, sudah dua tahun Lapindo gagal memenuhi komitmennya kepada korban lumpur PAT ini. Sementara korban lumpur susulan, di luar PAT, sudah beres semua karena dibayar negara melalui APBN.

Mengapa korban lumpur jilid satu masih terkatung-katung? Sementara yang jilid 5 sudah selesai?

Untuk menyelesaikan persoalan lumpur di Sidoarjo ini, Presiden SBY mengeluarkan 5 peraturan presiden (perpres). Hanya perpres pertama yang membebankan ke Lapindo, sementara empat perpres lain langsung di-cover APBN.

Di sini kelihatan sekali kalau negara, khususnya SBY, tidak berdaya menghadapi Lapindo. Padahal, kewajiban perusahaan pertambangan ini tinggal sedikit. Kapan Lapindo punya uang? Tidak jelas. Bagaimana kalau sampai 10 tahun lagi Lapindo tidak mau bayar dengan alasan kesulitan finansial?

Tunggu sampai Aburizal Bakrie jadi menteri utama kabinet Prabowo? Dulu, ketika ARB jadi menteri pun kasus Lapindo ini tak ditangani secara tuntas.

Inilah kelemahan negara, khususnya Presiden SBY. Padahal SBY akan lengser pada 20 Oktober 2014. Korban lumpur sudah menggugat ke Mahkamah Konstitusi tapi hasilnya juga sama saja. MK malah meminta negara, SBY, mendesak Lapindo segera menyelesaikan kewajibannya.

MK rupanya tidak paham persoalan di lapangan. Tidak paham alasan mengapa korban lumpur jilid satu itu menggugat ke MK.

Masa jabatan Presiden SBY tinggal empat bulan lagi. Mudah-mudahan saja beliau mampu menuntaskan pembayaran ganti rugi sebelum lengser. Kalau tidak mampu ya serahkan saja ke Jokowi... kalau wong Solo ini terpilih sebagai presiden Republik Indonesia.

Tiga Petinggi Partai Islam Terjerat Korupsi

Indonesia ini negara yang sarat ironi. Selalu mengklaim paling religius, paling rajin beribadah, tapi korupsinya juga paling hebat. Khotbah-khotbah tentang kejujuran, amanah, amar makruf nahi munkar pun ibarat pepesan kosong.

Guyonan lama bahwa kementerian yang paling korup itu kementerian agama (kemenag) sudah lama terbukti. Kemenag yang tiap hari bicara agama, berisi orang-orang yang hafal kitab suci, ternyata doyan korupsi. Menteri Agama lama Pak Al Munawar sudah lama dipenjara karena korupsi.

Sekarang giliran Menag Suryadharma Ali yang disangka korupsi. Uang haji yang dikumpulan jutaan jamaah dan calon jamaah haji diemat. Oleh orang-orang yang sangat paham agama Islam. Dicolong oleh pejabat tinggi yang diamanatkan untuk jadi amirul haj alias pemimpin rombongan haji dari Indonesia.

Menteri Agama Suryadharma Ali ini juga ketua PPP. Partai politik berasal Islam yang getol bicara amar makruf nahi munkar. Kemungkaran itu ya termasuk korupsi atau mencuri uang rakyat. Tapi, namanya juga manusia, selalu ada khilaf dan lupa. Maka ketua partai islamis, yang mengklaim rumah besar umat Islam, pun harus berhadapan dengan KPK.

Sebelum pentolan PPP, kita masih ingat Presiden PKS Lutfi Hasan Ishaq pun terjerat kasus korupsi sapi impor. PKS ini juga paling doyan bicara amar makruf nahi munkar. Sang presidennya tentu sangat fasih di bidang agama Islam. Kemampuan bahasa Arabnya sulit dibedakan dari orang Mesir atau Palestina.

Tapi begitulah yang terjadi kemarin. Presiden partai yang punya slogan "peduli dan bersih" itu ternyata ya tidak bersih. Manusia memang tempatnya salah dan lupa. Dan sekarang Pak Lutfi harus tinggal di hotel prodeo.

Satu lagi pentolan partai islamis yang kena virus korupsi adalah Malam Sambat Kaban. Dia ketua PBB. Partai yang juga sangat keras kalau bicara soal syariah, islamisasi negara, dan sebagainya. Tapi ya begitulah kenyataan yang dihadapi Pak Kaban. Dia kesandung kasus korupsi ketika masih menjabat menteri kehutanan.

Tidak ada yang senang dengan kasus korupsi yang melibatkan pejabat tinggi di negara kita. Baik itu partai islamis, partai nasionalis, politisi atau pengusaha yang beragama apa pun. Sebab korupsi itu sama saja: sangat merusak negeri ini. Negara bisa hancur kalau pejabat-pejabatnya doyan korupsi, menganggap korupsi sebagai mainan biasa.

Lebih fatal lagi, korupsi sudah merambah ke kementerian agama dan partai islamis yang justru diharapkan jadi pejuang amar makruf nahi munkar. Korupsi di kementerian agama yang masif, kronis, sistematis, dan mungkin massal bisa membuat masyarakat kehilangan respek pada kementerian agama. Bicara antikorupsi, amar makruf nahi munkar, tapi lembaganya justru gagal membersihkan diri dari penyakit lama itu.

Korupsi yang dilakukan petinggi partai-partai Islam (di Indonesia ada 3: PKS, PPP, dan PBB) jelas merusak kepercayaan masyarakat. Jadi bahan guyonan ala ludruk di Surabaya. Ini juga makin menguatkan tesis Muchtar Lubis tentang 6 ciri khas manusia Indonesia.

Dan ciri khas nomor satu adalah MUNAFIK. Kita, bangsa Indonesia, selalu merasa paling suci, paling dekat Tuhan, paling rajin beribadah, tapi perbuatan kita justru bertentangan dengan ajaran agama. Suka ceramah muluk-muluk tentang amar makruf nahi munkar tapi ya... iku mau!

Karena itu, ketika membaca berita tentang kampanye hitam terhadap Jokowi, serangan yang mempertanyakan keislamannya, kemampuannya beribadah, rakyat Indonesia, yang waras, hanya bisa ketawa-ketawa di warung kopi. Langsung ingat menteri agama + pentolan partai-partai agama yang berurusan dengan KPK karena korupsi.

Pak Jusuf Kalla sempat guyon di televisi. "Bagaimana kalau diadakan pertandingan mengaji antarcapres?" katanya. Rupanya Pak JK yakin Jokowi akan menang dalam lomba ngaji melawan Prabowo.

Hehehe.... Tidak perlu lomba ngaji antarcapres Pak! Tidak perlu tes bahasa Arab untuk calon presiden. Siapa yang jamin juara mengaji, yang hafal Alquran, bersih dari korupsi? Dan tidak akan korupsi saat menjabat?

30 May 2014

Trotoar, Taman, PKL di Sidoarjo

Dinas Kebersihan dan Pertamanan Sidoarjo sedang gencar-gencarnya bikin taman. Taman kecil-kecil di pinggir jalan. Mulai di Bungurasih, Medaeng, Pepelegi yang dekat Juanda, dekat markas marinir Gedangan. Juga di dalam kota.

Taman-taman ini jelas membuat Sidoarjo kelihatan lebih cantik. Tanah-tanah kosong di bagian selatan seperti Tanggulangin dan Porong juga dibuat taman. Orang Sidoarjo yang merantau pasti akan pangling melihat Pasar Porong pinggir jalan raya itu sudah jadi taman yang besar dan indah. Begitu pula kantor kawedanan Porong baru dikemas jadi taman.

Gebrakan 'tamanisasi' ini sangat terasa saat DKP dipimpin Pak Bahrul Amig. Semangat Pak Amig yang mantan camat Taman untuk bikin taman memang luar biasa.

Yang sedikit mengganjal di hati saya cuma satu. Trotoar pun dijadikan taman. Lihat saja di Aloha, Pepelegi, pinggir Raya Waru yang dekat pasar tumpah itu. Pot-pot besar ditaruh di tengah trotoar. Tak ada lagi celah bagi orang yang ingin jalan kaki. Kalau mau jalan kaki ya harus lewat aspal. Dan itu berarti harus siap-siap menghadapi sepeda motor yang banyak itu.

Bukan hanya Sidoarjo, banyak kota di Indonesia yang sengaja mengabaikan trotoar. Kebiasaan jalan kaki juga makin sedikit. Trotoar kita beda jauh dengan di negara-negara maju yang memang digunakan secara luas. Di Indonesia, khususnya Sidoarjo, trotoar malah dipakai tempat berjualan PKL, pedagang kaki lima.

Berkali-kali diobrak, yang namanya PKL ini ibarat alang-alang di trotoar yang tak pernah mati. Hilang sebentar, kemudian muncul lagi dengan lebih subur. Nah, daripada diokupasi PKL, yang sebagian besar justru bukan warga Sidoarjo, ya lebih baik trotoar itu ditutup saja dengan taman.

Repotnya di kawasan Kedungrejo, dekat jalan layang Waru itu. Trotoar sudah ditutup dengan pot-pot besar, dengan tanaman yang juga gede, tapi PKL masih saja berjualan di situ. PKL-PKL tidak mau pindah ke pasar baru yang di dekat pabrik paku itu.

Kalau tidak diawasi tiap hari, bukan tidak mungkin tanaman-tanaman itu dirusak para PKL. Bahkan pot-potnya pun dienyahkan.

Kita di Indonesia memang masih seperti itu. Ingin menjadi negara maju, modern, tertib, tapi masyarakatnya sulit diajak tertib. Dibuatkan pasar, sentra PKL, pusat makanan, juga tidak dipakai. PKL tetap saja jualan di trotoar di pinggir jalan. Ketika petugas Satpol PP dan kepolisian melakukan obrakan, pemerintah kabupaten/kota dituduh tidak memperhatikan wong cilik.

Yah, di Indonesia, yang namanya wong cilik itu sering menggunakan kecilikannya untuk melanggar hukum. Budaya mentang-mentang itu terasa begitu kuat di kalangan wong cilik dan wong gede. Mentang-mentang tukang becak, bisa bebas menerobos lampu merah. Mentang-mentang naik motor, seenaknya menggunakan jalur mobil di kanan. Mentang-mentang PKL, bebas jualan di trotoar.

Usia Lanjut atau Lanjut Usia?

Di Surabaya ada Griya Usila milik kongregasi suster Santo Yosef di kawasan Sambikerep. Cukup banyak orang Flores yang melayani panti jompo ini. Suatu ketika saya tanya, "USILA itu apa?"

