22 April 2014

Wayang Jawa Timuran di Kelenteng Sidoarjo

Tadi malam, 21 April 2014, Kelenteng Tjong Hok Kiong bikin hajatan besar. Ulang tahun Makco, dewi laut, yang jadi tuan rumah kelenteng. Hajatan seperti biasa sangat meriah dan merakyat.

Selain kesenian Tionghoa, paduan suara, barongsai, pop mandarin, wayang potehi, pengurus kelenteng tak lupa nanggap wayang kulit dan tayuban. Ini penting buat menghibur warga di kawasan Hang Tuah, pasar ikan, kawasan pecinan.

Ki Sugilar dari Mojosari kembali ditanggap. Dalang wayang kulit jawa timuran ini sepertinya sudah panggung tetap di pojok dekat pintu air. "Dari dulu saya selalu main di kelenteng sini kalau ada hajatan. Alhamdulillah," ujar pak dalang kepada saya.

Dalang jawa timuran ini sedikit beda dengan jawa tengahan yang dimotori Ki Manthep Sudarsono dan Ki Anom Suroto. Cukup banyak dalam jawa timuran di Sidoarjo, Mojosari, Mojokerto, hingga Jombang. Anehnya, dalang-dalang ini sepi tanggapan. Sebab warga Jawa Timur sendiri lebih suka nanggap wayang jawa tengahan.

Setiap ulang tahun Kabupaten Sidoarjo, 31 Januari, pemkab selalu nanggap Ki Manthep atau Ki Anom. Dalang-dalang lokal yang beraliran jawa timuran tidak pernah ditanggap. Padahal, biayanya sangat murah.

"Gak ada apa-apanya sama Ki Anom," kata Ki Sugilar. Karena sepi tanggapan itulah, hampir semua dalang lokal bekerja serabutan sebagai buruh tani, perajin, dan sebagainya.

Karena itu, konsistensi pengurus Kelenteng Sidoarjo untuk nanggap wayang jawa timuran secara rutin setiap sejit Makco ini (tiap tanggal 23 bulan 3 Imlek) layak diapresiasi. Kita yang selalu mengaku pribumi, bumiputra, sering lupa melestarikan seni budaya kita sendiri.

Yang justru nguri-uri budaya wayang jawa timuran malah orang Tionghoa yang kita anggap nonpribumi. Aneh juga kalau ingin melihat wayang jawa timuran di Sidoarjo kita harus menunggu ulang tahun kelenteng dulu.

No comments:

Post a Comment