26 April 2014

Kisruh makam perumahan di Sidoarjo

Kisruh makam untuk warga perumahan rupanya terus berlanjut di Kabupaten Sidoarjo. Padahal kasus ini sudah dibahas, dicari solusi, sejak 1990an. Sebagai penyangga Surabaya, pertumbuhan perumahan memang luar biasa di Sidoarjo. Dan itu langsung berimbas ke lahan makam untuk penghuni perumahan.

Baru-baru ini warga Mandiri Residence di Krian turun ke jalan. Masalahnya sudah tiga tahun ini tidak jelas kapan pengembang menyediakan tanah makam. Bagaimana kalau ada keluarga yang meninggal? Susah.

Biasanya jenazah dimakamkan di makam estate lingkar timur Sidoarjo. Jauh sekali dari Krian. Ada juga yang dimakamkan di kota asal. Lebih jauh lagi. Dan butuh biaya banyak.

Dimakamkan di makam umum setempat? Pasti geger dengan penduduk asli alias warga kampung. Asal tahu saja, sejak dulu warga perumahan-perumahan di Sidoarjo tetap dianggap liyan, the other, meskipun tinggal di desa yang sama.

Kita masih ingat ratusan warga Sarirogo rame-rame menolak jenazah yang sudah siap dimasukkan ke dalam liang kuburan. Alasannya karena jenazah itu orang perumahan. Dan pihak perumahan atau pengembang tak pernah membeli lahan untuk makam di desa itu.

Sebelum gejolak di Krian, warga perumahan di kawasan Waru juga turun memprotes pengembang. Gara-gara tidak ada lahan makam untuk penghuni perumahan Deltasari. Solusi ke makam estate lingkar timur di Desa Gebang, Sidoarjo Kota, dianggap bukan solusi. Butuh biaya besar.

Saya perhatikan, sejak merebaknya perumahan di Sidoarjo awal 1990an pengembang, pemerintah kabupaten, pemerintah desa, dan penghuni perumahan belum ketemu jalan keluar. Membuat makam estate, para pengembang REI urunan beli tanah, bikin makam khusus di lingkar timur ternyata kurang efektif.

Warga perumahan tentu ingin makam itu tidak jauh-jauh dari perumahan. Apakah makam itu dibuat di dalam kompleks perumahan? Itu yang banyak diinginkan orang perumahan. Sebab, berdasar pengalaman, sangat sulit bergabung dengan makam umum warga kampung alias penduduk asli.

Membeli lahan kosong di desa itu atau desa tetangga? Inilah yang diinginkan warga perumahan. Tapi biasanya ada saja masalah di belakang hari. Sebab, biasanya ada klaim dari warga setempat bahwa pengembang curang, tak ada pelepasan hak atas tanah dan sebagainya. Ini yang terjadi di Sarirogo dulu.

Memang serbasusah dan serbasalah makhluk yang namanya manusia di Jawa Timur. Hidup sudah berat, penuh perjuangan, ketika meninggal pun susah mencari tempat tinggal abadi.

Karena itu, sejak dulu saya salut sama orang Tionghoa yang menganut tradisi pembakaran jenazah alias kremasi. Dijamin tidak akan kisruh dengan warga setempat.

No comments:

Post a Comment