"USILA itu ya usia lanjut. Griya Usila memang menampung orang-orang usia lanjut," kata seorang suster.

Oh, usila itu usia lanjut.

Jarang sekali, bahkan saya hampir tidak pernah mendengar istilah USILA di Surabaya. Baik di koran, televisi, atau obrolan sehari-hari. Dulu ada akronim MANULA = manusia usia lanjut. Tapi istilah MANULA ini kurang disukai karena dianggap kasar.

"Jangan pakai manula. Sebaiknya pakai istilah orang sepuh atau lansia. Bisa juga warga senior. Atau orang tua. Manula itu gak enak didengar," kata Pak Sigit, manula, eh lansia keturunan Tionghoa yang peka bahasa.

Tak hanya Pak Sigit, beberapa tokoh lain pun kurang sreg dengan MANULA. Karena itu, media massa di Surabaya (hampir) tidak pernah menggunakan istilah manula. Kecuali reporter baru yang miskin pengalaman dan tidak sensitif.

Akronim LANSIA (lanjut usia) memang sudah berterima. Ada komunitas lansia, senam lansia, persekutuan doa lansia, band lansia. Bahkan, di Gereja Katolik ada misa khusus lansia yang rutin dilakukan sebulan sekali. Para lansia ini juga selalu antusias menceritakan kejayaan masa silam. Maklum, masa depannya sudah tidak ada lagi.

Lantas, mana yang benar: LANSIA atau USILA dari segi tata bahasa?

Kuncinya di hukum DM. Nomina atau noun-nya USIA yang diterangkan oleh LANJUT. Karena itu, mestinya USIA LANJUT dan bukan LANJUT USIA.

Yang paling sesuai dengan hukum DM adalah USILA, bukan LANSIA.

Tapi mengapa USILA malah tidak populer?

Begitulah yang namanya bahasa. Sering kali hal yang salah, tapi kaprah, yang dipakai. Karena dipakai terus-menerus oleh jutaan orang, tiap hari, maka dianggap benar. Sebaliknya, USILA yang benar malah dianggap aneh karena tidak pernah digunakan di Surabaya.

Makanya, saya salut sama suster-suster St Yusuf yang memberi nama Griya Usila meski tidak umum di Surabaya. Siapa tahu suatu ketika masyarakat ikut arus yang benar dengan memakai USILA dan mengesampingkan LANSIA.

Contohnya sudah ada. Dulu ada PADU : Pendidikan Anak Dini Usia. Fase DINI USIA dinilai kurang tepat karena melanggar hukum DM. Maka, istilah dini usia diganti USIA DINI. Lembaga pendidikan prasekolah itu akhirnya populer dengan singkatan PAUD: Pendidikan Anak Usia Dini.

Kalau dini usia bisa diganti usia dini, mengapa lanjut usia tidak bisa diganti usia lanjut? Bahasa memang bukan ilmu pasti yang punya rumus eksak. Tapi bahasa harus punya kaidah dan analogi yang bisa dijadikan patokan.

29 May 2014

Tanggal merah beruntun dalam sebulan

Bulan Mei 2014 ini tergolong istimewa. Kita mendapat anugerah berupa 4 tanggal merah, hari libur nasional. Tiga hari besar keagamaan (Waisak, Isra Mikraj, Kenaikan Yesus) dan hari buruh 1 Mei.

Kalau dulu biasanya tanggal merah di bulan Mei hanya satu, yakni hari kenaikan Yesus Kristus. Ini karena perayaan ini selalu jatuh pada hari Kamis, 40 hari sesudah hari raya Paskah. Sekarang ditambah libur nasional hari buruh setiap 1 Mei. Tanggal merah yang baru dimulai tahun 2014 berkat kebijakan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Kalau Waisak dan Isra Mikraj yang menggunakan penanggalan bulan biasanya berubah-ubah setiap tahun. Dus, tahun ini kebetulan sama-sama jatuh bulan Mei.

Makin banyak tanggal merah tentu makin bagus buat karyawan, PNS, dan pegawai-pegawai yang makan gaji bulanan. Mau libur tiga hari, empat hari, atau lima hari, bayarannya tetap sama. Karena itu, PNS-PNS biasanya paling senang dengan tanggal merah. Bila perlu hari kejepit Selasa dan Kamis ini diakali agar bisa libur tiga hari.

Masuk kerja Jumat sudah santai. Senam pagi, pakai kaos, kerja sejenak, kemudian salat Jumat. Besok Sabtu libur lagi. Minggu libur. Enak banget memang!

Yang repot dengan rentetan tanggal merah tentu orang yang tidak makan gaji tetap bulanan. Contohnya Bu Jum yang usaha warung nasi. Setiap tanggal merah dia juga libur karena langganannya mayoritas orang kantoran di Pucangsewu, Surabaya. Bisa saja dia buka warung tapi pasti rugi.

Tanggal merah pun tidak berlaku untuk wartawan harian di Surabaya. Kalau koran-koran Jakarta tidak terbit saat tanggal abang, koran-koran di Surabaya tetap terbit.

"Semua tanggal itu hitam atau biru. Tanggal merah itu hanya untuk PNS," kata seorang wartawan senior di Surabaya. Kerja kerja kerja!

Selain agar warga tetap bisa membaca koran, pelengkap sarapan, kebijakan terbit nonstop yang dipelopori Jawa Pos pimpinan Dahlan Iskan tempo doeloe ini sebenarnya bagus untuk loper, agen, dan penjual koran di jalanan. Mereka ini pekerja harian, bukan pegawai yang dapat gaji bulanan. Kalau tidak jualan koran, dia tidak dapat uang. Makin banyak koran yang dijual, makin banyaklah uang yang diperolehnya.

Kenyaman PNS dengan tanggal merah (tidak kerja pun tetap dibayar) inilah yang membuat orang Indonesia sangat gandrung jadi PNS. Kecuali orang Tionghoa yang sejak zaman leluhurnya sudah ditempa untuk kerja keras, ulet, hemat dan tak mengenal tanggal merah.

Salam tanggal merah!

26 May 2014

Cak Ipul berteman dengan burung liar

Mengapa burung-burung liar tidak bisa berteman dengan orang Indonesia? Tak ada burung yang mau bercengkerama dengan manusia? Sulit mengundang burung-burung liar masuk kampung atau kota?

Banyak alasannya. Pemkot Surabaya dan Pemkab Sidoarjo yang getol bikin penghijauan menganggap burun-burung liar itu gandrung pohon-pohon tertentu. Pohon-pohon penghijauan yang ada selama ini dianggap kurang mampu menarik burung. Bunga dan buahnya tidak disukai burung liar.

Maka, Pemkab Sidoarjo melakukan semacam kajian khusus untuk menemukan pohon-pohon penghijauan yang mampu menarik ribuan burung ke kota. Kalau cuma pohon-pohonnya rindang, hijau, tapi tanpa burung, kurang afdal. Itu yang ditekankan Pak Sutjipto, wakil bupati Sidoarjo, selama ini.

Bisa jadi asumsi Pak Tjip ini benar. Tapi bisa jadi burung-burung di Indonesia trauma berat dengan kebiasaan orang kita yang suka menembaki burung. Sejak kecil kita sudah terbiasa main ketapel. Dan burung-burung jadi sasaran tembak. Siapa yang paling banyak menembak burung, dialah pemenangnya.

Itulah yang mendorong Syaiful Munir alias Cak Ipul mencoba berteman dengan burung. Caranya sederhana tapi makan waktu lama. Dia tanami lahan gersang nan keras di Desa Buncitan, Sedati, tak jauh dari Bandara Internasional dengan tanaman klampis dan waru. Dua jenis pohon itu rupanya bisa bertahan hidup di tanah bergaram. Buncitan memang kawasan tambak, dekat laut.

Sekitar 10 tahun kemudian klampisnya tumbuh besar. Tanaman waru masih sedangan. Alhamdulillah, pohon klampisnya sudah jadi jujukan burung gelatik yang mungil itu. Burung-burung itu bikin sarang di atas dahan klampis.

Ramai sekali cericit burung-burung liar itu. Ketika tidur-tidur di bawah pohon klampis itu akhir pekan lalu, saya menjumpai keasyikan gelatik-gelatik liar yang jinak. Beda dengan burung-burung peliharaan yang tinggal di sangkar buatan.

"Saya barusan beli makanan burung," kata Cak Ipul sembari menunjukkan satu kresek pakan burung.

Pakan burung buatan pabrik itu kemudian digantung di dahan klampis. Gelatik-gelatik itu bisa makan kapan saja. "Mengajak burung jadi teman itu gampang-gampang susah. Soalnya masih banyak orang Indonesia yang hobinya menembaki burung. Lha, membunuh burung, sesama makhluk Tuhan, kok malah jadi hobi," katanya.

Kerja sederhana Cak Ipul ini perlu dukungan semua pihak di Sidoarjo dan Surabaya. Tidak mungkin burung-burung itu mau main-main di jalan, bercengkrama dengan manusia Indonesia, bila menembaki burung masih jadi hobi sebagian orang Indonesia. Tak hanya burung, hobi menembak binatang apa pun perlu ditinjau kembali. Kecuali membasmi hama seperti tikus di sawah.

Nana JP berhenti jadi wartawan

 Cukup lama saya tak berjumpa Nana Elisabeth. Juga tak melihat kodenya di Jawa Pos (JP). Ke mana gerangan nona Tionghoa yang lulusan sastra Jawa, yang bahasa krama inggilnya lebih bagus ketimbang wong Jawa asli itu?

Saya pikir si Nana dimutasi ke luar kota, misalnya Jakarta. Kangen juga sama wartawan satu ini yang biasa meliput bareng kegiatan komunitas Tionghoa di Surabaya. Paling sering acara marga Huang yang dipimpin Ibu Shinta Wibisono.

Terakhir kami ikut misa bersama di rumah Bu Shinta merayakan ulang tahun Spectrum Choir pimpinan Bu Shinta. Nana ini mantan aktivis paduan suara yang pintar nyanyi. Klop dengan posnya di seni budaya serta hiburan.

Akhirnya, kemarin tiba-tiba dapat SMS dari Nana JP (begitu namanya di HP saya). Saya sudah berhenti dari JP, tulisnya. Oh, pantas saja kalau kodenya hilang dari koran besar itu.

Mungkin karena dia menikah? Mungkin dilarang suaminya kerja sampai tengah malam? Nana bilang sudah nikah bulan Oktober 2013. Suaminya masih di Jogja, dia di Surabaya. Akhir tahun baru sang suami gabung di Surabaya.

