29 March 2014

Sascha Stevenson yang Menabrak SARA

Sumber:  http://www.youtube.com/watch?v=9QpBXkcCxIo


Tidak ada yang menyangkal bahwa Sacha Stevenson itu jenius. Video-videonya di Youtube tentang Indonesia yang penuh parodi, sarkasme, menertawakan tingkah pola orang Indonesia sangat bagus. Luar biasa! Saya selalu terbahak-bahak setiap kali menonton video apa saja.

Tapi rupanya orang Kanada, yang sudah belasan tahun tinggal di Indonesia ini, lupa dengan SARA. Kepekaan soal SARA atau suku, agama, ras, golongan sejak dulu selalu menjadi rambu-rambu utama di media massa. Termasuk Youtube.

Orang harus kreatif, bebas beropini, lewat film, video, tulisan, atau apa saja. Tapi jangan sampai menabrak pagar SARA. Itulah yang tampak dalam video berjudul How to act Chinese Indonesian.

Ada beberapa kalimat Sacha di Youtube yang tidak enak didengar. Bukan hanya bagi orang Tionghoa, tapi saya yang bukan Tionghoa alias pribumi. Kok bisa ya ngomong begitu mbak yang belasan tahun jadi guru bahasa Inggris di Indonesia.

Sacha mengatakan orang China di Indonesia itu rata-rata sukses, kaya, tapi CARANYA NGGAK BENAR. Kemudian dengan bahasa Indonesia yang fasih dan gaya yang sinis, wanita bule ini melanjutkan:

"Sacha itu meskipun semiskin apa pun pasti percaya bahwa rezeki itu dari Allah. Kalau mereka (Tionghoa) percaya sama kucing."

Sampai di sini saja kita sudah malas menonton kelanjutan akting sang bintang asal Kanada ini. Dari mana Sacha dapat data bahwa orang Tionghoa itu kaya dengan cara tidak benar? Kalau hanya mendengar omongan ngawur di pinggir jalan, kemudian jadi bahan film ya payah banget.

Di negara hukum seperti Indonesia, ada pemerintah dan aparat hukum yang mengontrol pedagangan, pabrik, dan sebagainya. Kalau ada pengusaha melanggar hukum, tentu aparat hukum turun tangan. Sangat naif menganggap orang Tionghoa secara general menjadi sukses dan kaya dengan cara tidak benar.

Saya kira Sacha tidak mendapat advis yang cukup dari orang-orang di sekitarnya saat membuat video ini. Atau, bisa saja Sacha hanyalah aktor yang menyuarakan pendapat orang-orang dekatnya, masyarakat setempat, tanpa mencari opini pihak Tionghoa. Aneh juga karena biasanya orang Barat sangat peduli dengan riset.

Yang paling fatal adalah soal AGAMA. Ini unsur SARA yang sangat-sangat gawat di Indonesia karena sensitif. Apalagi sudah menyerang dan malah menertawakan keyakinan lain, yang ternyata tidak demikian aslinya.

Orang Tionghoa percaya pada kucing (dan tidak percaya Tuhan)? Wah, bahaya sekali kalimat Sasa di video yang sudah diklik 102.221 kali itu. Sasa rupanya tidak tahu bahwa orang Tionghoa di Indonesia itu banyak komunitasnya, ada macam-macam, menganut agama yang juga macam-macam.

Orang Tionghoa banyak yang muslim. Para pengusaha Tionghoa di Surabaya bikin Masjid Cheng Hoo, punya organisasi PITI. Sudah banyak kiai atau ustad Tionghoa.

Yang Katolik, Protestan, Pentakosta, dan berbagai aliran gereja lebih banyak lagi. Orang Kristen, termasuk Tionghoa, tentu percaya kepada Tuhan. Bukan kepada si kucing! Orang Buddha, Konghucu, Tridharma, dan penganut agama lain juga begitu.

Uskup Surabaya Monsinyur Sutikno orang Tionghoa. Pendeta-pendeta besar di Indonesia seperti Stephen Tong atau Alex Tanuseputra orang Tionghoa. Mana mungkin mereka-mereka ini percaya sama kucing.

Sekali lagi, bagaimana bisa seorang guru internasional sekaliber Sacha Stevenson membuat statement seperti itu di Youtube yang sangat populer itu. Mungkin, sebagai orang Kanada, Sacha tidak mau tahu dengan SARA dan sensitivitas orang Indonesia.

Tapi, kalau sudah lama tinggal di Indonesia, cari makan di Indonesia, bahkan punya suami orang Indonesia (kalau saya tak salah), ada baiknya pagar api SARA itu tidak ditabrak begitu saja.

Orang Surabaya bilang guyon ya guyon tapi ojo kebabalasan rek!

Guyonan yang kebablasan, SARA, tidak akan pernah membuat orang tertawa tapi malah merusak akal sehat dan selera makan kita.

