29 March 2014

Mengunjungi Sekolah di Tambak Pucukan Sidoarjo



Dusun Pucukan, Desa Gebang, masuk wilayah Kecamatan Sidoarjo Kota. Tapi anehnya kampung tambak ini paling terisolasi di Kabupaten Sidoarjo. Akses jalan darat sulit, apalagi musim hujan.

Maka, kita hanya bisa mengandalkan perahu motor untuk menjangkau kampung tambak dengan 55 keluarga itu. Naik perahu dari Kedungpeluk, Candi, perjalanan kira-kira butuh waktu 50-70 menit. Itu pun harus tunggu air pasang.

"Kalau airnya surut, kita harus menunggu sampai tiga jam lebih. Alhamdulillah, hari ini airnya bagus," ujar Mulyono, 30, pengemudi perahu milik Pemkab Sidoarjo, kepada saya.

Jalur sungai kecil itu berkelok-kelok sehingga sang sopir sering memperlambat atau menghentikan kendaraannya. Belum lagi bila baling-baling tersangkut ranting pohon atau sampah rumah tangga. Nah, ini dia, sungai di Sidoarjo memang sudah lama tercemar rupa-rupa polutan.

Kamis 27 Maret 2013. Saya bersama dua wartawan lain, Isna dan Nugroho, diajak menengok sekolah dasar di sana. Namanya SDN Gebang 2. Kami menumpang perahu pemkab yang khusus disediakan untuk guru-guru sekolah itu. Pak Suwarno kepala sekolah ditambah tiga guru (Sumini, Ihwal Praja, Adib Astiawan).

Empat guru ini setiap hari kerja naik perahu bermesin Honda yang masih greng itu. Kalau bosan di air, sekali-sekali mereka nekat menjajal jalan darat dengan sepeda motor. Kelihatan berat sekali medannya, jauh di pelosok, tapi guru-guru itu very happy. Bu Sumini bahkan sudah tujuh tahun mengajar di SDN Gebang 2 dan tidak mau dipindah.

"Suasana kekeluargaan di Pucukan ini luar biasa hebat. Sesama guru sangat kompak. Hubungan dengan murid dan orang tua mereka pun sangat baik," kata Bu Sumini di dalam perahu. Bu guru asal Kediri ini piawai mencairkan suasana dengan humor-humornya dalam bahasa Jawa kulonan yang asyik.

Pak Ihwal, Pak Adip, dan Pak Kasek ikut membumbui sehingga perjalanan tidak terasa. Tahu-tahu sudah sampai di dermaga depan sekolah.

Anak-anak SD Pucukan, total 22 orang, menyambut para guru di dermaga. Wajah mereka riang, pakai kaos olahraga biru. Tak beda dengan siswa di kota.

"Ibu, tadi pintunya digedor-gedor dari dalam. Tapi nggak ada orangnya," ujar beberapa murid dalam bahasa Jawa.

Bu Sumini tertawa kecil. "Sing gedor iku sopo. Lawange iku paling kene angin. Ono-ono wae hehehe," ujar guru kelahiran Kediri 9 Juni 1968 ini.

"Bisa jadi benar Bu. Soalnya di sini kan ada hantu tambak," saya menukas. Bu Sumini kembali tertawa.

Empat guru ini kemudian mengajak anak-anak masuk kelas. Pelajaran plus pengarahan dimulai. Karena muridnya sedikit, sebenarnya tidak memenuhi syarat sebagai sekolah mandiri, sistem belajarnya pun beda dengan sekolah kota.

Kelas 6 hanya empat anak. Kelas lain pun hanya tiga, empat, bahkan dua orang. Sering terjadi ada kelas yang tidak punya murid. Ini membuat suasana belajar lebih mirip les pivat.

Kondisi gedung sekolah lumayan bagus untuk ukuran kampung tambak. Cuma plafonnya rusak. Masih menunggu perhatian Pemkab Sidoarjo via dinas pendidikan. Saat ini bahkan sudah dibuat gedung baru yang lumayan bagus. Sayang, atapnya sudah bolong terkena angin kencang di muara sungai.