"Saya mau selesaikan S2. Kalau tetap di JP ntar gak selesai-selesai," katanya.

Syukurlah kalau begitu. Sejak dulu Nana memang tipe wanita karir yang gandung ilmu + akademis. Dia ingin studi pascasarjana hingga doktoral atau S3. Dan itu akan sulit diwujudkan kalau tiap hari sibuk wira-wiri cari berita, kejar narasumber, dan urusan ini itu.

Saya hanya bisa berdoa agar Nana segera selesai S2-nya plus menuntaskan S3 pula. Mumpung masih antusias mengejar ilmu... dan gelar. Kalau sudah kadung kecanduan kerja, cari duit, biasanya orang lupa menambah gelar akademiknya.

Buat apa S2, S3, atau profesor kalau toh ujung-ujungnya cari duit juga? Begitu pikiran kebanyakan orang Indonesia. Syukulah, Nana termasuk orang Indonesia yang tidak masuk kategori kebanyakan. Semangat kuliah, menekuni dunia akademik, sangat tinggi.

Sejak awal melihat Nana, saya langsung teringat Ika, juga mantan wartawan Jawa Pos. Si Ika ini paling fasih bahasa Inggris, dibandingkan wartawan-wartawan lain di Surabaya waktu itu, dan punya kegandrungan akademik.

Benar saja. Tak berapa lama kemudian Ika 'menghilang' dari media. Tahu-tahu saya mendengar kabar bahwa Ika sudah jadi dosen bahasa Inggris di Universitas Airlangga Surabaya. Tak ada lagi acara menonton dan meliput konser malam-malam bersama Ika.

Yah, saya hanya bisa berdoa semoga Nana dan Ika sukses di dunia akademik. Dunia yang mengejar kedalaman berpikir, meneliti, kajian-kajian, dan transfer ilmu kepada mahasiswa. Dunia yang lebih tertib, birokratis, dengan waktu tidur yang lebih panjang.

23 May 2014

Namo Budaya di Pondok Jati Sidoarjo



Tepat Hari Waisak, 15 Mei 2014, saya mampir ke rumah Pak Nugroho di Pondok Jati X/8 Sidoarjo. Kebiasaan lama untuk memotret perayaan trisuci Waisak. Sekitar 100 umat Buddha berkumpul di rumah merangkap wihara keluarga itu.

Detik-detik Waisak sebetulnya sudah berlangsung dinihari. Tapi Pak Nugroho (Romo Pandita Nugroho Notodiputera) memutuskan kebaktian Waisak di Sidoarjo dimulai jam 9 pagi. Soalnya banyak anak-anak dan umat lansia macam Tante Tok yang terkenal dengan kue keranjang dan bacang yang enak itu.

Semua umat Buddha di Sidoarjo pakaian pakaian putih. Yang tidak pakai baju putih dipastikan bukan buddhis. Seperti dua anak muda yang memang wartawan Arek TV. Saya pun pakai batik biru sehingga kelihatan sekali kalau bukan jemaat. Saya lupa kalau Waisak itu identik dengan baju putih.

Setelah puji-pujian dan membaca mantra, sampailah pada acara meditasi bersama. Ritual khas buddhis yang juga banyak dipraktikkan agama-agama lain. Yang menarik bagi saya adalah posisi tubuh, khususnya dua kaki umat Buddha, yang enak saja membentuk teratai.

Dua kaki mereka begitu lemas, bisa dilipat untuk posisi apa saja. Saya coba melipat kaki tapi gagal. Perlu latihan dan ketekunan, kata Tante Tok.

Yang selalu ditanyakan orang di Sidoarjo: mengapa umat Buddha beribadah di rumah Pak Nugroho? Mengapa tidak ada wihara alias vihara? Mengapa rumah kok dijadikan wihara? Mengapa tidak bikin wihara saja? Atau menyewa ruko seperti yang dilakukan banyak gereja aliran karismatik dan pentakosta?

Pak Nugroho sih tenang saja. Dan selalu senyum. Tokoh barongsai dan basket Sidoarjo ini mengatakan, sampai saat ini belum ada wihara di Kabupaten Sidoarjo. Yang ada itu dua kelenteng di dalam kota Sidoarjo dan Krian. Kelenteng Tridharma, kata Pak Nugroho, memang sedikit banyak ada pertautan dengan Buddha. Tapi kelenteng bukan wihara.

"Jadi, umat Buddha tidak bisa beribadah di kelenteng. Sebaliknya, umat kelenteng juga tidak bisa beribadah di wihara. Selama Orde Baru memang ada pengaburan makna, seakan-akan kelenteng itu sama dengan wihara," katanya.

Memang umat yang KTP-nya tertulis beragama Buddha cukup banyak di Kabupaten Sidoarjo. Tapi Buddha-nya Buddha kelenteng, bukan Buddha wihara. Karena itu, biasanya umat Buddha yang bukan Tridharma pergi ke Surabaya, Malang, atau Mojokerto untuk sembahyang Waisak dan sebagainya. Atau diam di rumah saja.

Nah, sebagai rohaniwan dan guru agama Buddha di berbagai sekolah di Sidoarjo, Nugroho alias Njoo Tiong Hoo ini tergerak untuk menghadirkan wihara di kota petis ini. Pada 25 Febuari 2002 dia mengikhlaskan sebagian besar ruangan di rumahnya untuk wihara. Namanya Wihara Dharma Bhakti.

Setiap Minggu digelar sembahyang bersama disusul sekolah Minggu. Anak-anak sekolah yang tak mendapat pelajaran agama Buddha di sekolahnya mengikuti pelajaran agama di wihara ini. Pak Nugroho jadi pengajar dibantu para sukarelawan. "Anak-anak kita kasih kue, permen, dan lain-lain agar rajin ikut sekolah Minggu," katanya.

Ternyata wihara rumahan yang dirintis Nugroho 12 tahun lalu ini terus berkembang. Umat makin banyak. Ini membuat Pak Nugroho harus mengorbankan ruangan rumahnya untuk umatnya. Dia bersama istri dan anak-anaknya terpaksa menggunakan ruangan yang makin sempit.

Lalu, sampai kapan umat Buddha Sidoarjo uyel-uyelan di Pondok Jati? Kapan punya wihara yang resmi dan cukup luas?

Pak Nugroho kembali tersenyum. "Saya serahkan sama Tuhan. Kalau Sang Buddha menghendaki pasti ada jalan. Entah kapan," katanya.

Perayaan Hari Waisak tahun ini berlangsung sederhana. Tidak ada tenda di jalan. Pun tidak ada penyanyi dan organ tunggal. Cukup makan bersama hidangan yang disiapkan Bu Nugroho: nasi pecel, lodeh, tempe goreng, ayam goreng, tahu, dan menu vegetarian.

Matur nuwun Pak Nugroho sekeluarga. Namo Budaya! Selamat Waisakh!

20 May 2014

Unas dihapus, kompetisi pun hilang

Makin lama kelulusan siswa makin dipermudah. Semua siswa SMA, SMK, dan MA di Kabupaten Sidoarjo pada 20 Mei 2014 ini lulus. 100 persen. Kalau tahun lalu tiga siswa tidak lulus, tahun ini semuanya lulus.

Di Surabaya, 17 siswa SMAN 12 yang tepergok menyebarkan kunci jawaban ujian nasional (unas) pun lulus semua. Sebab mereka memenuhi kriteria kelulusan. Luar biasa!

Rupanya, sistem pendidikan Indonesia tidak lagi mengenal istilah tidak lulus. Seburuk apa pun nilai unas, ketahuan joki-jokian saat ujian, ya no problem. Ojo kuatir. Tetep lulus rek!

Lantas, apakah nilai unas para siswa SMA/SMK di Sidoarjo bagus-bagus semua? Oh, ternyata tidak. Sedikitnya 30 persen siswa SMK yang tidak lulus alias dapat angka merah. Sekitar 4000 orang.

Dus, kalau mau pakai disiplin keras ala Belanda dulu, 4000 siswa SMK ini seharusnya tidak lulus. Harus mengulang lagi di kelas tiga. Dan ikut ujian tahun depan. Siswa SMA dan MA yang unasnya jeblok pasti lebih banyak lagi.

Tapi begitulah Indonesia. Selalu ada kiat dan trik jitu untuk mengatrol nilai. Dibuat rumus-rumus sedemikian rupa agar siswa bisa lulus. Meskipun nilai unas (dulu ebtanas) hanya 33 atau 26. Sebab ada nilai sekolah ditambah ini itu dan ketemu nilai akhir.

Bagaimana kalau unas ini dirasa terlalu sulit dan bikin siswa SMA stes? Gampang. Hapuskan saja unas. Tak perlu ada lagi unas, ebtanas, dan semacamnya. Hanya jadi momok bagi siswa dan guru.

Itulah yang terjadi tahun ini di SD. Tidak ada lagi yang namanya ujian nasional untuk SD. Bahkan, minggu lalu, sebelum ujian sekolah (bahannya disusun provinsi, kabupaten, plus sedikit titipan soal dari pusat), sudah diumumkan bahwa semua siswa SD kelas 6 di seluruh Indonesia dinyatakan lulus.

Luar biasa! Semua siswa lulus sebelum ikut ujian.

Maka, iklim kompetisi atau lomba untuk jadi yang terbaik tidak ada lagi. Ketegangan mempersiapkan diri mengikuti ebatanas, agar NEM bagus ala anak sekolah zaman dulu, tidak ada lagi.

Konvoi di jalan, coret-coret baju seragam putih abu-abu, pun jadi gak asyik. Wong dipastikan semua lulus. Yang tidak lulus itu biasanya tidak datang saat unas karena sakit, hamil, dan sebagainya.

Saya tidak tahu apakah sistem pendidikan tanpa kompetisi, semua pasti lulus, ini baik atau tidak bagi bangsa ini. Saya cuma malas aja datang ke sekolah-sekolah untuk melihat dan memotret suasana unas atau ujian sekolah regional ala SD itu.

Setelah unas dihapus di SD, lama-lama ujian sekolah juga dihapus. Lama-lama tidak perlu ulangan atau evaluasi. Lama-lama tidak perlu rajin sekolah, rajin belajar, toh semua siswa dikasih ijazah.

17 May 2014

Koalisi ala pasar sapi

Sistem politik kita masih penuh eksperimen. Trial and error. Dan itu bikin kita, rakyat biasa, muak usai pemilu legislatif. Sampai sekarang partai-partai sibuk bermanuver untuk pemilihan presiden.

