08 April 2014

Politik Balas Jasa Leluhur di NTT

Hani Chandra, anggota DPRD Lembata, yang maju lagi. Ayah dan leluhurnya berjasa merintis usaha perdagangan hasil bumi di Kabupaten Lembata hingga ke pelosok.  


Orang Jawa punya ungkapan khas: sepi ing pamrih, rame ing gawe! Bekerja keras tanpa pamrih. Biarlah Tuhan yang membalas! Tapi apakah sepi ing pamrih juga berlaku untuk urusan politik?

Rasanya sulit. Apalagi di luar Jawa. Apalagi di NTT, khususnya Flores, khususnya di kalangan etnis kami, Lamaholot, di Kabupaten Flores Timur, Kabupaten Lembata, dan Kabupaten Alor.

Sering kali, bahkan sudah jadi semacam adat kebiasaan, bahwa orang tak boleh melupakan begitu saja jasa baik seseorang. Meskipun kebaikan itu sudah lama sekali dilakukan. Bahkan, yang menanam jasa baik itu orang tua atau kakek neneknya.

Investasi jasa baik di masa lalu itu kini bisa dipetik oleh anak cucu yang maju sebagai calon anggota DPRD kabupaten/provinsi. Berbeda dengan di Jawa, yang caleg-calegnya kurang dikenal, bahkan tak dikenal, di Flores ini hampir semua caleg kita kenal. Bahkan, punya hubungan kekeluargaan. Kita tahu persis siapa dan latar belakang si caleg.

Misalnya, caleg A anaknya Pak Y, yang kakeknya saudara kandung kakek saya. Caleg B anaknya pengusaha Tionghoa terkenal yang berjasa memajukan ekonomi daerah dengan menjadi pengepul hasil bumi. Caleg C anaknya Pak X yang dulu berjasa membuka isolasi di kampung halaman. Caleg D 10 tahun lalu sangat berjasa mengurus orang tuaku ke rumah sakit. Dan seterusnya.

Repot juga kalau caleg-caleg yang berlaga itu punya rekam jejak macam ini. Rekam jejak yang emosional. Kita jadi kehilangan objektivitas saking kentalnya muatan emosional. "Masa sih saya tidak mencoblos si A yang jasanya begitu besar sepuluh tahun lalu. Kalau saya tidak pilih A, saya salah. Saya jadi orang yang tidak tahu terima kasih," kata seorang bapak di Lembata, sebut saja Pak Frans.

Tapi bukankah si caleg B juga ada hubungan darah dengan kita? Bapaknya juga punya banyak jasa (di masa lalu)? Benar juga. Yah, terserah warga di dalam TPS mau coblos siapa.

Tapi di desa-desa di NTT, yang penduduknya sedikit, dan semua orang saling mengenal sampai tiga turunan (generasi), pemilihan umum legislatif dengan sistem terbuka macam sekarang bisa jadi masalah. Sebab, nantinya orang akan tahu si A memilih siapa dan si B memilih caleg yang mana. Bisa timbul rasa kurang enak kalau caleg tertentu, yang masih keluarga kita, atau bapaknya pernah sangat berjasa di kampung, tidak terpilih.

Karena itu, orang-orang lama di pelosok NTT lebih suka sistem pemilih ala Orde Baru yang cuma diikuti tiga partai saja (PPP, Golkar, PDI). Tidak pakai sistem memilih caleg. Dan, hasilnya sudah jelas warga sekampung memilih nomor 2 alias Golongan Karya. 100 persen pasti Golkar. Warga kompak, tak akan ada ketegangan. Bahkan, biasanya setelah kemenangan mutlak Golkar itu, pemerintah akan memberikan bantuan berupa televisi umum, pengadaan MCK, dan sebagainya.

Sistem pemilu legislatif alias pileg sekarang memang sangat rawan konflik horizontal di masyarakat. Tak heran, sejak akhir Desember 2013, pastor-pastor di NTT, khususnya Keuskupan Larantuka, setiap kali berkhotbah di mimbar selalu mengingatkan potensi konflik antarwarga, yang sebetulnya masih keluarga, karena sama-sama maju jadi caleg. Konflik bisa melebar sampai jauh dan berbuntut tidak saling bicara... sampai lamaaa sekali.

Namun, di pihak lain, saya juga melihat hikmah kebijaksaan di balik kearifan politik lokal di desa-desa NTT ini. Bahwa kebaikan atau jasa yang pernah ditanam sang kakek/nenek atau orang tua di masa lalu, yang sangat jauh, ternyata berbuah dan dipetik hasilnya oleh si anak atau cucu yang jadi caleg.

Padahal, si orang tua sendiri tidak pernah mengharapkan pamrih apa pun. Para almarhum itu bahkan tidak tahu bahwa pada tahun 2014 akan ada pemilu legislatif dengan sistem proporsional terbuka (suara terbanyak) dan multipartai.

Maka, tanam, tanam, tanamlah kebaikan mulai sekarang. Sekecil apa pun pasti dicatat oleh Tuhan Sang Maha Melihat. Dan itu akan dikembalikan kepada anak cucumu di kemudian hari.

No comments:

Post a Comment