14 April 2014

Investasi politik yang gagal

Main politik itu seperti berjudi. Kalah hampir pasti, peluang menangnya nol koma nol sekian persen. Kecuali politik ala Orde Baru atau Tiongkok atau Korea Utara yang penuh dengan kepastian.

Perjudian politik paling terasa pada musim caleg alias pemilu legislatif 9 April 2014 lalu. Bayangkan, kursi dewan yang cuma 50 di Sidoarjo diperebutkan oleh 460 caleg! Di sebuah dapil (daerah pemilihan) yang cuma punya 11 kursi diperebutkan oleh sekitar 100 caleg?

Yang menang ya cuma 11 orang itu. Yang lain sudah pasti kalah. Persis judi. Tapi, karena kayak judi itulah, banyak orang tertarik bermain-main dengan menghamburkan uang dan modalnya. Anggap saja buang sial kalau memang harus kalah.

Nah, seperti biasa, beberapa kerabat dekat, keluarga jauh, kenalan saya ikut main judi pileg. Optimisme menangnya bukan main. Pakai hitung-hitungan yang dahsyat. Mana ada penjudi yang tidak optimistis? Apalagi caleg-caleg itu di posisi nomor 1 atau nomor 2 di partai besar seperti PDI Perjuangan.

Maka, seperti kebiasaan orang-orang NTT, keluarga dekat + keluarga jauh dipajaki. Dimintai susu tante (sumbangan sukarela tanpa tekanan) untuk dana perjuangan. Bikin atribut kampanye, poster, stiker, uang rokok, bensin, hingga uang saksi.

Serba salah kita orang ini! Bisa celaka kalau si keluarga itu terpilih, sementara kita tidak ikut membantu perjuangannya sebagai caleg.

"Dulu waktu saya butuh bantuan kamu cuek saja. Sekarang kamu datang minta bantuan mobil untuk mengangkut orang sakit," begitu biasanya kata-kata anggota DPRD di NTT, khususnya Flores, menyindir pihak keluarga atau kerabat jauh.

Karena itulah, walaupun sedikit, orang NTT di perantauan mau tak mau harus menyumbang keluarganya yang maju judi caleg. Cuek saja, apatis, tidak menyumbang apa-apa, bisa berabe. Tapi, di sisi lain, kita pun sadar bahwa judi pileg ini berisiko sangat tinggi. Probabilitas menang 0,0001 persen!

"Yah, anggap saja kita kecopetan di Terminal Bungurasih," kata seorang teman asal NTT yang juga dimintai sumbangan oleh keluarganya untuk nyaleg.

Hehehe.... Kecopetan kok hilangnya banyak sekali?

Dua hari setelah pencoblosan datang berita yang sudah bisa ditebak jauh hari sebelumnya. "Terima kasih atas bantuan dan dukungannya. Sayang, kali ini saya belum berhasil. Kita sudah berjuang semaksimal mungkin tapi Tuhan berkehendak lain," kata sang caleg yang gagal itu.

Yah, dinikmati sajalah kegagalan itu. Kegagalan itu membuat kita lebih arif dalam hidup ini. Yang tidak bisa belajar dari kegagalan itu cuma penjudi. Termasuk penjudi politik.

No comments:

Post a Comment