17 April 2014

Komunitas Hindu Jawa di Sidoarjo



Lima tahun lalu kawasan Desa Balonggarut, Kecamatan Krembung, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, dipenuhi kebun tebu. Di tengah perkebunan tebu itu terdapat Pura Margo Wening. Tempat ibadah umat Hindu ini diresmikan Bupati Sidoarjo Win Hendrarso pada 21 Agustus 2014. Kini, kawasan pura dan sekitarnya sudah jadi perkampungan. Tak ada lagi kebun tebu yang terlihat.

Adapun pura lama yang berdiri sejak 1971, tak jauh dari Pura Margo Wening, kini nyelempit di antara rumah-rumah penduduk. Namun, Pura Margo Wening selalu ramai dengan kegiatan ibadah umat Hindu di Sidoarjo, khususnya bagian barat dan selatan, setidaknya dua kali sebulan. Yakni, saat bulan mati dan bulan purnama.

"Sebagian besar kegiatan rohani umat Hindu di Sidoarjo memang dipusatkan di Pura Margo Wening, Krembung. Sebagian umat Hindu memanfaatkan Pura Jala Siddhi Amertha di Juanda," kata I Nyoman Anom Mediana, ketua Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Sidoarjo.

Sejak puluhan tahun silam sudah ada cikal bakal pura di sana. Ini tak lepas dari keberadaan komunitas umat Hindu asli Jawa yang secara turun-temurun berdiam di Krembung. Dalam perkembangannya, populasi umat Hindu Jawa itu terus merosot. Saat ini tinggal sekitar 20 hingga 30 keluarga saja.

Umat Hindu asli Krembung ini tempo doeloe biasa mengadakan ritual keagamaan layaknya umat Hindu Bali. Hanya saja, ritual Hindu ala Krembung ini lebih tradisional layaknya aliran kebatinan atau Kejawen. Pada 1957, salah seorang umat Hindu setempat, Pak Untung, menghibahkan lahan di depan rumahnya untuk dijadikan pura. Sejak itulah umat Hindu pelan-pelan membangun pura kecil secara swadaya. Butuh 35 tahun untuk bisa mewujudkan pura nan mungil itu.

Nah, pada 1 Januari 1992, bertepatan dengan tahun baru, Bupati Sidoarjo (waktu itu) Edhi Sunyoto meresmikan Pura Jagat Naya Margo Wening. Sejak itulah komunitas Hindu Krembung menarik perhatian umat Hindu keturunan Bali yang tinggal di wilayah Kabupaten Sidoarjo.

Dipimpin mendiang Ngakan Putu Tagel, ketua PHDI Sidoarjo, umat Hindu Bali akhirnya melebur dengan Hindu Jawa. Saat itu memang hanya ada satu pura di Kabupaten Sidoarjo, yakni di Krembung itu. "Kemudian umat Hindu bersama-sama memperluas pura lama di lahan perkebunan tebu," tutur Nyoman.

Akhirnya, pada 21 Agustus 204, Bupati Sidoarjo (waktu itu) Win Hendrarso meresmikan pura baru yang diberi nama Pura Penataran Agung Margo Wening. Tak ayal, pura pun terus berkembang. Selain sembahyang rutin, PHDI Sidoarjo juga mengadakan pelajaran agama Hindu setiap Minggu. Kelas khusus ini diikuti para pelajar beragama Hindu mulai dari tingkat sekolah dasar hingga sekolah menengah atas.

"Sebab, di Kabupaten Sidoarjo ini hampir tidak ada guru agama Hindu. Makanya, pelajaran agama Hindu harus diadakan di luar sekolah," kata Nyoman Anom Mediana.

Setelah melebur dengan umat Hindu asal Bali, otomatis komunitas Hindu Jawa asli Krembung menjadi minoritas. Meski begitu, umat Hindu Krembung tetap mendapat peranan yang besar di pura. Jero Pemangku Senadi, misalnya, menjadi pinandhita di pura tersebut. Ada juga Pemangku Rusdianto yang tengah menimba pendidikan tinggi agama Hindu di Bali. Rusdianto ini tak lain keturunan langsung Pak Untung, perintis berdirinya pura di Krembung.

"Sekarang ini tidak ada dikotomi Hindu Jawa dan Hindu Bali. Semua umat Hindu, apa pun sukunya, silakan bersembahyang di sini," kata Pemangku Senadi. (rek)

1 comment:

  1. SELAMAT. Semoga selalu kuat dan tabah mengemban DHARMA.

    ReplyDelete