Capres Joko Widodo dari PDI Perjuangan, yang gembar-gembor koalisi tanpa syarat dan tanpa transaksi, pun kelihatan tak jelas juntrungannya. Sampai sekarang calon wakil presidennya belum diumumkan. Aneh!

Mestinya capres-cawapres sudah diumumkan jauh hari. Bukan menjelang tenggat pendaftaran ke KPU. Ini menunjukkan bahwa Jokowi, Megawati, Puan Maharani dan PDI Perjuangan bingung menentukan cawapres. Ujung-ujungnya politik dagang sapi dan transaksi dengan partai-partai koalisi.

Apa yang dilakukan Hanura, dengan mengumumkan pasangan Wiranto-Hary Tanoe sebagai capres-cawapres, layak diapresiasi. Bahwa Hanura kalah sehingga tidak bisa nyapres, itu soal lain. Tapi, yang paling penting, capres-cawapres, harus ditentukan jauh hari sebelum pemilu legislatif.

Syukurlah, lima tahun lagi sistem pilpres agak berbeda dengan sekarang. Pengajuan capres-cawapres tidak lagi berdasar perolehan suara minimal pileg. Semua partai yang ikut pileg berhak mengajukan capres-cawapes. Pilpres dan pileg diadakan pada hari yang sama.

Manuver politik yang centang perenang dalam dua minggu terakhir ini makin menjustifikasi putusan MK tentang pilpres. Sistem yang berlaku sekarang terbukti membuka ruang terlalu lebar untuk politik daging sapi.

Jokowi dan PDI Perjuangan seharusnya sudah lama menetapkan cawapres. Paling ideal pengumumannya satu paket dengan capres sebelum pileg. Apa boleh buat, kita, rakyat biasa, kembali diajak menonton ludruk politik pasar sapi ala elite-elite politik Indonesia.

Jangan lupa, seperti sudah sering saya bahas, biang kerok dari kekisruhan politik di Indonesia adalah terlalu banyak partai. Yang ikut pemilu 9 April 2014 lalu 12 partai. Dus, mustahil ada partai yang dapat 50 persen atau 40 persen. Bahkan tidak ada partai yang perolehan suaranya 25 persen agar bisa mengusung capres sendiri.

Suka tidak suka, mau tidak mau, jumlah partai harus dibatasi paling banyak LIMA biji. Kalau lebih dari 10 pasti merusak sistem presidensial. Kecuali kita kembali ke sistem pemilihan presiden oleh MPR seperti prareformasi.

15 May 2014

Baru tahu kalau JEMBER artinya KOTOR



Orang Surabaya itu lebih banyak berbahasa Jawa pasaran (ngaka). Karena itu, kita yang datang dari luar Jawa pasti sulit menguasai bahasa Jawa standar, yang baik dan benar, meskipun sudah tinggal di Surabaya atau Malang selama 10 tahun, 20 tahun, bahkan 30 tahun. Paman saya di Malang tidak  bisa berbahasa Jawa dengan fasih meskipun sudah berkeluarga di kota lama, kawasan pecinan Kota Lama, sejak awal 1970-an.

Orang Surabaya sangat sulit, bahkan nyaris mustahil, menguasai ragam bahasa Jawa halus alias krama inggil. Khususnya mereka-mereka yang lahir di atas tahun 1980. Yang lahir di atas tahun 1990 lebih susah lagi karena sejak bayi justru diajari bahasa Indonesia. Bahasa ibu anak-anak kecil di Surabaya bukan lagi bahasa Jawa, melainkan bahasa Indonesia ragam informal.

Bahasa Jawa dianggap gampang sehingga bisa dipelajari anak-anak di luar rumah. Ketika bermain dengan anak-anak sebaya. Tapi, karena semua orang tua modern, berpikir begitu, ya, di luar rumah pun anak-anak Surabaya, Sidoarjo, Malang berbicara dalam bahasa Indonesia. Ada bumbu bahasa Jawa tapi tidak banyak. Itu pun kelas ngaka, khas Suroboyoan.

Saya sendiri sudah lama punya kebiasaan membaca Alkitab atau Bibel berbahasa Jawa versi PADINTENAN. Semacam Good News Bible atau Alkitab BIS (Bahasa Indonesia Sehari-hari). Versi ini lebih sederhana, kalimat-kalimatnya pendek. Ini seperti pepatah sambil menyelam minum air. Sambil baca kitab suci, kita sekaligus belajar bahasa Jawa ragam tulisan. Bagaimana Yesus bicara dalam ngaka, sementara murid-murid menjawab dalam krama inggil kelas tinggi.

Alkitab Padintenan sekalipun tetap mengandung bahasa Jawa tinggi (halus) yang sulit ditemukan di Surabaya. Contoh: Matius 15:10-20 perikop berjudul SING MARAKAKE WONG DADI JEMBER. Kok ada kata JEMBER? Artinya apa?

Orang Kristen yang sudah membaca Alkitab bahasa Indonesia selama bertahun-tahun pasti langsung mengaitkan perikop ini dengan masalah kenajisan. Apa yang membuat orang menjadi najis. Maka, saya langsung mengaitkan kata JEMBER itu dengan NAJIS atau kotor. Dan sudah pasti benar karena konteks pengajaran Yesus dalam perikop ini memang demikian.

Gusti Yésus nuli ndhawuhi wong-wong padha nyedhak, banjur dipangandikani mengkéné: 

“Padha rungokna lan padha lebokna ing atimu! Sing marakaké wong dadi JEMBER, kuwi dudu apa sing mlebu ing cangkem, nanging apa sing metu ing cangkem.”

Saya pun tersenyum sendiri 'menemukan' kosakata baru: JEMBER. Saya langsung ingat Kota Jember. Meski cukup lama tinggal di Jember, saya tidak pernah tahu (dan tak pernah diberi tahu) bahwa dalam bahasa Jawa JEMBER juga punya arti KOTOR. Di Surabaya pun orang tak pernah menggunakan kata JEMBER untuk kotor. Kotor ya kotor atau RUSUH.

Minggu lalu saya sengaja ngetes sekitar 10 orang di Surabaya yang sehari-hari berbahasa Jawa Suroboyoan. Bukan orang Tionghoa atau warga keturunan Madura yang penguasaan bahasa Jawanya pasti kurang. Usia responden saya ini 20 sampai 50 tahun.

Saya bertanya, "JEMBER itu dalam bahasa Jawa artinya apa?"

"Jember itu ya Kota Jember. Nggak ada kata bahasa Jawa Jember. Mungkin JEMBAR, artinya luas," kata si A.

Saya berusaha memodifikasi kalimat dengan konteks cerita pengajaran Yesus Kristus dalam Alkitab bahasa Jawa yang saya baca itu. Saya buat sehalus mungkin agar responden tidak tahu kalau yang saya tanyakan itu vocabulary kitab sucinya wong kristiani. Poinnya saya hanya ingin tahu dari orang Surabaya (baik asli maupun pendatang) tentang arti kata JEMBER.

Hasilnya? 100 persen tidak tahu kalau JEMBER ada kaitan dengan kotor atau najis.

Beberapa hari kemudian saya mampir di warung kopi. Menyimak obrolan orang-orang tua dalam bahasa Jawa halus. Begitu ada kesempatan, saya ikut nimbrung. Lalu pelan-pelan saya susupi pertanyaan: kata JEMBER itu artinya apa?

"Oh, JEMBER itu artinya kotor, rusuh, nggak bersih," ujar seorang eyang 70-an tahun.

Hehehe....

Akhirnya, saya mendapat konfirmasi kata JEMBER dari kakek sepuh yang sederhana itu. Masih di Surabaya juga. Dari sini saya berkesimpulan bahwa sesungguhnya JEMBER itu kata bahasa Jawa yang tidak produktif di Surabaya dan sekitarnya. Memang bahasa Jawa tulen, tapi sangat jarang dipakai. Hanya para lansia saja yang masih nyambung.

Tak hanya JEMBER. Banyak lagi kata-kata bahasa Jawa yang sangat jarang dipakai oleh penutur bahasa Jawa masa kini. Tanyakan saja arti kata WADON atau KENYA pada orang Surabaya yang lahir di atas 1985. Saya jamin tidak ada yang tahu.

Itu pula yang terjadi dengan bahasa Indonesia. Kata KAKUS sudah lama tergusur oleh toilet atau WC. Dua puluh tahun ke depan orang Indonesia akan terbengong-bengong membaca buku cerita lama. KAKUS itu apa sih? PERIGI itu apa?

14 May 2014

Pasar sapi Krian rawan AIDS



Namanya pasar sapi atau pasar hewan. Tapi kompleks di dekat stasiun dan pasar baru Krian, Kabupaten Sidoarjo, itu lebih dikenal sebagai lokalisasi pelacuran kelas teri. Orang Sidoarjo biasanya senyam-senyum atau tertawa jika mendengar istilah 'pasar sapi'.

"Maksudnya pasar sapi yang mana? Pasar sapi Krian atau sapi opo?" Begitu biasanya komentar orang Sidoarjo, Jawa Timur. Makna pasar sapi itu sudah sangat konotatif. Gak enak didengar.

Jumlah sapi yang dijual di pasar sapi milik Pemkab Sidoarjo itu tidak banyak. Hanya sekitar 40 sampai 50 ekor saja. Menjelang Idul Adha baru banyak. Wedhus alias kambing pun tak banyak.

Yang ramai justru itu... 'sapi-sapi betina berkaki dua'. Begitu guyonan teman asal Krian. Yah, pekerja seks memang mangkal di pasar sapi ini. Ada pemilik gubuk yang menyediakan kamar untuk adegan begituan. Short time!

"Sapi-sapi tuwek kabeh. PSK-nya tua-tua, di atas 30 tahun," kata seorang pedagang.

Pekerja-pekerja seks ini sebetulnya bukan asli Krian, Balongbendo, Taman, atau Sidoarjo, tapi wanita-wanita luar kota lumpur. Entah sejak kapan kompleks pasar sapi dijadikan tempat mangkal PSK. Yang jelas, kata beberapa warga setempat, dari dulu sudah berkeliaran di dekat stasiun kereta api.

Asal tahu saja, kawasan sekitar stasiun kereta api memang sejak dulu sering dijadikan tempat mangkal WTS alias PSK alias wanita harapan. Ketika pasar sapi didirikan, perlahan-lahan PSK jalanan itu punya tempat mangkal. Karena memang ada warga yang hidupnya dari menyediakan kamar-kamar gedhek itu.

