22 April 2014

Misa Malam Paskah 3 Jam di Sidoarjo

Misa malam Paskah setiap Sabtu malam, sehari setelah Jumat Agung, selalu ditunggu-tunggu umat Katolik. Rugi besar kalau sampai tidak ikut. Bahkan ada teman mantan aktivis mahasiswa, yang biasanya malas ke gereja, tak pernah absen misa malam Paskah.

Itulah misa paling lama dalam tradisi Katolik. Misa tahbisan uskup sekalipun kalah lama. Tapi tidak pernah membosankan. Apalagi kalau pastornya pintar nyanyi sehingga bisa membawakan Exultet dengan baik. Salah satu lagu gregorian paling indah memang Exultet atau biasa dikenal di Indonesia dengan "Bersoraklah, Nyanyikan Lagu Gembira".

Saking enaknya lagu ini, Pak Martin, guru SD saya di pelosok Lembata, NTT, sana selalu menyanyikan Exultet setiap siang. Beliau punya kualitas vokal yang bening dan dahsyat. Jauh lebih bagus daripada kebanyakan pastor. Ah, seadainya Pak Martin ini dulu jadi romo!

Sayang sekali, romo yang memimpin misa malam Paskah 2014 di Sidoarjo ini tidak bisa nyanyi. Tapi mau tidak mau harus nyanyi karena Exultet itu jatahnya pastor. Saya geli sendiri karena romo ini sering meleset nadanya dan sering lari-lari. Keindahan exultet gak dapat.

Syukurlah, malam itu kor terbaik Paroki Santa Maria Annuntiata berhasil menutup kelemahan sang romo dengan menghidupkan Exultet. Suasana hening, listrik dimatikan, hanya lilin-lilin yang menyala, yang dipegang setiap umat, menambah syahdu suasana.

Malam Paskah adalah vigili atau melekan. Bersukacita atas kemenangan sang Kristus dari alam maut. Maka bacaan kitab suci sangat banyak dan panjang. Masing-masing diselingi mazmur antarbacaan. Sadar kalau bakal terlalu lama, beberapa bacaan seperti dari Yesaya dan Barukh ditiadakan.

"Biar tidak terlalu ngantuk," kata romo. Dan memang banyak anak kecil yang ngantuk, tertidur, mengingat misa dimulai pukul 21.00. Bisa dibayangkan misa sesi terakhir di Katedral Surabaya yang dimulai jam 11 malam.

Malam itu ada sembilan orang yang dipermandikan. Umat kemudian memperbarui janji baptis disusul percikan air suci. Lagu Syukur kepada-Mu Tuhan selalu menyentuh kalbu sebagian orang Katolik. Inilah himne terbaik gereja, menurut saya, melebihi Malam Kudus saat Natal.

Begitulah. Saat berkat penutup jam menunjukkan 00.03 WIB. Sudah tiga jam lebih. Romo, putra altar, lektor, asisten imam, pun meninggalkan altar. Dan paduan suara bersiap menyanyikan Halellujah karya Handel yang sangat terkenal itu.

Inilah satu-satunya lagu sulit yang dibawakan kor di malam Paskah di Sidoarjo. Lagu yang butuh waktu lama untuk latihan. Tingkat kesulitan di nada-nada tinggi sopran dan tenor. Kemudian sahut-menyahut atau polifonik karena sopran, alto, tenor, bas harus menyanyikan part-nya sendiri-sendiri.

Saya tahu betapa beratnya dirigen melatih kor agar Halellujah Handel ini bisa jalan. Sebab dulu, ketika mahasiswa saya ikut paduan suara macam ini, bahkan sempat jadi semacam asisten dirigen. Tingkat kesulitannya jauh di atas ordinarium Misa Kita IV yang dipakai malam itu di gereja terbesar di Sidoarjo itu.

Sayang sekali, hampir semua umat sudah meninggalkan gereja. Atau salam-salaman selamat paskah. Atau bicara sendiri-sendiri. Sangat sedikit umat yang menyimak Hallelujah Handel yang notabene menjadi statement of faith atau kesimpulan dari liturgi malam Paskah yang sangat panjang itu.

Saya menyimak kor bagus itu. Luar biasa! Gak nyangka paduan suara Sidoarjo bisa membawakan Halellujah Handel dengan bagus. Penuh semangat meskipun umat dan romo sudah keluar dari gereja.
Saya jadi ingat pesta nikah di Kana. Anggur terbaik justru disuguhkan paling akhir. Lagu terbaik, penampilan terbaik, justru disuguhkan paling akhir ketika gereja sudah sepi.

Selamat Paskah!

No comments:

Post a Comment