06 March 2014

Pesta Sambut Baru di Flores: Boros tapi Perlu

Anak sambut baru di Maumere, Flores. Sumber: archief.nrl.nl 

Kemarin Rabu Abu. Mulai masuk prapaskah atau masa puasa 40 hari di Gereja Katolik. Lalu Paskah. Tak lama kemudian... Sambut Baru, begitu istilah orang Nusa Tenggara Timur, khususnya Flores, Lembata, Adonara, Solor yang mayoritas Katolik.

Dan kemarin saya dapat pemberitahuan dari kampung bahwa Ina, si keponakan yang manis, sebentar lagi sambut baru. Orang Flores sangat paham pesan pendek itu. Ehm.. Harus kirim duit kontribusi untuk pesta sambut baru.

Sambut baru itu istilah khas NTT untuk komuni pertama. Di Jawa sambut baru atau komuni pertama ini tidak ada apa-apanya. Anak-anak cukup pakai baju putih untuk mengikuti upacara penerimaan sakramen ekaristi pertama kalinya dalam hidup. Hanya orang Katolik yang sudah sambut baru yang boleh maju menerima komuni dalam setiap misa atau perayaan ekaristi di gereja.

Walaupun sudah dibaptis secara Katolik, kalau belum sambut baru, haram hukumnya ikut komuni. Dia boleh maju, tapi hanya untuk menerima berkat saja dari romo atau asisten imam. Karena itu, orang yang belum sambut baru dinilai orang Flores sebagai orang Katolik yang belum sempurna.

Di Jawa Timur, khususnya Surabaya, Malang, Jember, Sidoarjo, Gresik, setelah misa sambut baru, anak-anak cukup makan nasi kotak di aula paroki. Selesai!

Di Flores tidak begitu. Sambut baru itu pesta keluarga yang besar. Harus potong babi dan kambing. Kalau anak pejabat yang sambut baru tentu harus sembelih sapi karena undangan akan sangat banyak. Sambut baru bobotnya mendekati pesta atau resepsi pernikahan.

Entah sejak kapan sambut baru dipestakan sedemikian besar di Flores. Yang jelas, sudah turun-temurun seperti ini. Orang tua dan anak akan sangat sedih kalau sambut baru, upacara inisiasi Katolik itu, lewat begitu saja. Bisa jadi pembicaraan warga sekampung.

Karena itu, kritik tajam sejak dulu bahwa pesta sambut baru itu sangat boros, merugikan, tidak ada gunanya, lewat begitu saja di NTT. Pemerintah sejak era Gubernur Ben Mboi tahun 1980an bahkan bikin SK untuk menyederhanakan sambut baru.

Kambing dan babi jangan dipotong untuk pesta, tapi dijual jadi uang. Jadi modal. Tapi ya gak mempan. Bagaimana bisa melawan tradisi? Apalagi pejabat-pejabat itu juga malah bikin pesta sambut baru anaknya yang jauh lebih hebat.

"Witi nong wawe ega kae... Mo tolong taling esi," begitu pesan adik. Hehehe....

Kalimat dalam bahasa Lamaholot itu artinya begini: "kambing dan babi sudah ada... Anda tolong tambah (uang) sedikit".

Saya pun terdiam. Merenung kebiasaan turun-temurun di kampung halaman NTT itu. Bikin pesta sambut baru yang meriah banget. Mengalahkan pesta atau resepsi pernikahan di Jawa yang sangat ringkas, padat, bahkan cukup makan soto ayam... dan selesai.

Bukan apa-apa. Dulu saya pun termasuk barisan pengkritik pesta sambut baru yang boros. Tapi, kini, setelah berada jauh di negeri orang, bisa mengambil jarak, saya pun sadar bahwa sambut baru memang perlu sedikit dirayakan. Meski tidak harus terlalu boros hewan dan uang.

