16 March 2014

Pendeta kok jadi caleg?

Begitu pertanyaan seorang teman yang bukan nasrani. Orang ini tidak bisa membedakan katolik, protestan, pentakosta, baptis, advent, bala keselamatan, karismatik, pentakosta baru, dsb. Sehingga kita sulit menjawab pertanyaannya dengan enak.

Bukan apa-apa. Aliran atau denominasi yang banyak itu ada kaitan dengan inflasi pendeta saat ini. Dan itu hanya di denominasi tertentu saja. Gereja-gereja aliran tertentu malah kekurangan pendeta. Sebaliknya, ada pendeta yang kerjanya tidak jelas.

Seorang romo atau pastor Katolik di Surabaya rata-rata melayani 2000 umat. Sementara ada pendeta pentakosta yang umatnya tak sampai 100. Dus, kesibukan pendeta-pendeta itu juga berbeda-beda sesuai dengan mazhab atau aliran gerejanya.

"Si pendeta jadi caleg karena tidak profesional," begitu jawaban saya. "Kalau benar-benar profesional, si pendeta itu pasti tak punya waktu untuk urusan politik, nyaleg, dsb. Waktunya habis di gereja dan jemaatnya."

Yah, di pinggir jalan raya di Surabaya dan Sidoarjo memang ada baliho caleg dengan embel-embel PDT (pendeta) dan PDM (pendeta muda). Dilihat dari rekam jejaknya, pendeta-pendeta caleg ini bukan pendeta yang sibuk. Tidak profesional banget.

Karena itu, dengan gelar pendeta yang mudah didapat di denominasi gereja tertentu, mereka mudah saja memasang embel-embel 'pendeta' sebagai modal sosial. Siapa tahu orang Kristen akan memilih dirinya. Ketimbang memilih caleg yang bukan pendeta. Apalagi yang bukan golongan kita.

Cara berpikir yang tidak pantas dilakukan orang yang mengaku pendeta. Cara berpikir yang setback ke zaman kegelapan di Eropa ketika rohaniwan, klerus, main politik praktis sehingga menimbulkan kekacauan yang hebat di lingkungan gereja. Bisa dipastikan para pendeta caleg itu belum baca sejarah gereja.

Siapa pun bebas nyaleg. Tapi, ingat, ketika nyaleg embel-embel pendeta, pendeta muda, pendeta tua, atau pendeta setengah tua harus dilepas. Cukup pasang foto + nama + partai.

Nggilani, kata orang Jawa, kalau membawa-bawa sebutan pendeta untuk kampanye caleg. Toh, jabatan pendeta itu hanya berlaku di lingkungan yang sangat terbatas, yakni di gerejanya sendiri. Di luar itu ya orang biasa sajalah!

Sayang sekali, di Surabaya ini banyak umat Kristen tidak kritis dan tega membiarkan pendeta-pendetanya kecemplung di lautan politik praktis yang menghanyutkan. Jangan-jangan malah mereka yang mengompori si pendeta untuk nyaleg. Jangan-jangan mereka malah bangga karena pendetanya jadi politisi.

Ah, kacau!

1 comment:

  1. setuju, semua warga negara boleh nyaleg tetapi harus dipisahkan bahwa gereja atau tokohnya, tidak boleh terlibat politik praktis, gereja harus netral dan tidak boleh membawa isu2 politik tertentu selain berbicara kemanusiaan, seharusnya embel2 atau title pendeta ga usa dibawah2, malu2in coiiiiiiiiiiiii :)

    ReplyDelete