13 April 2014

Makin Puritan + Makin Nasionalis

Hasil pemilu 9 April 2014 belum diumumkan secara resmi. Namun, hasil hitung cepat menunjukkan bahwa perolehan suara partai-partai islamis sangat rendah. Sebaliknya, partai nasionalis macam PDIP, Gerindra, Golkar, Nasdem, Demokrat sangat bagus, kecuali Hanura yang melorot.

PKB melejit, PAN stagnan. PKB dan PAN ini berbasis massa muslim (PKB nahdliyin, PAN Muhammadiyah) tapi tidak bisa dibilang partai islamis murni.

Di daerah saya, NTT, PKB dan PAN sejak dulu selalu disebut partai nasionalis. Sebab, pengurus PAN dan PKB plus caleg-calegnya justru lebih banyak yang Katolik dan Protestan. Termasuk paman saya yang bukan Islam, tapi pengurus penting di PKB.

Karena itu, dari 12 partai peserta pemilu, yang benar-benar bisa dikategorikan partai islami hanya PKS, PPP, dan PBB. Suara ketiga partai ini tidak signifikan. PKS yang sempat berjaya pada dua pemilu sebelumnya kini stagnan. Sistem kaderisasi dan indoktrinasi ala PKS rupanya kurang efektif untuk menaikkan elektabilitas partai.

Fenomena ini jelas berbanding terbaik dengan masyarakat Indonesia yang makin islami sejak 1990an. Sekarang makin sedikit wanita yang tidak pakai jilbab. Ucapan selamat pagi atau selamat malam sudah lama digusur assalamualikum. Formalisasi hukum syariah diadopsi ke perda dan undang-undang.

Kajian MC Ricklefs dalam buku Mengislamkan Jawa pun mengungkap perkembangan mutakhir di Indonesia ini. Islam mengakar kuat di Indonesia, kata Ricklefs.

"Tapi sejak reformasi partai-partai Islam tidak pernah mendominasi kekuatan politik di Indonesia," katanya.

Rupanya sosiologi masyarakat ini kurang dibaca oleh politisi partai-partai islami. Termasuk Rhoma Irama. Tadi malam di televisi Bang Raja Dangdut ini memberikan pendapat yang jauh berbeda dengan platform PKB yang dipahami warga NTT pemilih PKB selama ini.

Meski jadi jurkam, bahkan bakal capres dari PKB, cara berpikir Bang Rhoma khas politisi anggota konstituante tahun 1950an yang sangat dikotomis islamis vs nasionalis. Beda dengan Muhaimin atau Nahrawi yang sudah lama menyadari tren politik Indonesia.

"Islam yes! Partai Islam no!"

Ungkapan lama peninggalan almarhum Cak Nur ini makin terbukti.

No comments:

Post a Comment