13 April 2014

Yesus Naik Colt Jelang Paskah

 


Gak nyangka sudah masuk pekan suci. Saya ikut misa Minggu Palem di Gereja Katolik St Paulus, Juanda, Sidoarjo, barusan. Misa dipimpin Romo Soni Keraf SVD, pastor paroki asal Lembata, NTT, yang bertugas di sini sejak 2006.

Oh ya, wakil Romo Soni juga berasal dari Flores Timur, Romo Yosef Bukubala SVD. Betapa banyaknya orang Flores yang mewarnai gereja-gereja Katolik di tanah Jawa. Tak jauh dari Paroki St Paulus, namanya Paroki Salib Suci, Wisma Tropodo, juga romo-romonya dari Flores pula.

Misa Minggu Palem alias Palma mengenang Yesus masuk kota Yerusalem dengan mengendarai colt alias anak keledai. Orang banyak mengelu-elukan Yesus dengan daun-daun palem. Karena itulah, umat wajib membawa daun palem dari rumah untuk diberkati saat perarakan Minggu Palem.

Daun palem yang sudah diberkati itu dibawa pulang ke rumah untuk dipasang di salib. Kalau Anda melihat salib yang ada palemnya, berarti tuan rumahnya Katolik. Pasti bukan Protestan, Pentakosta, Karismatik, dsb.

Sayang, hujan deras yang stabil membuat prosesi palem ditiadakan. Umat cukup mengangkat palem untuk diperciki air suci sambil menyanyi Yerusalem Lihatlah Rajamu. Kesan Minggu Palemnya jadi kurang terasa.

Bagi orang Flores atau NTT, yang Katolik tentu saja, prosesi palem ini sangat penting. Harus ada untuk menandai awal pekan suci Paskah. Tanpa prosesi itu, kita akan kehilangan beberapa lagu khas Minggu Palem yang hanya setahun sekali. Misalnya: Hosanna Putra Daud, Anak-Anak Ibrani, Tatkala Yesus Masuk Yerusalem. Ada beberapa lagi yang saya lupa.

Beberapa orang Flores, juga Jawa, yang tinggal di Jerman biasa meminta lagu liturgi lama itu kepada saya. Mereka menyanyikan saat Minggu Palma agar liturginya khas Indonesia. Begitulah. Simplifikasi yang kita lakukan sering menghilangkan nuansa yang sebetulnya sangat menyentuh perasaan jemaat sampai mati.

Karena prosesi palem tidak ada, perayaan ekaristi tidak ada bedanya dengan misa mingguan biasa. Bacaan tentang colt, anak keledai, tidak ada. Langsung pasio atau kisah sengsara. Itu pun dibaca saja, bukan dinyanyikan.Maka, misa pembukaan pekan suci ini pun tidak lama. Tidak sampai 90 menit.

Di pelataran gereja pun tak terlihat ceceran daun palem. Pun tak ada umat yang mengubek-ubek daun palem cantik untuk dibawa pulang. "Di sini umat yang membawa daun palem sendiri-sendiri dari rumah," kata seorang panitia.

No comments:

Post a Comment