08 April 2014

Coblosan Caleg Wani Piro

"Kok cuma Rp 25 ribu? Wong pilkades aja kita dikasih Rp 250 ribu. Ada calon kepala desa yang kasih Rp 100 ribu. Lha, duit 25 ribu itu buat apa?"

Begitu kata-kata Bu Fatma, pemilik warung soto di kawasan Buduran, Sidoarjo. Bu Fatma mengaku baru saja menerima angpao dari beberapa caleg DPRD Sidoarjo. Nilainya rata-rata segitu: Rp 25 ribu.

Lalu besok sampeyan milih caleg yang mana? Ibu asal Lamongan yang sudah karatan di Sidoarjo ini tertawa sejenak. "Yah, yang kasih paling banyak. Kalau cuma selawe ya untuk apa," katanya.

Rakyat kita memang makin pintar. Mereka tahu bahwa satu suara punya nilai. Mereka juga tahu kalau para caleg ini biasanya lupa daratan, mabuk kekuasaan, kalau sudah menjabat anggota dewan.

Karena itu, mereka harus diporot sebelum pencoblosan. Duit dari caleg-caleg diterima meski jengkel karena nilainya jauh lebih rendah dari pemilihan kepala desa. Rakyat kecil sepertinya tak peduli partai, platform, visi dan misi.

"Nyoblos bolak-balik ya saya tetap begini saja. Cuma janji-janji manis di kampanye thok," kata ibu yang ramah ini.

Saya tanya Mas Sai, juga di Sidoarjo, apakah dia sudah dapat duit dari tim sukses caleg. Mas yang tunarungu ini menulis angka 25000 di meja. Lalu menjentikkan jari telunjuk dan jempolnya. Keciiil banget.

Apakah duit saweran atau undangan nyoblos dari caleg ini tergolong politik uang? Bisakah panwaslu membuktikannya? Rasanya sulit.

Mas Burhanudin, ketua Panwaslu Sidoarjo, pun kesulitan memproses caleg-caleg yang diduga bagi-bagi duit. Setelah diproses, tidak ditemukan pelanggaran.

Apa boleh buat. Beginilah kondisi masyarakat kita yang makin ugal-ugalan dalam memahami demokrasi liberal ala Amerika dengan sistem pemilihan langsung. Ada uang ada suara. Uang recehan jangan harap dicoblos.

NPWP: Nomer Piro Wani Piro!

Jangan salah rakyat alias wong cilik. Selama reformasi mereka sudah banyak belajar dari wakil-wakilnya di legislatif, eksekutif, bahkan yudikatif yang ugal-ugalan. Wani piro?

1 comment:

  1. kenapa ya zaman sekarang suara bisa diukur dengan uang sayang banget sebetulnya. Ini yang bikin korupsi terus

    ReplyDelete