12 comments:

  1. Bung Hurek, lawakan semacam ini sangat biasa di belahan bumi Amerika, namanya parodi, semacam satire. Biasanya, menertawakan diri sendiri atau kaumnya sendiri. Misalnya, Chris Rock yang orang hitam ya menertawakan tingkah laku orang hitam, atau menertawakan tingkah laku orang putih yang masih bersikap diskriminatif terhadap orang hitam.

    Khusus lelucon yang dikutip Bung Hurek, saya lihat itu bukan menertawakan Orang Cina / Tionghoa yang percaya kepada kucing, tetapi malah menertawakan orang pribumi yang "self-righteous", memuji diri sendiri bhw rejekinya dari Allah, dan mengejek Orang Tionghoa yang rejekinya dari kucing. Sarah mengejek dan menertawakan orang pribumi yang masih bersikap rasis, dan masih mau saja gampang percaya pada gambaran yang tidak masuk akal dan absurd tentang Orang Tionghoa. Begitu kira2.

    Memang suntingan video clip tersebut kurang rapi, sehingga bisa saja menimbulkan prasangka yang keliru. Tetapi sebenarnya tujuan Sara malah melawan SARA, bukan menyebarkan SARA.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya, ini ada penjelasan dari Sacha sendiri. Karakter yang ada di dalam video klip tsb ialah dengan "Sasa", karakter parodi, bukan Sacha.

      https://www.youtube.com/watch?v=4T6FYKCzkHc&list=UUfR8ONN-amN4h81rtQAx6Mw

      Delete
  2. Matur nuwun mas Amrik sudah komen. saya cuman risi dan gak enak aja melihat guyonan SARA yg diumbar di media massa kayak begitu. Saya bukan Tionghoa, saya juga bukan Islam. Tapi melihat episode CHINESE dan JILBAB-nya Sacha bikin terkejut setengah mati. Sekasar-kasarnya lawakan ludruk di Jawa Timur, konten SARA yg seperti itu sangat dihindari.

    Orang Jawa bilang ngono yo ngono ning ojo ngono! Tapi ya Sascha itu orang Kanada yg pasti beda psikososial budayanya dengan kita di indonesia.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bung Hurek, pertunjukan parodi di Eropa disebut Kabarett, dan di Jawa Timur disebut Ludruk. Umumnya si Kabarettist meng-olok2 pemerintah- dan bangsa-nya sendiri. Saya tidak pernah menonton Kabarettist yang mengejek bangsa lainnya. Apa yang telah dilakukan oleh wanita Canada itu, adalah pelecehan, penghinaan, tidak etis, walaupun yang digambarkan adalah kenyataan. Bolehkah kita memanggil seorang yang buta dengan si-buta, dst. Ber-kali2 saya menulis, yang boleh mengeritik negara Israel hanyalah orang Yahudi. Mengeritik orang cina, hanyalah wong cino. Demikian pula, sebagai WNI Keturunan- Tionghoa -Arab atau -India, jangan se-kali2 mengeritik Indonesia didepan orang bule, jika ada pribumi yang ikut mendengarkan. Pribuminya akan marah, tersinggung,
      walaupun kritikan itu semuanya kenyataan sebenarnya.
      Abang-saya dan istrinya lulusan Jerman, jadi di Jakarta banyak bule2 wanita Jerman yang berkunjung kerumah abang untuk ngopi dan ngobrol. Yah, tema obrolannya kebanyakan tentang kehidupan khususnya di Jakarta dan di Indonesia pada umumnya. Sebagai lelaki Asia, abang selalu menyingkir, jika ada para nyonya sedang ngobrol.
      Para wanita bule selalu mengkritisi kebobrokan Indonesia, tetapi mereka senang hidup di Indonesia, rumah dinas gede, bisa punya babu, jongos dan sopir. Siapakah mereka2 itu di Eropa ? Kan cuma seorang istri pegawai yang hidup di apartemen yang luasnya 70 -100 M2, masak, nyuci, ngosek WC sendiri ! Seorang tamu bule bertanya kepada abang;
      apa pendapat-mu tentang kritikan kami ? Jawab abang : Apa yang kalian cerita adalah kenyataan, semuanya benar, kalau lu tidak puas, angkat koper-lu, tinggalkan Indonesia ! Si-bule kaget; masakah orang tidak boleh kritik ? Boleh saja, tetapi tidak ada gunanya !

      Delete
  3. Dear Sascha Stevenson ,

    Kalau yg diomongkan itu hanya sekedar bahan "rasan2" or rasa gak puas lihat eknik tionghoa bnyk yg sukses dll ..., dan itu jd rasan2 disekitar pasar atau tetangga sih gak apa ...
    tp kalau smp untuk publick...., aplg profesi sbg "guru" ..
    bahwa keberhasilan itu baik dr etnik atau negara mana sj .. RUMUS nya sama .., yaitu tdk ada sukses yg di siram dr langit atau keluar dari kuku "kucing" ... semua perlu tantangan dan perjuangan ...., dan mbak sacha ..ya...
    ini mgkn bisa dipakai sbg bahan pemikiran ..kenapa kaum etnik tionghoa bisa sukses di ekonomi ..yah krn konsen di ekonomi ...
    dr yg level dagang ceketer pasar atau smp kelas bankir .. ini semua perlu rintisan ...
    Jd tolong kalau ngomong dipikir dulu ..
    mdh2am setelah ini anda menjadi "guru" yg lbh bijak ...

