25 March 2014

Orang Flores nyaleg di Jawa Timur

Di tengah kota Sidoarjo saya lihat cukup banyak poster caleg berwajah NTT. Dibingkai warna kuning khas Golkar, si empunya gambar itu bernama Silvester. Yah, dia memang orang Flores Barat, NTT, yang sudah lama jadi warga Sidoarjo.

Pak Silvester rupanya sengaja pasang poster di Jl Monginsidi dan sekitarnya, mungkin, karena banyak gereja. Setidaknya sebagian besar orang Flores rutin ke gereja katolik di Monginsidi 15. Bisa juga jemaat Protestan di GKI dan GPIB Sidoarjo ikut menengok si bung ini.

"Saya ingin melayani masyarakat melalui jalur legislatif. Namanya juga perjuangan," kata Pak Silvester kepada saya beberapa waktu lalu.

Bagi pengurus Golkar ini, jadi atau tidak, terpilih atau tidak, terserah rakyat. Dia hanya berjuang, berusaha, mendatangi konstituen di dapil Sidoarjo - Candi - Tanggulangin untuk memperkenalkan diri.

"Saya serahkan sama Tuhan. Bagi Tuhan tidak ada yang mustahil," katanya mengutip Perjanjian Baru. Gaya bicaranya seperti katekis atau bekas frater. Hehehe...m

Tak hanya Silvester, di Gerindra pun ada beberapa nama Flores. Di PKPI ada pula. Mereka kelihatan cukup percaya diri ikut pemilu legislatif meskipun Sidoarjo itu sarangnya nahdliyin alias PKB. Mereka yakin bisa menang meskipun kurang populer dan bukan putra daerah.

Di Surabaya pun ada beberapa wajah Flores di musim kampanye ini. Apa gak nekat? Hitung-hitungannya bagaimana? Basis massanya di mana? Saya kurang tahu.

Siapa tahu menang dan jadi anggota parlemen. Toh nyaleg ini kan mirip main judi. Menang ya syukur, kalah hampir pasti. Duit yang hilang di meja judi, eh meja pileg, anggap saja untuk buang sial.

Dengan sistem pemilu terbuka macam sekarang, peluang caleg-caleg yang tak punya akar kultural, modal sosial, dan modal uang sangat-sangat tipis. Sangat beda dengan caleg yang juga pengurus muslimat atau fathayat atau aisyiyah yang punya jaringan, massa loyal, serta kesetiaan ideologis.

Karena itu, sangat sulit bagi caleg-caleg asal Flores bisa menembus parlemen di Jawa Timur seperti di era Orde Baru atau awal reformasi. Dulu tidak ada dapil-dapil kecil macam sekarang. Dulu satu kabupaten atau provinsi satu dapil. Pakai sistem nomor urut.

Dulu rakyat disuruh mencoblos gambar partai, bukan gambar caleg. Karena itu, caleg-caleg asal Flores yang dapat nomor kecil kemungkinan besar jadi. Apalagi caleg Golkar karena partai ini sudah didesain untuk menang minimal 70 persen. Itulah sebabnya, sejak dulu selalu ada orang Flores yang duduk di DPRD Jawa Timur seperti Lambertus Wayong.

Sayang, saat ini Pak Lambertus Wayong dijebloskan ke penjara karena korupsi saat menjadi anggota dewan. Nama beliau pun menjadi tidak harum lagi.

Mudah-mudahan kasus Lambertus Wayong ini menjadi pelajaran untuk caleg-caleg asal Flores yang lagi gencar kampanye di Surabaya dan Sidoarjo. Lebih baik tinggal di gubuk derita ketimbang di penjara yang bagus di Porong, Medaeng, atau Sidoarjo.

No comments:

Post a Comment