03 April 2014

Black Sweet, Band Legendaris dari Papua



Pagi tadi, saya mendengar beberapa pemuda asal Papua di Surabaya bernyanyi lagu pop lawas. Lagu yang sangat terkenal di kawasan Indonesia Timur, termasuk pelosok NTT, sebelum tahun 2000. Saya tahu lagu itu: PUSARA TAK BERNAMA ciptaan Sam Kapisa.

Dalam belaian angin gersang
Di atas bukit nan sepi
Engkau terbaring
Dalam tidurmu yang lelap

Dalam temaram senja kelabu
Di sisi lorong yang sempit
Engkau tertidur
Di kesunyian abadi

Engkau dilupakan namamu
Di lembaran bunga bangsa
Engkau dilupakan jasamu
Di lembaran sejarah

Nama band lawas yang sudah tak aktif ini, maklum pemainnya pasti sudah tua-tua, adalah BLACK SWEET. Nama yang mengingatkan kita pada Black Brothers, juga band asal Papua, yang lebih dulu ngetop di Jakarta. Gaya musik, karakter vokal, cara bernyanyi, pun sama dengan Black Brothers.

Album pertama Black Sweet, Pusara Tak Bernama, diproduksi Dunia Musik Records, Jakarta, 1982. Masa-masa ketika Black Brothers masih berkibar di industri rekaman tanah air. Maka, album ini pun melejit sampai ke pelosok.

Buktinya, ketika masih SD di kampung halaman, Lembata, NTT, saya sering mendengar lagu ini diputar warga yang baru pulang dari tanah rantau di Malaysia atau Papua. Dulu, banyak juga warga NTT yang merantau di Papua, khususnya Sorong, Fakfak, dan Jayapura. Anak-anak pun biasa menyanyikan bagian refren (chorus) dengan berbagi suara satu, dua, tiga.

Pusara tak bernama
Kau ditinggal, terlantar penuh debu
Pusara tak bernama
Siapa pemilikmu sejak itu 
Pahlawan.......

Lagu Pusara Tak Bernama ini sangat menarik karena menceritakan nasib pahlawan tak dikenal. Pejuang-pejuang yang terlupakan setelah merdeka. Menjadi menarik karena yang menyuarakan itu band Papua, wilayah yang baru bergabung dengan Indonesia usai penentuan pendapat rakyat tahun 1962.

Didirikan tahun 1977, band Papua ini baru bisa mnembus industri rekaman di Jakarta setelah nekat merantau. Black Brothers yang menjadi penarik atau lokomotif band ini mencapai kegemilangan pada masanya.

Pilihan musiknya manis, melankolis, enak didengar seperti nama band ini: Black Sweet. Wajah boleh sangar, rambut keriting, kulit legam, tapi hatinya halus.

Sayang sekali, kejayaan band-band Papua seperti Black Brothers dan Black Sweet, yang dimotori oleh Steven Letsoin, ini tidak diikuti oleh generasi muda Papua. Sekarang tidak ada lagi band asal Papua, bahkan penyanyi Papua, yang berjaya di industri hiburan Indonesia. Musisi-musisi dari Indonesia Timur lainnya, seperti Maluku yang dulu sangat dominan, kini hanya menjadi cerita masa lalu.

4 comments:

  1. salam kenal bung....group band asal papua yg ada skrg yaitu abresso di jakarta n abouwhim di sbya, abouwhim pasti bung kenal,memang dorang ini tidak punya nama besar spt black brothers/black sweet.

    ReplyDelete
  2. band2 papua cukup banyak tapi cuma eksis di tanah papua. sekarang sulit menembus industri rekaman karena trend musik sudah berubah, vokal2 macho ala papua kayaknya kurang disukai industri musik kita yg cenderung makin feminim. mungkin suatu saat gaya musik dan nyanyi ala papua bisa disukai kembali. siapa tahu to????

    ReplyDelete
  3. Akh lagu ini.. saya juga sering dengar waktu kecil dulu ama, hehehe, apalagi Lagu Kau, Aku dan Dia...

    ReplyDelete
  4. lagunya cukup bagus dan membangkitkan jiwa nasionalisme

    ReplyDelete