04 March 2014

Romo Markus Solo Pastor Asal Flores di Vatikan



Koran Jawa Pos hari ini 4 Maret 2014 memuat cerita panjang tentang Romo Markus Solo Kewuta SVD. Dia pastor asal Flores Timur, NTT, yang bertugas di Kota Vatikan sebagai salah satu penasihat Sri Paus.
Romo asal Lewouran di kaki Gunung Lewotobi, tak jauh dari Larantuka, ini mulai mencuat sejak era Paus Benediktus XVI. Dia diminta ke Vatikan dan meninggalkan pos lamanya sebagai rektor sebuah universitas di Austria.

Orang Flores tentu ikut bangga. Gak nyangka ada orang dari etnis Lamaholot yang terpilih sebagai orang Indonesia pertama yang bertugas di Vatican City. "Itu semua karena kehendak Tuhan. Saya sendiri tidak pernah menyangka," ujarnya kepada saya suatu ketika.

Ditulis Doan Widhiandono, cerita perjalanan Romo Markus dari Flores Timur hingga ikut mengurusi Vatikan cukup menggelitik. Khususnya buat orang Lamaholot macam saya. Apalagi Mas Doan, sang wartawan yang punya story telling ability kelas maesto itu, memasukkan petikan lagu rakyat Lamaholot di tulisannya.

DOAN... DOAN KAE OLE NETE NETE DOAN KAE...

Syair tentang orang Lamaholot yang terbawa arus ke negeri yang jauh di rantau. Tak punya bekal makanan dan minuman. Tak punya uang untuk ongkos pulang.

Akhirnya, telantar di negeri orang. Membayangkan LEWOTANAH LAMAHOLOT dengan orangnya yang sederhana membuat air mata jatuh menitis.

SUSAH NIKI NIKI WAI TAKE
BAYANG TENA TENA METE TANI...

Yah, membaca kisah Romo Markus, yang ditulis dengan jurnalisme sastra, membuat siapa pun, khususnya orang Flores, punya sedikit kebanggaan. Siapa bilang orang Flores bodoh? Terbelakang?

Kisah Romo Markus Solo tentu tidak stragis syair lagu DOAN KAE itu. Beliau terinspirasi Romo Cor Smith SVD yang dulu bertugas di Lewouran dan sekitarnya. Berkeliling kampung naik kuda, bagi-bagi permen, memberikan obat kepada warga yang sakit.

Potret khas misionaris SVD asal Eropa yang sangat mewarnai kehidupan masyarakat Flores dan sekitarnya hingga pertengahan 1990an. Itulah yang mendorong Markus masuk Seminari Hokeng mengikuti jejak kakaknya, Yosef Bukubala Kewuta. Saat ini Romo Yosef Bukubala bertugas di Paroki Santo Paulus, Jalan Raya Juanda, Gedangan, Sidoarjo.

Pastor Markus yang lahir pada 4 Agustus 1968 ini, seperti ditulis Jawa Pos, mendapat penghormatan ala pejabat Vatikan. Ketika berada di kompleks Vatikan City, para tentara memberikan hormat dengan sikap sempurna.

Dia pun tersenyum lantas bercanda dengan wartawan Jawa Pos yang berjalan sambil menikmati aroma bunga sakura di musim semi. "Saya terlalu sering makan keju eropa," katanya.

AMA TUAN MARKUS,
OLE NETE MO MAI DOAN DOAN TETI ROMA...
PETEN KAME RIBU RATU PIA LEWOTANAH...

Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

No comments:

Post a Comment