"Bangunan dua kelas ini belum diserahkan tapi sudah rusak. Maklum, tidak ada orang kota yang mengawasi proyek ini. Rawan sekali kalau tiba-tiba gedungnya ambuk karena tidak kuat," kata Pak Warno, kepala sekolah.

Setelah jalan-jalan keliling kampung Pucukan bersama Mas Mulyono, asli Pucukan, yang istrinya Suhartatik membantu mengajar agama Islam, saya kembali ke sekolah. Anak-anak asyik belajar. Kelas 5 dan 6 sama-sama belajar matematika.

Pak Ihwal siang itu menjelaskan tentang sistem metrik. Kilometer, hektometer, dekameter, meter, desimeter, sentimeter, milimeter. Lalu dikasih 10 soal di papan tulis. Anak-anak harus mentransfer senti ke kilo, deka ke mili, dan seterusnya. Wow, anak-anak tambak ternyata sangat antusias.

Suasana belajar di kampung tambak Pucukan ini sangat hidup. Anak-anak begitu spontan bertanya, percaya diri, juga penuh perhatian pada pelajaran. Ini berbeda dengan suasana belajar di sejumlah SMA atau universitas di Surabaya yang anak-anaknya cenderung cuek.

Cuma, yang paling menarik dan bikin saya heran, anak-anak SDN Gebang 2 ini belum bisa belajar dalam bahasa Indonesia. Baik guru maupun siswa sama-sama pakai bahasa Jawa. Guru berbahasa ngoko, murid-murid dalam bahasa krama madya atau tengahan.

Saya agak heran tapi bisa memaklumi kondisi begini. Di NTT, khususnya Flores Timur, seperti yang saya alami waktu SD di Lembata, bahasa daerah hanya dipakai sebagai bahasa pengantar sampai kelas 3. Karena bahasa Indonesia memang belum dikuasai anak-anak desa.

Tapi mulai kelas 4 bapak guru atau ibu guru di pelosok Flores Timur mengajar dalam bahasa Indonesia. Itu pun tidak bisa 100 persen. Anak-anak kampung itu dipaksa berbahasa Indonesia meski jatuh bangun dan tergagap-gagap. Saya sendiri baru bisa bicara bahasa Indonesia, agak lancar, ketika bersekolah di SMP swasta Katolik berasrama di Larantuka, ibu kota Kabupaten Flores Timur.

Di kampung tambak Sidoarjo, yang PLN belum masuk, pakai genset mulai pukul 17.00 hingga 23.00 ini anak-anak SD hanya berbahasa Jawa saja."Kalau ngajar pakai bahasa Indonesia mereka kesulitan menangkap. Tapi sebenarnya mereka paham kok," kata Bu Sumini.

Bagaimana dengan ujian sekolah atau ujian nasional? Apakah petugas dinas pendidikan datang ke Pucukan?

Sistem untuk sekolah-sekolah pelosok ini beda. Murid kelas enam yang cuma EMPAT orang itu dititipkan ke salah satu SDN di kota. Tahun ini Pak Warno bekerja sama dengan SDN Lemahputro di tengah kota Sidoarjo.

"Itu terserah kepala sekolahnya. Saya titip ke Lemahputro karena kebetulan saudara saya kepala sekolah di situ. Biar lebih gampang koordinasi," kata kasek yang sudah banyak mengusahakan pakaian batik untuk guru serta berbagai keperluan sekolah itu.

Saat ujian di Sidoarjo, anak-anak ini tinggal bersama kepala sekolah atau dititipkan di rumah guru yang lain. Yah, mirip keluarga sendiri.

Melihat antusiasme anak-anak Pucukan dalam belajar, sangat berani bertanya, meski pakai bahasa Jawa, saya yakin dalam 10 tahun ke depan wajah kampung Pucukan akan berubah. Mereka bisa jadi orang-orang kreatif, pengusaha hasil laut, atau apa saja yang membuat kampung di muara sungai ini jadi kinclong.

Syaratnya, sekolah lanjutan berupa SMP dan SMA atau SMK harus lebih dekat dengan Pucukan. Saat ini anak-anak Pucukan harus naik perahu ke Kepetingan untuk sekolah di SMP Satu Atap.