Sudah lama saya merenung dalam kesendirian di Jawa. Bahwa orang NTT, khususnya Flores Timur dan Lembata alias etnis Lamaholot, tidak pernah mengadakan pesta atau perayaan di keluarga seumur hidupnya. Pesta ulang tahun tak dikenal. Bahkan orang tua atau anggota keluarga tidak pernah ingat hari kelahiran anak atau saudara-saudarinya.

Maka, ucapan selamat ulang tahun atau happy birthday tidak pernah saya dengar di kampung saya. Pesta pernikahan di Flores Timur bukan urusan orang tua, melainkan keluarga besar suku atau marga. Semua ikut campur macam arisan yang berulang. Sebab, ada kaitan dengan belis atau mahar atau maskawin berupa gading gajah dan sebagainya.

Karena tidak punya tradisi pesta ulang tahun itulah, saya berpikir, mungkin sambut baru jadi kompensasi. Sekali seumur hidup tak ada perayaan lagi untuk anak-anak.

Apalagi anak-anak lebih banyak yang keluar kampung untuk melanjutkan sekolah atau merantau di Malaysia Timur. Dan, ketika pulang kampung setelah 10 tahun, mungkin ibu atau bapaknya sudah tidak ada lagi.

Si anak hilang pun hanya bisa mengenang masa kecil, ketika orang tua masih lengkap, bahwa dulu... dulu sekali... dia pernah menikmati bahagianya menjadi star dalam pesta sambut baru. Didampingi ibu dan ayah, disalami tamu undangan yang terus berdatangan.

Maka, ketika membaca koran Pos Kupang yang mengecam habis tradisi pesta sambut baru yang boros di NTT, saya hanya bisa diam. Lalu tersenyum sendiri. Sebab, saya tahu persis pejabat, pengamat, atau wartawan yang mengkritik itu pun tak akan mungkin melewatkan sambut baru anak atau keluarga besarnya.

Yah, jauh lebih mudah mengkritik dan mengecam orang lain! Sementara kita sendiri pun biasa melakukan perbuatan yang kita kecam itu.

Akhirnya, teman-teman NTT di luar NTT, selamat prapaskah... dan siap-siap transfer uang ke kampung untuk sambut baru keponakan!


Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

4 comments:

  1. Penggemar Bahasa12:25 PM, March 06, 2014

    Artikel ini sangat bagus. Sedikit catatan bahasa Inggris, prodigy = anak berbakat luar biasa. prodigal = suka berfoya-foya (seperti di cerita Yesus). Anak hilang (dalam arti merantau seperti konotasi ini) mungkin lebih baik disebut "the long lost child"

    ReplyDelete
    Replies
    1. Matur suwun mas Penggemar Bahasa. Maaf atas frase bahasa Inggris yg kurang tepat itu. Saya memang terinspirasi perumpaan anak hilang di Alkitab, kemudian dianalogikan dengan kebiasaan orang kampung saya yg merantau sangat lama di negeri orang. Eh, ternyata keliru!

      Sekarang dua kata itu, prodigy son, sudah saya hapus. Sekali lagi, terima kasih banyak.

      Delete
  2. Tahun ini putri pertama saya juga akan sambut baru di Pekanbaru, direncanakan neneknya dari Adonara akan hadir pada saat peristiwa besar tersebut.
    sebagai orangtua yg dulu sambut komuninya juga dirayakan dengan bgitu meriah, maka kami juga ingin putri kami merasakan kegembiraan yg sama ...
    tradisi ini sepertinya akan keep going !
    hehhehhe ...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima Kasih Ama, sudah menulis komentar soal sambut baru. Ini memang tradisi kita di kampung yg sudah berjalan dari generasi ke generasi, bahkan dipelihara sampai ke Sumatera (Pekanbaru)... hehehe....

      Salut karena nenek dari Adonara pun menyempatkan datang untuk pesta sambut baru. Luar biasa! Semoga semuanya lancar dan penuh berkat dari Tuhan. Saya sendiri selalu ingat suasana tahun baru ketika saya masih kelas 3 SD di Lembata.

      Salam Nusa Tadon, lewo diken tana sare. Doan-doan lau Riau, ake lupang koli lolon hehe

      Delete