15 March 2014

Pemilu 2014 Makin Pragmatis tanpa Ideologi

Tak jauh dari tempat saya nongkrong di dekat Jembatan Suramadu, saat ini, empat orang sedang memasang baliho kampanye Baktiono. Caleg DPRD Kota Surabaya dari PDI Perjuangan. Baktiono sudah lama jadi anggota dewan dan rupanya belum kenyang jadi wakil rakyat.

Pemasangan atribut kampanye sebetulnya sudah lama dilakukan. Sehingga tahapan kampanye terbuka 16 Maret tak akan memberi gairah politik baru. Para caleg pun mungkin sudah habis banyak duit untuk sosialisasi alias kampanye tertutup itu.

Yang menarik, bagi saya, suasana menjelang pemilu 9 April 2014 ini jauh berbeda dengan pemilu-pemilu sebelumnya. Khususnya pemilu pertama pascareformasi, 1999. Itulah pemilu paling ideologis dan mencemaskan, selain pemilu 1955.

Partai-partai saat itu rajin jualan kecap ideologi sebagai partai yang paling mampu membawa Indonesia ke gerbang kemakmuran. Mau tidak mau unsur SARA pun dibawa-bawa. Ada partai yang merasa paling Islam, punya resep langsung dari Tuhan.

Isu agama sengaja diangkat untuk meraih suara sebanyak mungkin. Hasilnya memang lumayan bagus. Partai Keadilan yang sangat ideologis itu dapat suara signifikan. Begitu pula partai-partai Islam lain.

Pertarungan ideologi berlanjut menjelang sidang umum MPR. Lagi-lagi politisi islamis bikin manuver dengan Poros Tengah sehingga PDI Perjuangan yang menang pemilu nyaris tidak dapat apa-apa. Bu Megawati hanya kebagian jatah wakil presiden.

Pertarungan ideologi paling berat bahkan sudah merembet ke dasar negara dan konstitusi. Pasal 29 UUD 1945 tentang agama dan kepercayaan hendak diubah di sidang umum MPR. Konflik ideologi yang mengingatkan kita suasana politik yang kisuh pada 1950an dan 1960an.

Puji Tuhan, PDI Perjuangan bersama TNI/Polri dan kekuatan nasionalis berhasil mempertahankan Pasal 29 UUD 1945. Sejak itulah konflik ideologi perlahan-lahan mereda. Apalagi muncul kekuatan baru bernama Partai Demokrat yang menonjolkan pesona Susilo Bambang Yudhoyono.

Partai Demokrat bikinan SBY melejit. SBY pun jadi presiden. Pesona SBY makin mantap pada pemilu 2009 dengan kemenangan besar Demokrat. SBY menang pilpres hanya dengan satu putaran saja.

Ideologi partai, khususnya dikotomi islamis dan nasionalis, makin mencair. Boleh dikata partai-partai tak punya ideologi lagi. Ideologinya makin mengerucut: UANG! Ketuhanan yang maha esa digeser oleh keuangan yang mahakuasa!

Kini, menjelang pemilu 9 April 2014, suasananya lebih pragmatis lagi. Konflik ideologis nasionalis vs islamis sudah lewat. Caleg-caleg bahkan terlibat perang sesama caleg dari partai yang sama di daerah pemilihan (dapil) yang sama. Teman makan teman!

Karena itu, beberapa caleg di Surabaya dan Sidoarjo, bahkan pengurus partai, tidak mau kampanye terbuka. Lebih baik caleg-caleg itu memasarkan dirinya sendiri-sendiri langsung ke pemilih di dapilnya.

4 comments:

  1. Saya penggemar tulisan anda Bung. Tapi kali ini anda sangat tendensius sekali. Tolong kutipan anda berikut ini:
    "Maka, tidak heran ada politisi dari partai yang dulu sangat ideologis, agamis, tertangkap basah menerima suap dan begumul dengan lonte di kamar hotel. "
    dapat anda pertanggungjawabkan. Siapa politisi tersebut? Dan apa jabatan di partai.
    Sayang untuk sekaliber Hurek, masih terjebak pada kentalnya emosi perasaan.

    Salam.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih atas masukan dan koreksi anda, mas Julianto. Kasus ini sudah lama sekali tapi selalu saya ingat karena dulu bolak-balik tayang di infotainment. Mohon maaf yg besar kalau tulisan curhat ini membuat anda keberatan atau tersinggung.

      Silakan cari lewat mbah Google, masih ada arsipnya.
      Salah satunya di sini:
      http://regional.kompas.com/read/2008/07/08/17002933/Dialog.Saat.Al.Amin.Pesan.Cewek


      KOMPAS.COM Selasa, 8 Juli 2008

      Dewan Pimpinan Pusat Partai Persatuan Pembangunan (DPP PPP) melalui Sekjennya, Irgan Chairul Mahfidz secara khusus kepada persda network, Selasa (8/7/2008) menyatakan kekecewaannya, terkait terungkapnya kasus lain dalam persidangan Al Amin Nur Nasution di Pengadilan Tipikor, Senin (7/7/2008).

      Yang membuat DPP PPP resah dan malu adalah, kata Irgan, terkait percakapan telepon Al Amin dengan Sekda Bintan Provinsi Riau, Azirwan yang ternyata, Al Amin memesan wanita penghibur untuk memuluskan alih fungsi hutan lindung Bintan.

      "Jelas, kami (partai) merasa malu dengan terungkapnya itu. Apalagi, yang bersangkutan malah meminta," cetus Irgan Chairul Mahfidz.

      Dalam persidangan Tipikor, percakapan ini dibuka oleh jaksa penuntut umum (JPU) yang tentu saja, membuat para wartawan, termasuk pengunjung sidang terkaget-kaget mendengarnya. Berikut sepengggal pembicaraan Al Amin dengan Azirwan melalui telepon yang berhasil disadap oleh KPK.

      Al Amin Nasution (AAN): Di mana, bos?
      Azirwan (A): Di Ritz Carlton.
      AAN: Namanya?
      A: Mistere, tempatnya turun lift satu.
      AAN: Jam berapa?
      A: Jam 10-lah. Bos mau dicariin satu gitu. Tapi aku tak janji. Kalau diupayakan nanti, selera bos payah pula.
      AAN: Ya, carikanlah.
      A: Yang kira-kira udah lama aku kenal, bos ini paham kan kira-kira.
      AAN: Yang kayak tadi malam kan bagus juga yang baju putih itu.
      A: Tak bagus.
      AAN: Udah dipakai ya?
      A : (Tak jelas terpotong interupsi) Nanti aku carikan yang bagus.

      Irgan kemudian menjelaskan, atas terungkapnya ini, dalam tempo waktu yang tidak terlalu lama DPP PPP akan menggelar rapat untuk memutuskan masa depan Al Amin Nur Nasution sebagai kader partai. Irgan mengaku sudah menyiapkan beberapa sanksi yang akan diberikan kepada suami pedangdut Kristina ini.

      Delete
  2. thanks berat klarifikasinya Bung Hurek.
    Klir sudah.
    Karena bagi saya PPP bukan partai Islam sesungguhnya. Meski menggunakan simbol Ka'bah sekalipun.

    ReplyDelete
  3. semoga tahun ini gak ada golput, dan presiden yang terpilih benar2 yang terbaik.

    ReplyDelete