08 April 2014

Dangdut dan Budaya Nyawer



Pertunjukan dangdut itu asyik, sangat merakyat, tapi ada buntutnya. Buntutnya adalah nyawer. Bukan dangdut kalau tidak ada tip uang tunai yang diserahkan secara terbuka atau diam-diam kepada sang penyanyi.

Penonton konser musik pop atau rock atau jazz atau klasik cukup membeli tiket masuk. Beres. Setelah itu kita bebas menikmati musik dan penampilan para penyanyi dari awal sampai akhir. Mustahil penonton konser klasik tiba-tiba naik ke atas panggung kemudian bernyanyi bersama dan memberikan uang kepada sang penyanyi.

Beda banget dengan dangdut. Penyanyi-penyanyi dangdut (plus orkesnya) justru sangat membutuhkan uang saweran dari penonton. Selama pertunjukan si penyanyi pasti berkali-kali meminta duit saweran secara halus maupun terang-terangan. Pejabat-pejabat pun sering ditodong sama pedangdut.

Dulunya saya heran plus risi dengan tradisi sawer ala dangdut di Jawa Timur ini. Tapi lama-lama terbiasa dan bisa memahami karakter dangdut sebagai budaya rakyat menengah bawah di Jawa Timur. "Kalau gak ada saweran, terus aku dapat apa," kata seorang penyanyi asal Mojokerto belum lama ini.

Dibandingkan penyanyi atau band pop, para pengusaha hiburan kita memang agak beda dalam memperlakukan musisi dan penyanyi dangdut. Orang dangdut dibayar sangat murah di pub atau kafe. Jadi, memang tidak mungkin bisa eksis hanya dengan mengandalkan honor yang tidak seberapa itu.

Kompensasinya ya itu tadi: saweran! Dan, saweran akan semakin banyak kalau pedangdutnya muda, cantik, dan pintar goyang. Suara bagus pun penting tapi tidak mutlak. Uang saweran masuk ke kas manajemen orkes, kemudian dibagi-bagi kepada penyanyi dan musisi.

Si penyanyi pun biasanya punya trik sendiri sehingga saweran masuk ke kantongnya tanpa diketahui manajemen orkes. Biasanya duit itu diserahkan penonton di bawah panggung. Bukan di atas panggung.

Dengan sistem saweran seperti ini, jangan harap dangdut bisa naik kelas menjadi tontonan masyarakat menengah atas layaknya pop, jazz, atau klasik. Saweran hanya bisa distop jika penyanyi dangdut dibayar mahal layaknya artis-artis pop Republik Cinta si Ahmad Yani atau band-band pop papan atas.

Tapi, kalau dipikir-pikir, dangdut yang heboh dengan tradisi saweran ini sejatinya merupakan metamorfosa seniman musik jalanan tempo doeloe macam ronggeng di masyarakat tempo doeloe. Dalam kesenian rakyat itu, siapa saja bebas menonton, tak ada karcis, bahkan tak ada panggung.

Namun, penonton dituntut kesadarannya untuk nyawer dengan imbalan bisa menari bersama si ronggeng. Kadang-kadang dapat bonus bisa memasukkan uang langsung ke dalam BH sang biduanita. Rangsangan erotis inilah yang bikin orang ramai-ramai nyawer. Apalagi sudah terpengaruh banyu setan alias minuman keras.

Ketika ronggeng dan musik jalanan menghilang, datanglah dangdut sebagai pengganti. Maka, tidak heran kalau karakter penyanyi dangdut (yang sekarang harus wanita muda) tidak berbeda jauh dengan ronggeng. Sama-sama minta disawer. Bonusnya si penonton pun diajak joget bersama dan bisa berpegangan mesra.

Salam dangdut!

1 comment:

  1. menurut saya tradisi saweran berangkat dari kesenian tayub ataupun ronggeng, biasanya jawara, juragan dan pejabat beruang menyawer dengan maksud-maksud tertentu yang berlanjut setelah pertunjukan usai

    ReplyDelete