Razia dari Satpol PP, kepolisian, tentara, bahkan ormas sudah sering dilakukan. Tapi hasilnya kurang memuaskan. Obrakan bahkan lebih sering bocor karena rupanya ada oknum yang diam-diam ada main dengan orang-orang yang berkepentingan dengan bisnis esek-esek itu.

"Gawat banget karena PSK-PSK di Sidoarjo ini bergerak secara liar. Kompleks pasar sapi itu sangat rawan HIV/AIDS karena tidak ada kontrol," kata Mas Hartono, aktivis LSM peduli AIDS di Sidoarjo.

Berbeda dengan Kota Surabaya, Kabupaten Sidoarjo secara resmi tidak punya lokalisasi PSK baik yang resmi atau setengah resmi. Namun, kenyataannya ada lokalisasi ilegal seperti pasar sapi Krian yang praktik terang-terangan. Bahkan di siang bolong.

Kok aparat tutup mata? Cuma razia sekali-sekali saja menjelang bulan puasa. Atau suka-sukanya satpol PP kalau lagi senang operasi.

Mudah-mudahan Pemkab Sidoarjo segera tanggap. Apalagi sebentar lagi, 19 Juni 2014, Pemkab Surabaya menutup semua lokalisasi di Surabaya. Termasuk Gang Dolly dan Jarak yang terkenal itu. Bukan tidak mungkin PSK-PSK eks Surabaya semburat ke Krian. Bergabung dengan sapi-sapi beneran! @rek

Anggota DPRD Sidoarjo 100% Islam

KPU Sidoarjo kemarin menetapkan 50 caleg terpilih. Mereka akan duduk sebagai anggota DPRD Sidoarjo 2014-2015. Dari 12 partai peserta pemilu, hanya PKPI yang gagal mengirim wakilnya ke dewan. PPP dan PBB yang lama absen kini masing-masing meloloskan satu wakil.

Yang menarik, dari perspektif minoritas, wakil rakyat Sidoarjo kali ini tidak representatif. Sebab tidak ada caleg yang latar belakangnya kaum minoritas. Semua caleg terpilih beragama Islam. Tidak ada yang dari kalangan Tionghoa, etnis yang sejak ratusan tahun lalu menduduki posisi bisnis strategis di kawasan pecinan Jalan Gajah Mada dan sekitarnya.

DPRD Sidoarjo sebelumnya selalu ada unsur minoritas. Saat ini ada Mas Wayan yang Hindu. Sebelumnya lagi ada Mas David yang Kristen. Dulu di era Orde Baru selalu ada anggota dewan non-Islam dari Fraksi ABRI atau TNI/Polri.

Dengan sistem nomor urut, dulu ada satu dua caleg Golkar dari kalangan minoritas yang bisa katut. Masa itu sudah lama berlalu. Sistem pemilu berubah total sehingga caleg minoritas sulit mendapat suara yang cukup. Hanya untuk sisa suara saja pun susah.

"Sistem pemilu sekarang sangat berat dan mengerikan. Logistiknya harus kuat, punya jaringan, dan sosialisasi panjang. Tidak bisa instan," kata Mas David, mantan anggota DPRD Sidoarjo, yang dulu ketua Partai Damai Sejahtera alias PDS.

PDS sudah lama buyar. Caleg-caleg kristiani di Sidoarjo pada pemilu legislatif lalu bukannya tidak ada, tapi justru terlalu banyak. Popularitas dan bobot mereka pun kurang. Cenderung bondo nekat dan tak punya strategi kampanye yang baik.

Karena itu, habislah semuanya! Mas Wayan juga hilang. David yang punya pengalaman sudah lama tidak berurusan dengan politik karena "saya sudah bertobat".

"Biarlah teman-teman lain saja yang maju. Saya fokus di bisnis," kata Mas David yang tinggal di kawasan Candi.

Sebetulnya di era yang makin terbuka dan bebas ini pemilih justru lebih cair. Latar belakang agama memang penting tapi bukan faktor paling menentukan. Apa pun agamanya, kalau punya rekam jejak yang panjang, rajin menebar kebajikan (tak hanya menjelang pencoblosan), pasti punya peluang.

Inilah yang dibuktikan dr Benjamin Kristianto, caleg terpilih DPRD Jawa Timur, dari dapil Sidoarjo-Surabaya. Perolehan suaranya di Kabupaten Sidoarjo sangat fantasis.

"Bahkan di Kecamatan Gedangan saja saya dapat 7000 lebih. Benar-benar di luar dugaan saya," kata dr Benjamin kepada saya.

Apa rahasianya? "Mau tahu rahasia saya? Sederhana saja. Siapa yang banyak menuai dia akan menabur. Itu yang saya lakukan," kata dokter yang punya klinik di kawasan Juanda ini.

Dokter Benjamin selama 22 tahun mengadakan bakti sosial kesehatan, membebaskan biaya pengobatan untuk pasien kurang mampu. Maka, tidak heran warga Sidoarjo, khususnya Kecamatan Gedangan, Sedati, Waru, bahkan Surabaya sangat mengenal dokter yang ceplas-ceplos itu.

Benjamin mengaku rajin menabur baksos bukan untuk maju caleg. Dia bahkan tak pernah terpikir untuk mencalonkan diri sebagai anggota DPRD Jatim. Bahkan berpikir untuk terjun ke politik saja tidak. Hingga suatu ketika Gerindra mengajaknya untuk berpartisipasi dalam politik praktis.

"Ternyata apa yang saya lakukan selama 22 tahun di Kabupaten Sidoarjo itu diingat masyarakat. Saya tidak banyak kampanye tapi warga mempercayakan suaranya kepada saya," kata dr Benyamin.

Pengalaman dr Benjamin kiranya bisa menjadi cermin bagi politisi-politisi minoritas di Kabupaten Sidoarjo. Bahwa hukum tabur tuai itu berlaku dalam segala aspek kehidupan ini.
Kalau tak pernah menabur kebaikan untuk masyarakat, anda mau menuai apa?

Last but not least, kita yang minoritas di Kabupaten Sidoarjo hanya bisa menitip aspirasi kepada 50 caleg terpilih. Setelah dilantik jadi anggota DPRD Sidoarjo, anda tidak lagi menjadi wakil partai, golongan, mayoritas minoritas, melainkan wakil seluruh rakyat Sidoarjo. Itu saja.

12 May 2014

Hilangnya doa sebelum makan

Tempo dulu makan itu seperti ritual. Setidaknya di pelosok Flores Timur dan Lembata, NTT. Orang kampung saling menunggu agar bisa makan bersama. Selapar-laparnya wanita, dia harus menunggu para bapak pulang baru makan. Begitu pula bapak-bapak harus makan bersama mam-mama dan anak-anak di rumah. Meskipun hidangannya cuma nasi jagung.

Namanya juga ritual, sebelum makan harus ada doa bersama. Satu orang pimpin doa. Doa sebelum makan ala Katolik zaman dulu: Benedic Domine nos et haec... Kemudian disusul Bapa Kami yang ada di surga... ditutup tanda salib.

Kemudian makan. Ada basa-basi omongan kecil, small talk. Lalu doa sesudah makan. Setelah itu baru bubar, cuci piring, dan sebagainya. Makan benar-benar ritual keseharian.

Zaman berubah sangat cepat, banyak orang Flores merantau ke Jawa atau Malaysia. Makan sih tetap makan (lebih enak dan lebih sering) tapi ritualnya hampir tidak ada lagi. Sekadar bikin tanda salib saja pun susah.

Ah, kita kan minoritas! Ah, nanti kelihatan kalau kita ini Katolik! Ah, kita berdoa dan bikin tanda salib dalam hati saja! Bukankah Tuhan sudah tahu apa yang ada di hati kita? Ah, gak usah berdoa secara demonstratif di warung atau restoran di tengah warga yang 98 persen Islam.

Maka ritual sebelum dan sesudah makan makin lama makin hilang. Hari gini makan dibuat praktis tis tis. Tidak usah ritual sembahyang, makan bersama, dsb. Kalau lapar ya makan, belum lapar ya nanti aja kalau sudah lapar.

Makan menjadi praktis karena ad yang namanya nasi bungkus. Beli di pinggir jalan, masukkan tas, bawa ke tempat kerja. Kalau lapar ya nasi bungkus dikeluarkan, makan di depan komputer. Sambil makan sambil browsing, baca macam-macam di internet, plus jawab SMS atau telepon.

Doa sebelum makan? Cukup dalam hati saja. Lama-lama orang Flores yang punya tradisi doa sebelum makan (wajib dihafal agar bisa sambut baru atau komuni pertama) lupa karena lebih asyik di komputer. Amboi, betapa perkasanya teknologi informasi di era multitasking ini.

Saya baru saja melihat film lawas di internet. Ada sebuah keluarga yang punya kebisaan makan bersama dan yang pimpin doa digilir tiap hari. Ah, pengalaman masa kecil di kampung ketika orang tua masih lengkap!

Kini rasanya makin sulit saja makan tanpa melihat televisi, komputer, atau urusan lain di luar santap ria. Fokus makan thok makin sulit di zaman bergegas ini. Ponsel alias HP, komputer, media sosial, makin menyedot konsentrasi manusia modern ke berbagai titik. Keasyikan baru yang belum tentu membuat kita bahagia.

Mastib, petugas kebersihan di sebuah gedung bertingkat di Surabaya, pernah mengeluhkan banyaknya bungkusan nasi, sisa makanan, kulit buah-buahan di meja kerja sebuah perusahaan media. Kotornya bukan main! Sebab hampir semua orang makan sambil menikmati internet atau bekerja.

Kalau sudah begini, ya, jangan harap ada doa bersama sebelum dan sesudah makan. Ia menjadi cerita masa lalu ketika komputer, internet, BB, media sosial dan sejenisnya belum ditemukan.

Maka ke depan, suami, istri, anak cukup makan sendiri-sendiri, sibuk sendiri-sendiri, beli nasi sendiri-sendiri, berdoa sendiri-sendiri. Semuanya serba sendiri.

La Liga tahun ini kurang menarik

Pagi ini saya kesiangan karena nonton Elche vs Barca di televisi. Begitu Atletico kebobolan, saya kira pemain-pemain Barcelona kesetanan, main habis-habisan, mengelurkan kemampuan terbaik untuk menang. Kalau menang, dan Atletico benar-benar kalah, maka Barca juara La Liga musim ini.

