22 April 2014

Mengapa Hadi Poernomo baru ditangkap sekarang?

Sempurnalah sudah korupsi di negara yang berdasar ketuhanan yang maha esa ini. Ketua Mahkamah Konstitusi Akil Muchtar sudah dicokok. Kemarin giliran Hadi Poernomo, ketua Badan Pemeriksa Keuangan dijadikan tersangka kasus korupsi.
Antara kaget dan tidak kaget. Sebagai mantan dirjen pajak, instansi basah, rakyat sudah lama curiga kalau Pak Hadi ini tidak bersih-bersih amat. Si Gayus pegawai rendahan saja begitu. Apalagi bosnya pajak seluruh Indonesia. Pasti kelas eyangnya ikan kakap.

Syukurlah, KPK akhirnya membuka kedok Hadi Poernomo yang selama ini rajin bicara soal akuntabilitas, tata kelola pemerintahan yang baik, clean government dan blablablabla. Eh, ternyata bos pajak se-Indonesia ini ada main mata sama BCA.

Pertanyaannya, mengapa baru ditangkap sekarang? Sepuluh tahun setelah kejadian? Bahkan Pak Hadi selama lima tahun penuh duduk di kursi terhomat sebagai ketua BPK?

Mengapa negara tidak punya daya endus atau semacam deteksi dini bahwa Hadi ini punya masalah di bidang perpajakan? Mengapa dibiarkan berlarut sampai pensiun? Mengapa? Mengapa? Mengapa?

Yah, kita ambil hikmahnya sajalah. Beter te laat dan te nooit, kata orang Belanda. Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.

Kita masih bersyukur karena KPK masih punya taring untuk membersihkan koruptor-koruptor kelas kakap dari bumi Indonesia. Itu jauh lebih penting ketimbang mengusut orang yang bagi-bagi uang receh untuk warga menjelang pemilu legislatif lalu.

Aparat penegak hukum kita sering lebih sibuk mengurusi money politics kelas teri dan mengabaikan kasus-kasus kelas kakap seperti pajak atau bea cukai.

No comments:

Post a Comment