14 April 2014

Mengapa tidak menanam dari dulu?

Perumahan KNV di Sidoarjo belum genap lima tahun. Tapi, wow, luar biasa rindang, teduh, dan indah dengan hutan kota yang lebat. Penghuni KNV, sebagian besar korban lumpur lapindo, bisa menikmati udara segar di tengah kota. Dus, mereka tak perlu jauh-jauh ke Pacet atau Trawas kalau hanya untuk bisa menikmati pepohonan rimbun.

Mengapa KNV bisa jadi hutan dalam waktu singkat? Pengembangnya memang sadar penghijauan dan taman. Begitu lahan di Desa Jati, Kecamatan Kota, dibuka, pengembang sudah menanam pohon. Ketika media massa tiap hari berdebat soal pola ganti rugi dengan sistem cash and resettlement, developer tetap rajin menanam.

Sementara itu, rumah-rumah dibangun satu per satu. Ketika saatnya tiba, warga lumpur mulai masuk KNV, tanaman-tanaman sudah ada. Bahkan banyak yang sudah besar-besar karena jenis bibitnya memang bagus.

Selama dua tahun lebih saya tak mampir ke KNV. Lalu tiba-tiba ada janjian ketemu Mas Bhima, ketua KPU Sidoarjo, di pusat kuliner KNV. Betapa tercenangnya diriku. Wow, tanaman penghijauan sudah sangat tinggi, lebat, dan jadi hutan. Hutan yang sangat tertata.

Dari KNV, saya mampir ke Buncitan, Sedati, dekat Bandara Juanda. Bertemu Mas Syaiful pengurus Candi Tawangalun, situs cagar budaya peninggalan Majapahit.

Wow, betapa gersangnya. Tak ada pohon-pohon besar. Ada beberapa tanaman tapi terlalu kerdil. "Andai kata tujuh tahun lalu saya, Syaiful, dan Pak Bambang menanam pohon seperti beringin atau tanaman-tanaman besar," kata saya dalam hati.

Dulu saya memang sering mampir ke Candi Tawangalun bersama Pak Bambang Haryaji (almarhum), pelukis senior Sidoarjo yang juga aktivis lingkungan. Kami banyak bicara soal penghijauan. Tentang pentingnya gerakan menanam pohon di Sidoarjo. Termasuk di Buncitan yang punya semburan lumpur alami, jauh sebelum ada lumpur Lapindo di Porong.

Tapi ya cuma omong doang. Saya tidak melakukan action apa pun. Padahal, di Jalan Raya Juanda, masih di wilayah Kecamatan Sedati, terdapat pusat penjualan bibit tanaman penghijauan, bunga, kompos, berbagai kebutuhan taman alias gardening.

Ah, andai kata tahun 2005 atau 2006 saya membeli bibit di Juanda dan menanam di kompleks Candi Tawangalun! Mungkin sebagian mati karena tanah di situ salinitasnya tinggi, dekat laut. Tapi mungkin ada satu dua pohon yang hidup. Membesar, menghijau, bikin kawasan Buncitan sebagai kawasan hutan kota di sekitar Bandara Juanda.

Minggu lalu Kak Ardiyanto, pembina Pramuka Kecamatan Sedati, menghubungi saya. Dia ingin mengerahkan anak-anak Pramuka siaga hingga penegak di Sedati untuk mengadakan penghijauan di Buncitan, dekat Candi Tawangalun. Kak Ardi (semua pembina pramuka disapa Kak) prihatin melihat kondisi bangunan cagar budaya yang gersang dan merana.

"Harus ada action," ujar Ardiyanto.
Saya hanya tersenyum. Kata-kata sang kakak pramuka ini seperti menyindir saya. Harus action. Harus menanam. Harus bergerak. Ojo ngomong thok kayak aku biyen!

Siapa yang menanam akan menuai! Yang menanam banyak akan menuai banyak juga! Siapa yang tidak menanam tidak akan menuai apa-apa!

No comments:

Post a Comment