Tapi saya kecewa. Bukannya membaik, permainan Barca mbulet aja. Tidak seperti tim super seperti dipamerkan di era Pep Guadiola dan mendiang Tito Vilanova. Mainnya datar, tidak ada umpan terobosan yang berbahaya. Justru Elche yang mengancam gawang Barca dengan serangan balik berbahaya. Untung tidak gol.

Sembari menikmati pertandingan Elche vs Barcha yang datar itu, sang komentator berbahasa Inggris mengabarkan bahwa pada saat yang sama Real Madrid ketinggalan 1-0. Tak lama kemudian jadi 2-0.

Lho, kok gampang banget si Madrid yang penuh bintang itu kebobolan? Minggu lalu sudah seri dua kali... yang membuat peluang jadi juara La Liga alias Liga Spanyol hancur berantakan. Madrid tak lagi seganas ketika mengalahkan Bayern Muenchen di Liga Champions.

Baik Real Madrid maupun Barcelona sama-sama tidak meyakinkan musim ini. Pola main cepat, pendek, passing akurat, penetasi Messi, Xavi, Iniesta hampir tak terlihat musim ini. Karena itu, ketika mendengar

Atletico menyamakan kedudukan menjadi 1-1, saya berharap segera disusul gol berikut. Gol kemenangan untuk Atletico sekaligus mengunci gelar juara La Liga. Tapi itu pun tak terjadi. Maka sang jawara baru ditentukan minggu depan di kandang Barca.

Dari segi permainan, meski main di rumah sendiri, Barca tahun ini merosot sangat jauh. Jauh dari pesona tika taka Barca yang menghibur penggemar bola di seluruh dunia dalam beberapa tahun terakhir. Sistem baru yang coba dikembangkan Tata Martino rupanya belum bisa jalan. Barca menjadi mudah dijinakkan oleh tim-tim medioker macam Elche.

Real Madrid lebih payah lagi. Seharusnya La Liga sudah selesai dua minggu lalu dan Madrid bisa juara dengan mudah. Tapi skenario penikmat La Liga di Indonesia itu meleset jauh. Madrid bahkan dua kali diganjal tim kecil, kemudian kalah sama tim kecil pula.

Sulit kita menerima alasan Ancelotti tentang kekalahan timnya. Sebab pemain-pemain cadangan yang dipasang Madrid sebenarnya masih lebih berkualitas ketimbang pemain-pemain utama tim lawan. Siapa sih yang meragukan kualitas Isco, Morrata, Khedira, Lopez?

La Liga tahun ini pun menjadi sangat unik karena Barca dan Madrid bisa dijinakkan dengan mudah oleh klub-klub papan bawah. Jadi lebih kompetitif. Tapi, di sisi lain, daya tarik La Liga selama bertahun-tahun hilang. Daya tarik itu adalah kehebatan dua raksasa bola, Madrid dan Barca, menghabisi lawan-lawannya dengan mudah.

Fenomena ini mengingatkan saya pada tinju profesional. Dulu ada Muhammad Ali, Holmes, atau Mike Tyson yang begitu dahsyat dan menangan di kelas berat. Bisa membantai lawan-lawan dengan mudah. Lawan sudah ketakutan sebelum naik ring.

Kita, penonton di seluruh dunia, selalu menunggu di depan televisi ketika Ali atau Tyson berlaga. Karena alam bawah sadar kita sudah punya psikologi menangan atau sang jagoan yang tak pernah kalah layaknya di film laga. Kita tunggu bagaimana Tyson dan Ali menghabisi sang pecundang yang kita anggap bad guys.

Sayang, era Tyson dan Ali sudah lama berlalu. Dan kegairan warga dunia untuk menonton tinju sudah tak ada lagi. Saya sendiri bahkan tidak tahu siapa juara dunia tinju kelas berat saat ini.

09 May 2014

Tanda Heran di Flores, Mukjizat di Jawa

Membaca majalah Tempo edisi 11 Mei 2014, saya menemukan kembali ungkapan lama: TANDA HERAN. Istilah ini sangat populer di sekolah dasar di NTT, khususnya Pulau Flores dan sekitarnya. Setiap pelajaran agama Katolik (hampir semua murid memang Katolik), bapak atau ibu guru selalu cerita tentang tanda heran.

Apakah tanda heran saat pesta perkawinan di Kana? Jawabnya sudah tentu Yesus mengubah air menjadi anggur. Cerita tentang tanda-tanda heran ini sangat menarik bagi anak-anak desa macam saya yang masih buta bahasa Indonesia.

Tanda heran lain yang juga selalu diceritakan adalah tentang Musa. Sang pembebas ini memainkan tongkatnya yang berubah jadi ular, kemudian jadi tongkat lagi. Ada tanda heran manna alias roti yang tak habis-habisnya. Hingga tanda heran bani Israel menyeberang melalui Laut Merah.

"Bayangkan kalau laut di depan sekolah ini terbelah jadi dua. Di tengahnya ada lorong sehingga banyak orang bisa jalan seperti di daratan," kata Pak Paulus yang sudah almarhum.

Tuhan selalu menunjukkan tanda herannya kepada manusia. Begitu kata guru kelas 3 SD saya di pelosok Lembata itu.

Hingga tamat SD, saya dan teman-teman belum tahu kata MUKJIZAT. Baru di SMP pak guru pelan-pelan memasukkan kata MUKJIZAT sebagai sinonim tanda heran. Mukjizat = tanda heran! Bahasa Inggrisnya MIRACLE.

Setelah mengenal kata MUKJIZAT, kata majemuk TANDA HERAN makin menepi. Bahkan tidak ada lagi. Sebab, Alkitab versi Protestan yang akhirnya dipakai umat Katolik di Indonesia hanya memakai kata MUKJIZAT. Beda dengan buku-buku pelajaran agama Katolik terbitan Nusa Indah, Ende, Flores, yang menggunakan TANDA HERAN.

Romo-romo, suster, frater, guru agama Katolik, dan umat Katolik di Jawa pun tak pernah menggunakan tanda heran. Kata mukjizat jadi sangat umum. Hanya beberapa romo asal Flores yang kadang keceplosan Floresnya dengan menyebut tanda heran.

Di lingkungan kristiani ada lagu gospel yang sangat terkenal. Judulnya MUKJIZAT itu nyata. Setiap hari lagu ini diputar Pak Paul, guru SMA Petra 3 Surabaya, yang berasal dari Flores Timur. "Allah kita sungguh baik. Mukjizat itu nyata!" kata pak guru yang gaya bahasa dan diksinya sudah sangat Protestan meski tetap beragama Katolik.

Malam ini saya membaca berita pendek empat alinea di Tempo. Tentang mukjizat yang memperkuat kanonisasi Paus Yohanes Paulus II dan Paus Yohanes XXIII. Judulnya DUA TANDA HERAN.

"Hehehe... Flores banget judul itu!" kata saya dalam hati. Jadi ingat pelajaran agama Katolik di SD di pelosok Flores Timur dulu.

Saya cek wartawan dan redaktur yang menulis berita tiga halaman di Tempo itu. Philipus Parera dan Hermin Y Kleden. Keduanya memang berasal dari Flores.

Yah, pantas saja ungkapan lama TANDA HERAN itu muncul lagi di majalah berita paling top di Indonesia itu.

08 May 2014

Pabrik Gula di Sidoarjo Tinggal 4

Pabrik gula di Balongbendo pada zaman Hindia Belanda.


Sejarah industrialisasi di Sidoarjo tak lepas dari keberadaan pabrik gula. Pabrik-pabrik gula itu tersebar di berbagai kawasan, mulai Waru, Taman, Gedangan, Buduran, hingga kawasan selatan seperti Krian, Tulangan, Prambon, dan Balongbendo. Sayang, kini hanya tersisa empat pabrik gula di Kota Delta.

Empat pabrik gula yang masih eksis itu adalah PG Toelangan, PG Watoetoelis (Prambon), PG Krembong, dan PG Candi Baru. Henri Nurcahyo, penulis dan pemerhati Sidoarjo tempo doeloe, menjelaskan, berdirinya pabrik-pabrik gula di Jawa berkaitan erat dengan kulturstelsel yang diterapkan pemerintah kolonial Hindia Belanda.

Sudah banyak buku sastra yang terinspirasi oleh konflik antara petani tebu dan manajemen pabrik gula di masa kolonial. Di antaranya, novel tetralogi Pramoedya Ananta Toer yang mengambil setting PG Toelangan. Demikian pula kisah pemberontakan Kiai Kasan Moekmin. Cerita rakyat tentang Pak Sakerah dalam ludruk-ludruk di Jawa Timur pun menceritakan konflik seputar kebun tebu dan pabrik gula.

Sayang, seiring dengan perkembangan zaman, pabrik-pabrik gula itu rontok satu per satu. Di Jawa Timur, pabrik gula yang berada dalam naungan PT Perkebunan Nusantara X ada 11 buah. Dari empat pabrik gula yang ada di Sidoarjo, hanya PG Candi Baru yang dikelola swasta.


"Sidoarjo dulu sempat punya 16 pabrik gula. Lama-kelamaan menyusut menjadi lima pabrik. Dan, sekarang hanya ada empat pabrik, termasuk PG Candi Baru," ujar Henri yang tinggal di kawasan Bungurasih itu.

Tak banyak yang tahu kalau markas Artileri Pertahanan Udara Sedang (Arhanudse), TNI Angkatan Darat, di pinggir jalan raya Sruni, Gedangan, itu dulunya pabrik gula bikinan Belanda. Kompleks PG Wonoayu berubah menjadi markas polisi. Begitu pula PG Porong menjadi Pusdik Brimob.

Adapun pabrik-pabrik gula yang lain berubah menjadi puskesmas, kantor kecamatan, dan sebagainya. "Sebagian lain hancur tanpa jejak," ujar pria yang juga pengurus Dewan Kesenian Sidoarjo itu.

Salah satu pabrik gula yang punya sejarah menarik, dan masih eksis hingga sekarang, menurut Henri, pabrik gula yang baru direvitalisasi itu didirikan Oleh NV Cooy dan Coster Van Voor Hout pada 1847. Saat zaman penjahahan itu PG Kremboong memproduksi gula dengan tenaga manusia yang dibantu dengan peralatan sederhana. Masih home industry.

Saat Belanda dikalahkan Jepang, pabrik gula ini tidak hanya digunakan untuk memproduksi gula, tetapi juga digunakan untuk produksi senjata perang.
Selang beberapa tahun, pecah Perang Dunia II. Jepang kalah sehingga terjadi kevakuman kekuasaan, sehingga Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945.