    "kucing emas"

    ReplyDelete
  4. Sebenarnya Mas Hurek. Saya yg notabene org tionghoa dan tinggal di jkt lama tau maksud sascha ttg kucing. She s trying to make a joke about it. Karena toko2 org cina di jkt seperti mangga dua atau kios2 mal milik org cina biasa di pajangin ama kucing kecil yg tangan nya melambai2 supaya pelanggan masuk. (meskipun kucing itu sebenarnya lebih ke japanese tradition) tp banyak pedagang cina pajang gt an agak tokonya rame. Ikut2an aja...buat syarat kalo org jawa bilang. Hahaha. Krn dia comedian dan mau lucu2an. Gw org cina bisa ngerti kok. Apalagi dia bilang ttg pemilihan kartu kredit apa yang bisa dpt discount. Ahhahaha temen2 gw org cina pada ngakak karena kena 100% kelakuan mereka kalo di mall mau bayar. Lighten up bro!!! Nice blog btw. Arek suroboyo neh skg!

    ReplyDelete
  5. Saya setuju 100% dengan pendapat Xiangshen di atas. Bahwa guyonan itu hanya akan lucu kalau kita menertawakan diri sendiri atau komunitas sendiri. Karena itu, saya salut luar biasa sama Andrea Hirata yg semua novelnya berisi guyonan segar, ledekan untuk kaumnya sendiri, orang Melayu Belitong. Dulu waktu mahasiswa, di kalangan mahasiswa2 Katolik pun banyak sekali guyonan segar tentang gereja, romo, suster, mudika, dsb yg sangat lucu karena meledek komunitas kita sendiri. Kalau menertawakan komunitas lain, itu bukan guyonan.
    Itu juga yg membuat ceramah2 almarhum Gus Dur selalu menarik karena selalu ada guyonan yg menertawakan perilaku orang atau pejabat Indonesia.

    ReplyDelete
  6. sascha ini menertawakan perilaku orang indonesia untuk cari duit. ujung2nya duit juga si bule itu. go to hell sascha!!!!

    ReplyDelete
  7. Betul om Hurek, di Amerika orang tidak boleh bilang "nigger" untuk menyebut warga African Ameican

    Tetapi ada yg bisa aman aman saja walaupun mengucapkan kata "nigger" berpuluh puluh kali

    Karena yg mengucapkan dari etnis African American sendiri :)

    Menertawakan kaumnya sendiri itu sah sah saja, biar nanti diselesaikan antar kaumnya sendiri

    Tetapi kalau sudah lintas etnis, jadi tidak lucu

    Sacha ini bilang ma'af kepada mereka yg tersakiti, tetapi tidak menghapus vudeo itu

    Mungkin dia masih butuh waktu untuk menjadi lebih bijak

    ReplyDelete
  8. Yg diperbolehkan (peraturan tidak tertulis) ialah kaum yang tertindas / lebih rendah kelas sosial ekonominya untuk menertawakan kaum atau golongan yang lebih kuat. Jadi, kalau orang hitam di Amerika membuat guyonan tentang orang putih, itu boleh, malahan lucu buat orang putih. Kalau pembantu buat guyonan tentang majikan (seperti Srimulat) itu boleh. Pribumi Jawa mengolok-olok Tionghoa, itu boleh. Tetapi Tionghoa mengolok-olok Jawa, wah jangan sekali-kali. Tetapi kalau yang lebih kuat (seperti orang Jawa) membuat guyonan tentang Orang Madura, Papua, atau NTT, itu rasis. Kira-kira begitu.

    You can make fun of your oppressor, tetapi jika pihak oppressor mengolok-olok yang lain, itu menendang orang yang sudah jatuh.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tolong jangan membeda-bedakan manusia mas. Semua manusia sama dan masing-masing punya perasaan. Janganlah mengejek orang lain kalau tidak mau diejek.

      Delete
  9. Saya seorang warga indonesia asli mempunyai pengalaman bnyk dgn karakter org2 bule, dr pengalaman, saya membaca dan melihat psikologi yg dibangun pd akhirnya baik itu cowok ataupun cewek bule, lebih mendominasi ke masalah ras, walaupun mereka tdk berucap ttg ras, org2nya gak prnh mw mengalah apalagi bersyukur jd sulit masuk ke pergaulan indonesia dan juga yg tidak keliatan itu matrenya, klo dibilang matre mungkin negaranya yg maju jd wajar bisa dimengerti

    ReplyDelete