19 April 2014

Jumat Agung di Sidoarjo



Saya mengikuti Jumat Agung, bagian kedua dari Paschal Triduum atau trihari suci Paskah, tahun 2014 ini di Sidoarjo. Gereja Katolik Santa Maria Annuntiata di Jalan Monginsidi 15. Persis di samping kantor Kementerian Agama Sidoarjo.

Sudah 3,5 tahun saya tidak ikut misa di sini. Padahal, dulu hampir setiap Sabtu malam saya hampir pasti misa di Sidoarjo. Maklum, setiap hari Minggu selalu ada kegiatan atau agenda lain yang sulit ditinggalkan.

Wow, paroki yang dipimpin Romo Bambang Justisianto ini berkembang sangat pesat. Sekarang punya halaman belakang untuk parkir. Umat yang ikut pekan suci pun tiga kali lipat ketimbang lima tahun lalu. Suasananya mirip di Katedral Surabaya yang tenda besar di luar pun seperti tak cukup untuk menampung jemaat yang sangat antusias.

Dulu saya sering ngobrol sama Frater Bowo (sekarang sudah jadi pastor, Romo Bowo) tentang kondisi umat Katolik di Sidoarjo yang numpuk di tengah. Akibatnya, gereja stasi di Porong cenderung tidak efektif. Padahal umat Katolik yang tinggal di wilayah selatan macam Tanggulangin, Porong, Krembung, Tulangan, atau Prambon bisa misa rutin di Gereja Santo Andreas, Porong.

Kembali ke Jumat Agung. Upacara penghormatan salib dipimpin Romo Didik, mantan pastor paroki Sidoarjo, yang kini menjabat vikaris jenderal Keuskupan Surabaya. Romo Didik juga tampil sebagai Yesus saat passio. Suaranya boleh, sangat paham notasi gregorian.

Didampingi dua solis yang oke, passio atau kisah sengsara Yesus menurut Yohanes ini tidak membosankan. Enak dinikmati sembari mengenang sengsara, wafat, dan kematian sang Almasih. Sayang, kor yang bertugas sore itu kurang bisa mengimbangi Romo Didik dan kedua solis putra.

Bukan apa-apa, di balik kelebihan Paroki Sidoarjo dari segi jumlah umat, dan kemampuan finansialnya, paduan suaranya perlu di-upgrade lagi. Bandingkan dengan dua paroki di wilayah utara, Paroki Santo Paulus, Juanda, dan Paroki Salib Suci, Wisma Tropodo, Waru, yang sudah menyamai, bahkan mengungguli paroki-paroki di Kota Surabaya.

Sebagai vikjen, orang kedua setelah Uskup Surabaya, Romo Didik sangat brilian menjelaskan makna trihari suci dalam homilinya. Termasuk makna jalan salib pagi, yang disusul penghomatan salib pada sore hari. Kita sering lupa makna yang sangat elementer ini meski sejak bayi sudah dipermandikan sebagai orang Katolik.

Romo Didik juga tak lupa mengajak umat mendoakan para peziarah di Larantuka, Flores Timur, yang tenggelam saat ziarah Semana Santa. Yakni prosesi Jumat Agung khas bumi Lamaholot di NTT yang berlangsung sejak April 1599. Ini menjadi tonggak sejarah misionaris Dominikan dari Potugis dalam menyebarkan agama Katolik di Pulau Flores dan sekitarnya.

Saya pun tercenung mendengar informasi dari Romo Didik. Maklum, setiap Jumat Agung atau Natal saya puasa nonton televisi, dengar radio, atau main-main di internet. Apalagi harus jalan salib pagi, disusul upacara lanjutan di gereja sore hari. Paling afdal jam tiga sore.

Tiga tahun tidak misa di Gereja Maria Annuntiata, Sidoarjo, membuat saya kaget plus kagum dengan antusiasme umat Katolik dalam mengembangkan parokinya. Termasuk kerelaan umat pemilik mobil yang masing-masing harus menyumbang Rp 300 ribu untuk pembuatan paving parkiran. Di paroki lain kayaknya gak ada iuran setengah wajib kayak begini.

Selamat menyambut Paskah!

Haec dies quam fecit Dominus: exultemus et laetemur in ea. Alleluia!

2 comments:

  1. Selamat Paskah kak Hurek

    ReplyDelete
  2. Selamat paska Untuk semua Umat katolik yang ada di indonesia.
    Damai dan berkat Tuhan Yesus selalu beserta kita.

    ReplyDelete