Selanjutnya, pabrik-pabrik gula yang ada kemudian diambil alih oleh pemerintah Indonesia. (*)

SMP Satu Atap Kepetingan Berjuang Ikut Unas

Ujian nasional (unas) selama empat hari, 5-8 April 2014, bagi siswa SMP Satu Atap, Kepetingan, Buduran, Sidoarjo, penuh dengan perjuangan. Selain harus belajar  keras, berlatih mengerjakan soal, mereka juga harus kos tiga malam di  Sidoarjo.

Hingga saat ini SMP Satu Atap di Dusun Kepetingan, Desa Sawohan, Kecamatan Buduran, ini  terlalu sedikit untuk menyelenggarakan unas sendiri. "Tahun 2014 ini cuma empat anak yang ikut unas. Denny Ilhamzah, Giovani Bahtiar, Imam Ghozali, dan Siti Fadilah," ujar Muhammad Mujib, kepala SMP Satu Atap Kepetingan, kemarin (4/5/2014).

Sejak didirikan tujuh tahun lalu, jumlah peserta didik di SMP Satu Atap memang sangat minim. Maklum, sekolah yang berada satu kompleks  dengan SDN Sawohan 2 alias SDN Kepetingan ini hanya mengandalkan  pasokan murid dari dua sekolah dasar. Yakni SDN Kepetingan dan SDN  Pucukan (Gebang 2). Kedua sekolah ini rata-rata punya siswa yang  sangat sedikit.

"Empat siswa yang ikut unas ini saja sudah bagus. Dulu, sebelum ada  SMP Satu Atap, anak-anak di Kepetingan dan Pucukan tidak melanjutkan  sekolah ke SMP. Bisa bertahan sampai kelas 6 dan lulus saja sudah  sangat bagus," tutur Mujib.

Nah, karena harus mengikuti unas di SMPN 2 Buduran, empat siswa SMP Satu Atap itu pun mondok di rumah salah seorang guru di Sidoarjo selama empat hari.  Mereka bersama naik perahu dari pantai Kepetingan, kemudian dijemput  sang kepala sekolah. "Harus tinggal di Sidoarjo selama pelaksanaan  unas.

Tidak mungkin naik perahu ke Sidoarjo setiap hari karena sulit  diprediksi ketinggian air. Pasti terlambat karena lama perjalanan  sekitar satu jam. Itu pun kalau lancar. Kalau mesin tiba-tiba mogok  kan susah," katanya.

Bermalam di rumah guru juga memungkinkan anak-anak tambak itu mendapat  bimbingan khusus untuk menghadapi unas esok hari. Dengan jumlah siswa  yang sangat minim, menurut Mujib, sebetulnya anak-anak tambak ini  mendapat pembelajaran intensif layaknya les privat. Mereka bebas  bertanya apa saja. Sang guru pun bisa memberikan kisi-kisi soal dan  kiat-kiat memecahkan soal unas.

"Insya Allah, anak-anak kami bisa  mengikuti unas dengan baik dan lulus dengan nilai yang baik pula," ucapnya. (rek)

03 May 2014

PSK di Kupang dan Dolly

Koran terbitan Jakarta hari ini ikut membahas lokalisasi Gang Dolly dan Jarak di Surabaya. Bu Risma, wali kota Surabaya, ngotot menutup Doly pada 19 Juni 2014. Nantinya eks lokalisasi dibangun sentra ekonomi baru. Plus taman yang indah.

Bu Risma mengaku kesulitan menutup Dolly + Jarak karena PSK-nya ribuan wanita. Beda dengan lokalisasi lain kayak Kremil atau Bangunsari yang cuma 100 sampai 300 orang.

Setiap kali mendengar PSK, saya selalu ingat sepak bola alias balbalan. Memangnya ada hubungan antara bola dan PSK? Ada. Bahkan sangat erat.

Di Nusa Tenggara Timur, provinsi tempat lahir saya, PSK itu artinya Persatuan Sepakbola Kupang. PSK klub perserikatan paling kuat di NTT dibandingkan 11 klub 21 klub perserikatan lain. Waktu saya kecil PSK hampir selalu jadi juara Piala Eltari, kejuaraan bola kaki antarkabupaten se-NTT.

Begitu hebatnya PSK, kabupaten-kabupaten lain hanya bisa jadi juara kedua atau ketiga. Belakangan supremasi PSK digerogoti Perseftim Flores Timur, PSN Ngada, atau Persami Maumere. Tapi PSK tetap bagus karena punya pemain-pemain berbakat yang rajin berlatih. Beda dengan kabupaten-kabupaten lain yang hanya latihan menjelang turnamen saja.

Lalu mengapa PSK saat ini lebih dikenal sebagai pekerja seks komersial? (Memangnya ada PSK yang tidak komersial?). Dulu yang namanya lonte, pelacur, prostitut, kupu-kupu malam (atau apa pun namanya) dikenal sebagai WTS: wanita tuna susila.

Tapi singkatan ini diprotes aktivis perempuan karena dianggap tidak adil. Kok hanya wanitanya yang tunasusila? Memangnya laki-laki hidung belakang tidak tunasusila? Sejak itu WTS hanya dipakai untuk menyebut wartawan tanpa suratkabar alias freelanche.

WTS tenggelam di lokalisasi pelacuran. PSK naik daun. Bahkan sudah jadi istilah baku untuk menyebut pelacur atau lonte atau balon (kata orang Malang). PSK lebih halus. Eufemisme memang tidak pernah lepas dari bahasa kita.

Saya sudah terlalu lama tinggal di Jawa Timur. Karena itu, saya tidak tahu apakah klub sepak bola terkenal di Kupang masih bernama PSK. Saya sudah kadung dekat dengan klub-klub top Jatim macam Persebaya, Arema, Deltras, atau Gresik United yang berlaga di Liga Indonesia kelas elite.

PSK cuma masa lalu belaka. Tapi singkatan PSK yang saya kenal saat bocah di NTT tak pernah hilang dari ingatan saya meskipun yang dibahas di koran itu PSK yang mangkal di Gang Dolly Surabaya.

Hidup PSK Kupang!

02 May 2014

Penghitungan suara ala Pemilu 1955



Pemilihan umum legislatif 9 April 2014 sudah lewat 23 hari. Tapi sampai sekarang hasil pileg itu belum diumumkan oleh KPU. Kita belum tahu perolehan suara 12 partai.

Yang ada cuma hitung cepat atau quick count. Dan sebetulnya quick count tidak bisa jadi pegangan karena hanya bersifat perkiraan. Seakurat-akuratnya quick count, hasil hitungan resmi KPU yang dipakai.

Bagaimana kalau quick count ternyata beda dengan real count? Bisa kacau negara ini kalau hasil pileg itu jadi dasar untuk menentukan calon presiden.

Beda kalau pemilihan presiden dilakukan bersamaan dengan pileg, hasil penghitungan suara pileg tidak begitu ditunggu. Sebab masih ada waktu enam bulan untuk melantik presiden baru.

Saya sering gumun mengapa kok penghitungan suara pemilu di Indonesia begitu lama. Tiga minggu belum selesai. Di tingkat kabupaten pun kita belum tahu hasilnya setelah dua minggu. Ajaib di era digital, ponsel, internet, media sosial, yang seharusnya sangat mudah menyebarkan informasi. Termasuk dari Bawean dan pulau-pulau terpencil di Jawa Timur.

Aneh bin ajaib karena kecepatan kerja KPU di pusat dan daerah, termasuk PPK, tak ada bedanya dengan pemilu 1955. Jangan-jangan tahun 1955 dulu lebih cepat selesai ketimbang tahun 2014. Mengapa kita di Indonesia butuh waktu satu bulan, bahkan lebih, untuk mengumumkan hasil coblosan?

Saya belum mencari tahu kecepatan perhitungan suara di negara-negara lain. Tapi setahu saya di negara tetangga Malaysia tidak sampai satu minggu. Bahkan tak sampai sebulan perdana menteri baru sudah dilantik.

Di negara-negara maju, apalagi negara kecil dengan penduduk sedikit, lebih cepat lagi. Pemilu nasional kadang terkesan seperti pemilihan kepala desa saja saking cepatnya diketahui hasilnya.
Apakah kita di Indonesia perlu waktu satu bulan atau tiga bulan hanya untuk menghitung dan merekapitulasi suara?

Di zaman serba komputer ini terlalu aneh rasanya kalau sistemnya masih sama dengan pemilu 1955. Di Kota Surabaya yang modern, mudah dijangkau dari ujung ke ujung, pun kita belum tahu hasil coblosan setelah satu minggu.

Di zaman komputer ini seharusnya hasil pemilu legislatif sudah harus diumumkan satu minggu setelah pencoblosan. Paling lama 10 hari. Kalau sampai satu bulan atau dua bulan ya balik aja ke era 1955.

Tentu saja sulit menandingi pemilu-pemilu di era Orde Baru yang kecepatan penghitungan suaranya jauh mengungguli quick count paling canggih sekalipun. Sebab, di zaman Pak Harto itu semua orang sudah tahu bahwa Golkar pasti menang di atas 70 persen jauh sebelum pencoblosan.

Dan semua orang juga sudah tahu kalau presidennya pasti Pak Harto, Pak Harto, Pak Harto, Pak Harto, Pak Harto....

01 May 2014

Agatha Retnosari: Berpolitik ala Ikan di Laut



"Terima kasih kepercayaan yang diberikan kepada saya. 33.379 suara, semoga saya bisa menjaga amanah ini."

Begitu kicauan Agatha Retnosari di akunnya: ‏@agatha_frogie.

Akhirnya, Agatha,  alumnus Teknik Lingkungan ITS Surabaya ini berhasil menembus kursi DPRD Jawa Timur. Agatha sejak pemilu 2009 sudah berjuang, tapi belum lolos. Kali ini pengurus DPD PDI Perjuangan ini lolos ke Jalan Indrapura bersama 11 caleg terpilih lainnya.

Wanita bernama lengkap AGATHA EKA PUSPITA RETNOSARI ini sosok aktivis sejati. Waktu mahasiswa ikut paduan suara (vokalnya bagus sih), aktif di mana-mana, bahkan sudah jadi simpatisan partai banteng gemuknya Megawati Soekarnoputri.

"Bapak saya memang Soekarnois. Beliau pengagum berat Bung Karno. Jadi, sejak kecil saya sudah dididik ayah tentang pentingnya nasionalisme," kata lulusan SMAN 5 Surabaya, sekolah elite yang melahirkan banyak politisi itu.

