08 April 2014

Gunung Rokatenda, Pelajaran dari Mbah Marijan




Masih ingat Mbah Marijan? Penjaga Gunung Merapi ini meninggal akibat awan panas atau wedhus gembel Merapi. Mbah Marijan ngotot bertahan di dekat gunung meskipun sudah diminta berkali-kali untuk turun karena erupsi sangat berbahaya.

Mbah Marijan yang pernah dielu-elukan, jadi bintang iklan, pun harus meregang nyawa secara tragis. Menjemput ajalnya sendiri di gunung yang dia jaga bertahun-tahun. Inikah kearifan lokal di pegunungan Jogja itu?

Saat ini di NTT, tepatnya di Kabupaten Sikka tengah terjadi erupsi Gunung Rokatenda. Gunung api di Pulau Palue itu sudah sering meletus dan menelan korban jiwa. Agustus 2013 lima orang meninggal dunia.

Berbeda dengan Kelud yang meletus dahsyat dan langsung selesai, Rokatenda di Flores ini tak jelas kapan selesainya. Statusnya masih siaga level tiga. Warga Palue alias Rokatenda yang jumlahnya 8000 orang harus mengungsi berbulan-bulan. Tanpa kepastian kapan drama Gunung Rokatenda tamat.

Minggu lalu saya baca di koran bahwa warga Palue justru bikin upacara adat di lereng gunung. Tujuannya: melindungi pulau dan erupsi cepat selesai. Sehingga 8000 warga Palue itu bisa kembali hidup normal.

Membaca berita ini, saya jadi ingat Mbah Marijan. Meski level bahaya di Rokatenda tak segawat di Merapi yang menewaskan Mbah Marijan, ritual adat yang dilakukan di Palue ini sama saja dengan menantang alam. Dengan sengaja melawan erupsi yang bisa membahayakan nyawa warga.

Budaya lokal tidak bisa menghentikan aktivitas gunung, kata Frans Senda, petugas pemantau Gunung Rokatenda.

Frans benar. Budaya atau kearifan lokal tidak bisa menghentikan erupsi. Negara dengan segala kewenangannya harus bisa menyadarkan masyarakat bahwa Gunung Rokatenda sangat berbahaya, bahkan pulau itu tidak layak lagi didiami.

Kasus Mbah Marijan di Jogja hendaknya jadi pelajaran bagi pemerintah. Negara bisa dianggap lalai membiarkan Mbah Marijan bertahan di gunung -- apa pun alasan dan keyakinannya -- ketika awan superpanas bisa dipastikan menghanguskan apa saja di kawasan itu.

Membiarkan orang Palue tetap tinggal di gunung, bikin upacara adat, dengan alasan budaya lokal, rasanya terlalu berisiko. Gubernur NTT Pak Frans, Bupati Sikka, dan aparatur pemerintah setempat. Kita tidak ingin ada Marijan-Marijan di Flores dan wilayah lain di Indonesia.

No comments:

Post a Comment