24 March 2014

Salat boleh di langgar, tapi tidak boleh dilanggar



"Salat boleh di langgar, tapi tidak boleh dilanggar!"

Kutipan bagus ini saya baca di majalah Tempo lama, 9 November 2008. Tulisan Qaris Tajudin di rubrik bahasa.

Qaris hanya ingin menunjukkan perbedaan penulisan awalan di- dengan kata depan di. Prefiks atau awalan di- harus melekat pada kata dasar. Sedangkan kata depan (preposisi) di dipisah atau pakai spasi.

Contoh bagus ini dipetik Qaris dari ajaran guru bahasa Indonesianya di SMP. Bahkan, saya rasa banyak pula guru SD yang kasih contoh lain yang tak kalah bagusnya.

Sayang, sampai sekarang masih banyak orang Indonesia yang tidak bisa membedakan di sebagai awalan dan di sebagai kata depan. Kapan di ditulis terpisah, kapan harus pakai spasi alias dipisah. Padahal, orang-orang ini lulusan perguruan tinggi alias sarjana.

Bagaimana mungkin sarjana-sarjana asli Indonesia tidak bisa menguasai prinsip morfologi yang sangat elementer ini? Salahnya di mana? Guru bahasa yang tidak becus? Si mahasiswa atau murid yang ndablek?

Silakan bertanya kepada para penyunting atau editor atau redaktur buku, majalah, atau surat kabar! Waktu mereka habis hanya untuk membetulkan salah tulis di ini. Sudah banyak contoh dibuat untuk mempermudah pemahaman. Tapi ya salah terus!

Ketika penguasaan bahasa nasional kita belum mapan, di pihak lain, kita makin gandrung bahasa asing, khususnya Inggris. Tulisan-tulisan penuh dengan kata atau frase yang sebenarnya punya padanan dalam bahasa Indonesia.

Pekan lalu, seorang pembaca Kompas mengirim surat pembaca tentang kegandrungan seorang kolumnis tetap akan bahasa Inggris. Dalam satu artikel, penulis itu menggunakan sekitar 70-80 kata bahasa Inggris.

Apakah penulis itu memang begitu fasihnya berbahasa Inggris? Lebih fasih ketimbang berbahasa Indonesia? Belum tentu. Saya kok tidak yakin bahwa kolumnis itu mampu menulis dalam bahasa Inggris 100 persen.

No comments:

Post a Comment