Kuliah pada 1990-an membuat mahasiswa saat itu, apalagi aktivis macam Agatha, dipaksa turun ke jalan. Demo membongkar tatanan Orde Baru yang dinilai tidak demokratis, otoriter, KKN (korupsi, kolusi, nepotisme). Suaranya yang bagus membuat Agatha sering menyanyi menghibur teman-temannya saat unjuk rasa.

"Saya memilih PDI Perjuangan karena cocok dengan ideologinya. PDI Perjuangan itu partai besar yang punya basis massa yang jelas dan loyal dengan semboyan sampai gepeng melok banteng. Partai ini tetap sederhana," katanya dalam sebuah seminar di lingkungan Gereja Katolik Surabaya beberapa waktu silam.

Setelah reformasi, Agatha ingin masuk ke dalam sistem untuk mewujudkan cita-cita Proklamasi yang tercantum dalam Pembukaan UUD 1945, katanya. Dengan menjadi wakil rakyat, dia ingin bersuara, membantu mengurangi kesenjangan ekonomi di Jawa Timur.

Bagaimana dengan pendapat banyak orang bahwa politik itu kotor? Khususnya umat Katolik di Jawa Timur yang kebanyakan tidak suka politik?

Wanita asli Surabaya ini menjawab: "Saya menggunakan perumpamaan ikan di lautan. Walaupun air laut itu asin, tapi ikan tidak ikut asin. Meskipun lingkungan kotor, kita tidak akan terpengaruh. Mengenai kekotoran dalam politik, tidak hanya ada di partai. Di kantor pun ada politik kantor. Sebab, pada dasarnya manusia adalah makhluk politik."

Sebagai perempuan politisi, ibu dua anak yang masih kecil, bagaimana Agatha membagi waktu dengan aktivitas partai dan parlemen nanti?

Agatha bilang perempuan karir itu bebannya dobel. "Puji Tuhan, suami saya mendukung dan memahami apa yang menjadi kesenangan istrinya. Ortu dan mertua juga bisa," katanya.

Okelah, Agatha, kita tunggu kiprah sampeyan sebagai anggota DPRD Jawa Timur periode 2014-2019.

Pelacur Dolly transmigrasi ke NTT

Lokalisasi pelacuran Gang Dolly, Jarak, dan Moroseneng di Surabaya bakal ditutup pada 19 Juni 2014 sebelum Ramadan. Rupanya Bu Risma, wali kota Surabaya, tak lagi memberi toleransi kepada para pengusaha hiburan esek-esek itu.

Persiapan sudah lama dilakukan. Para pelacur alias PSK diajari keterampilan untuk alih profesi. Bu Risma dan Pak Karwo gubernur Jawa Timur juga menyiapkan pesangon untuk penghuni Dolly. Mana ada buruh di Jatim dikasih pesangon oleh pemerintah selain pekerja seks?

Tapi siapa pun tahu pindah profesi itu tidak gampang. Bertahun-tahun jualan gituan dengan hasil wah, kemudian jualan pecel atau rujak cingur? Bertahun-tahun kerjanya macak, dandan, mejeng... kemudian harus memeras keringat di bawah terik matahari?

Maka, tidak heran banyak pengamat dan penggiat LSM yang tidak yakin kalau para pelacur Dolly + Jarak itu bisa dientas semuanya. Sepuluh persen saja sudah bagus. Sisanya akan semburat ke mana-mana. Tetap meneruskan profesi aslinya di dunia esek-esek di tempat lain.

Pak Bagong Suyanto dari Universitas Airlangga di koran hari ini menyebut praktik prostitusi itu sudah lama berlangsung diam-diam di hotel, salon, panti pijat. Bahkan dengan media sosial orang bisa memesan wong wadon secara online. Jadi, menutup Dolly dan sejenisnya tidak otomatis menghentikan pelacuran di Surabaya.

"Kalau mau menghentikan prostitusi ya harus semuanya. Yang di hotel-hotel juga harus ditutup. Jangan di Dolly saja," kata Pak Bagong.

Yah, para germo ini punya jaringan yang luas dan rapi. Mereka tentu sudah lama melakukan antisipasi jika Gang Dolly benar-benar tutup. Cewek-cewek itu akan disalurkan ke tempat lain yang lokalisasinya masih ada. Baik lokalisasi liar, setengah resmi, atau terselubung ala panti pijat tradisional.

Ada media yang bilang sejumlah PSK Dolly sudah siap transmigrasi ke luar Jawa. Entah Kalimantan, Sulawesi, Papua, termasuk NTT.

Khusus NTT ini kabarnya sudah lama sebagian pelacur Dolly yang tidak laku (ketuaan) transmigrasi ke Kupang. Kebetulan di dekat pelabuhan Tenau ada lokalisasi pelacuran yang sudah lama eksis.

Ada pula yang gentayangan di panti pijat di Kupang. Di televisi beberapa waktu lalu ada berita gadis di bawah umur dijebloskan ibunya ke panti pijat di Kupang untuk bayar utang. Wah, gawat!

Ibarat balon, ketika lokalisasi pelacuran ditutup di salah satu tempat, maka otomatis dia menyembul di tempat lain. Dolly tutup, arek-arek mokong itu akan lari ke hotel atau kota lain. Kecuali program pelatihan atau alih profesi itu berhasil.

Teguh, juru bicara pekerja lokalisasi Dolly, sinis dengan pelatihan bikin kue atau salon ala Pemkot Surabaya. "Siapa yang beli roti di desa? Orang desa mana ada yang datang ke salon?" katanya.

Yah, kita tunggu saja tanggal 19 Juni 2014!

Rasisme masih ada di mana-mana

Sebagai penonton setia Barcelona, saya sering melihat Dani Alves jadi korban rasisme penonton lawan. Terakhir Alves dilempari pisang saat akan mengambil sepak pojok. Bukannya marah, Alves mengambil pisang itu, menguliti, dan memakannya.

Humor yang getir! Sepak pojok itu jadi gol. Villarreal kalah dari Barcelona. Alves bilang pisang itu memberinya energi tambahan sehingga bisa main dengan lebih bagus dan akhirnya menang.

Rasisme dilawan dengan humor. Salut sama Alves!

Kasus Dani Alves yang kemudian ramai di internet ini sekali lagi menunjukkan bahwa rasisme itu ternyata masih ada di Spanyol. Negara Eropa yang mestinya punya peradaban tinggi. Punya pendidikan dan wawasan lebih bagus ketimbang negara ketiga macam Indonesia.

Kasus Alves menunjukkan bahwa manusia kulit hitam atau berwarna masih dianggap lebih rendah. Disamakan dengan monyet yang doyan pisang. Manusia kulit putih dianggap lebih tinggi, begitu ajaran penjajah Belanda di tanah air tempo doeloe.

Kalau Spanyol saja begitu, kita sulit mengharap sikap yang jauh dari rasisme di Indonesia. Sudah biasa suporter bola di Jawa berteriak monyet atau bikin gerakan kayak monyet untuk menyerang pemain-pemain hitam lawan.

Begitu biasanya sehingga pemain-pemain hitam jadi kebal. Bahkan mengganggapnya angin lalu. Sama dengan Alves yang tak lagi menganggap lemparan pisang sebagai hinaan, melainkan makanan penambah tenaga.

Manusia kulit hitam memang paling banyak jadi korban pelecehan rasial. Tapi, jangan lupa, manusia kuning bermata sipit alias Tionghoa pun sering disempot kata-kata rasial yang tidak mengenakkan. Sebaliknya, si Tionghoa pun membalas dengan aksi rasis pula.

Ah, seandainya manusia-manusia di dunia ini saling menghormati sesamanya. Sadar bahwa kita cuma seonggok daging fana yang cuma hidup sebentar di dunia ini.

Buruh Sidoarjo di hari buruh

Sudah seminggu lebih jalan raya utama di Sidoarjo, dekat alun-alun, selalu macet. Ratusan buruh pabrik biskuit berkemah di pinggir jalan. Persis di depan kantor sekaligus pabrik itu. Entah kapan unjuk rasa ini berakhir.

Setiap hari polisi mengawal aksi para pekerja itu. Tapi rupanya belum ada solusi hingga peringatan hari buruh. Pemerintah daerah pun rasanya tidak bisa berbuat banyak meskipun 'perkemahan' di pinggir jalan itu sudah mengganggu kenyamanan berlalu lintas.

Dinas tenaga kerja piye? Kemudian pemda yang kantornya cuma terpaut 200 meter. DPRD Sidoarjo di alun-alun itu kelihatannya diam saja. Lalu, apakah para buruh ini harus head to head tiap hari dengan pengusaha? Sama-sama ngotot dengan argumentasinya?

Unjuk rasa berkepanjangan di Jenggolo itu cuma satu contoh kecil yang paling kelihatan karena berlangsung di tengah kota. Sebagai kota pabrik, kota industri, sejak dulu Sidoarjo punya masalah perburuhan paling besar di Jawa Timur. Dari tahun ke tahun masalahnya mirip tapi tak kunjung ada solusi.

Tahun lalu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menetapkan hari buruh 1 Mei sebagai hari libur nasional saat berkunjung ke Maspion Gedangan, Sidoarjo. Hari buruh ini hendaknya menjadi momentum bagi pemerintah pusat dan daerah untuk duduk bersama dengan elemen buruh dan pengusaha. Mencari jalan terbaik untuk memecahkan masalah kronis ini.

Hari buruh bukan sekadar tanggal merah. Tidak bekerja, mancing, atau santai di rumah. Pemda-pemda justru harus turun menyapa para buruh di kota masing-masing. Bila perlu bikin semacam festival hari buruh dengan berbagai agenda menarik yang bisa dinikmati masyarakat. Sambil terus mencari solusi masalah pekerja alih daya, UMK, jamsostek, pesangonn dsb.

Di negara tetangga macam Malaysia dan Singapura hari buruh pun sejak dulu jadi hari libur nasional. Hari yang diisi pesta rakyat layaknya Lebaran. Pemerintah open house untuk rakyat alias buruh dalam suasana yang hangat.

Di Indonesia, khususnya Surabaya dan Sidoarjo, yang merupakan sentra buruh malah tidak ada event khusus untuk Mayday. Tidak ada statement atau refleksi dari pemerintah daerah soal perburuhan.

Di koran-koran warga diminta tidak melintas di jalan protokol karena ribuan buruh turun ke jalan. Polda Jatim menyiapkan 2500 anggota untuk mengamankan unjuk rasa buruh.

Sementara itu, buruh pabrik biskuit di Sidoarjo tetap berkemah, bikin macet jalan raya. Entah sampai kapan.

Selamat hari buruh!