17 April 2014

Paulus Latera Rilis Novel Mutiaraku




Kepergian putri sulungnya Santy Stevanny Wellowati setahun lalu masih menyisakan duka yang mendalam di hati Paulus Latera. Pria asal Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), itu menulis novel khusus untuk mengenang putri kesayangannya itu. Novel berjudul Mutiaraku itu diluncurkan di kediamannya, Perumahan Pondok Jati, Sidoarjo, Sabtu (11/4/2014).

Paulus Latera mengundang sekitar 30 warga Pondok Jati untuk doa bersama sekaligus berbagi cerita tentang Santy. Gadis 24 tahun yang menjadi guru bahasa Inggris di Surabaya itu meninggal dunia akibat leukimia di Rumah Sakit Darmo, Surabaya.

"Sampai sekarang saya, istri, dan Ina, putri saya, belum bisa melupakan Santy. Dia seperti selalu berada di tengah-tengah kami," ujar pria yang tinggal di Pondok Jati sejak 1988 itu.

Bukan itu saja. Christin Setyowati, istri Paulus, bahkan enggan melintas di depan Rumah Sakit Darmo, Surabaya. Melihat rumah sakit di tengah Kota Pahlawan itu ibarat menghadirkan kenangan yang sangat mendalam, khususnya menjelang akhir hidup Santy.

"Santy itu sangat religius, begitu dekat dengan Tuhan. Dia sering membawa mukjizat dalam kehidupan keluarga kami," kata guru SMA Petra 3 Surabaya itu.

Di depan para  undangan, Paulus menceritakan bahwa putrinya yang lulusan Universitas Widya Mandala, Surabaya, itu seakan-akan sudah punya firasat akan segera dipanggil Tuhan. Ini terlihat dari surat berisi permintaan maaf kepada ayah dan ibu serta kata-kata perpisahan. Padahal, saat itu kondisi Santy belum begitu parah.

"Dia bilang hidup itu pilihan. Dan, dia telah memilih untuk tinggal bersama Tuhan," kenang Paulus dengan mata berkaca-kaca.

Ditulis berdasar kisah nyata, Paulus menceritakan pengalaman pahit, manis, hingga kekuatan  iman sang putri yang akhirnya membuat pihak keluarga ikhlas melepas kepergian Santy. Paulus sangat percaya ada rencana Tuhan di balik penyakit yang diderita Santy hingga kematiannya.

"Suasananya menjelang Paskah seperti sekarang. Mulai dari Rumah Sakit Islam Siti Hajar, Sidoarjo, dan berakhir di Rumah Sakit Dharmo, Surabaya," katanya.

Novel Mutiaraku merupakan buku ke-17 Paulus Latera. Alumnus IKIP Sanata Dharma, Jogjakarta, ini mengaku senang menulis puisi, cerpen, cerita rakyat, dan artikel sejak remaja. "Penulisan novel ini sangat lancar dan cepat karena peristiwanya saya alami sendiri. Tahu-tahu sudah jadi dan terbit," tuturnya.

Paulus mengaku menovelkan kisah putrinya, Santy, karena didorong oleh guru-guru, siswa, dan alumni Petra yang tersebar di berbagai kota. Sebelumnya, Paulus juga menerbitkan buku kumpulan puisi, juga tentang buah hatinya yang sudah tiada itu.

"Saya hanya berbagi pengalaman kepada pembaca tentang orang tua yang harus kehilangan putri yang sangat dikasihi dalam usia relatif muda," katanya. (rek)

No comments:

Post a Comment