04 March 2014

NTT Perlu Meniru Risma dan Jokowi

Betapa bedanya bupati-bupati di NTT dengan Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo dan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini (Bu Risma). Betapa rakyat di Surabaya antusias dengan gaya Risma yang merakyat dan suka blusukan... dari dulu!

Jauh sebelum istilah 'blusukan' populer gara-gara Jokowi di Jakarta, Bu Risma sudah lebih dulu blusukan. Bahkan jauh sebelum wanita tangguh ini jadi wali kota Surabaya. Saat masih menjabat kepala dinas kebersihan dan pertamanan, Risma lebih sering di lapangan daripada di kantor.

Itulah yang membuat taman-taman di Surabaya menjadi sangat banyak dan terawat. Risma itu identik dengan taman, penghijauan, kebersihan, green and clean, merdeka dari sampah.

Maka, ketika naik sebagai wali kota, acara blusukannya makin gila saja. Tak peduli hujan deras, Risma turun langsung untuk melihat pintu-pintu air. Saya beberapa kali melihat Bu Wali Kota ini mengatur lalu lintas kayak supeltas di Wonokromo, depan RSI.

Lha, bagaimana warga Surabaya tidak mencintai Bu Risma? Inilah sebabnya warga ramai-ramai meminta Bu Risma tidak mundur ketika sang wali kota mengalami tekanan politik yang sangat besar. Salah satunya, memaksakan Wisnu SB sebagai wakil wali kota, padahal Wisnu itu dulu ngotot menggulingkan Risma!

Di NTT kita selalu mendapat cerita yang berbeda 180 derajat. Warga + politisi ingin menggulingkan bupati karena berbagai alasan. Akhirnya, Bupati Sunur di Lembata pun dipecat dua minggu lalu oleh dewan.

Bupati sebelumnya pun selalu didemo, disuruh turun. Untung masih bisa menyelesaikan tugasnya sampai tuntas. Bupati Flores Timur pun (dulu) digoyang karena dinilai bobrok dan ngawur. Sebab bupati itu ingin menjebloskan pastor-pastor kritis ke penjara. Romo Frans Amanue diadili hanya karena pernyataan dan tulisan di koran.

Mantan wali kota Kupang, Daniel Adoe, sedang diadili karena kasus korupsi. Bupati Ngada juga berurusan dengan polisi gara-gara memerintahkan satpol PP untuk memblokade bandar udara. Bupati-bupati lain pun imejnya kurang bagus. Khususnya dugaan KKN dalam rekrutmen PNS.

Bagaimana NTT bisa maju kalau pemimpinnya tidak bekerja untuk rakyat? Kalau Risma dan Jokowi suka blusukan ke kampung kumuh, tempat sampah, pejabat-pejabat di NTT malah lebih suka blusukan ke Kupang atau Jakarta.

Dulu saya sering memergoki pejabat NTT yang selalu menghadiri acara komunitas tertentu di Surabaya. Jauh-jauh dari Kupang hanya untuk acara tidak penting yang tidak ada hubungan dengan pemerintahan dan kepentingan rakyat NTT. Sementara si pejabat itu malah tidak pernah blusukan ke Lembata, Alor, Pantar, dan sebagainya.

Maka, jangan heran melihat jalan-jalan rusak di berbagai kawasan di NTT dibiarkan 10 sampai 20 tahun. Tak ada perbaikan. Karena pejabatnya memang tidak tahu kalau infrastruktur di wilayahnya memang hancur.

Saya pun tertawa sendiri membaca alasan DPRD Lembata memberhentikan Bupati Sunur. Seperti dimuat Kompas, Bupati Sunur ini katanya dalam setahun hanya tiga bulan di wilayah Kabupaten Lembata. Sisanya sembilan bulan justru blusukan di Jakarta.

Lha, buat apa blusukan di Jakarta? Kan sudah ada Pak Jokowi dan Mister Ahok!


Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

No comments:

Post a Comment