Mengapa SDN Gebang 2 di Pucukan ini tidak didesain menjadi sekolah 9 tahun saja. Dus, SD dan SMP dijadikan satu sehingga tidak perlu mencari SMP ke Sidoarjo atau pantai Kepetingan.

Tentu saja, SMP khusus ini wajib menggunakan bahasa Indonesia dalam kegiatan belajar mengajar. Kasihan juga kalau adik-adik di kampung tambak ini ketinggalan terlalu jauh, sementara teman-temannya di kota, yang jaraknya cuma 10 kilometer setiap hari cas-cis-cus pakai bahasa Inggris + Mandarin.

Pak Bupati, Abah Saiful, dan Pak Kadis Pendidikan Pak Mustain, jangan lupakan anak-anak tambak di muara sungai kawasan Sedati, Buduran, Sidoarjo, Candi, Tanggulangin, Porong, hingga Jabon.

Salam dari Pucukan, kampung tambak Sidoarjo!

19 comments:

  1. luar biasa sekolah terpencil di sidoarjo ini.
    pemkab perlu perhatikan agar ke depan SDM warga tambak bisa meningkat.

    ReplyDelete
  2. guru2 yg ditugaskan di sini harus benar2 berdedikasi tinggi dan berbaur dgn warga setempat. kalau nggak bisa stress... pemda juga harus memberikan insentif khusus untuk guru2 di daerah terpencil.

    ReplyDelete
  3. Yang patut kita belajar adalah komitmen bapak dan Ibu guru di sekolah tersebut, dimana selain perjalanan yang jauh, naik perahu, juga ketika siang atau sore hari ada air pasang, maka Bapak dan Ibu guru yang di sekolah tersebut bisa menginap di sekolah karena kapal tidak bisa jalan ketika sungai pasang.

    ReplyDelete
  4. kalo gak salah SDN pucukan ini jad binaan temen2 mahasiswa Unair Surabaya.

    ReplyDelete
  5. Mobil 4x4 bisa nyampe ke lokasi ngga ya...? thx infonya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gak iso cak! Jalannya terlalu sempit dan berat untuk roda 4. roda 2 aja sangat berat ke Pucukan. Pemkab sidoarjo sudah berusaha memperbaiki jalan setapak ke pucukan tapi belum ada perkembangan yg signifikan. suwun

      Delete
  6. Matur suwun mas, oleh-olehnya dari Pucukan. Cuma ingin mengomentari tentang bahasa Jawa sebagai bahasa pengantar di kelas 1-3 SD. Menurut saya itu bukan hal yang buruk, bahkan mungkin perlu dilakukan supaya anak-anak punya dasar bahasa daerah yang kuat sebelum diperkenalkan ke bahasa Indonesia. Sebab yang terjadi sekarang, anak-anak diperkenalkan dengan bahasa Indonesia dari dini, akibatnya malah anak-anak sulit berkomunikasi dengan bahasa Jawa. Makanya saya sungguh takjub ada sekolah di Sidoarjo dengan bahasa pengantar bahasa Jawa.

    Bahasa Indonesia, Inggris, Mandarin, Jepang, Prancis, Jerman, itu bisa dipelajari nanti.

    ReplyDelete
  7. menarik dan unik sekolah terpencil seperti di Pucukan itu.

    ReplyDelete
  8. Maaf apakah sd ini masi seprti digambar saat ini ??
    Matur nuwun...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bangunan sekolah sudah diperbaiki. Ada tambahan gedung baru di depan gedung lama ini. Berkat perjuangan pak suwarno kepala sekolahnya yg sekarang sudah almarhum. Saya sangat kehilangan beliau karena selalu jadi sumber informasi saya tentang perkembangan sekolah ini dan warga pelosok tambak sidoarjo. Almarhum habis2an berjuang agar SDN pucukan ini bisa maju kayak sekolah2 di kota. Semoga pak warno istirahat dengan bahagia bersama Tuhan sang pencipta!!!

      Delete
  9. Permisi, apakah sekarang naik mobil kesana juga masih tidak bisa?

    ReplyDelete
    Replies
    1. masih belum bisa. jalur darat bisa menggunakan sepeda motor. saya barusan social teaching disana :)

      Delete
    2. Maaf mbk mau tanya keadaan di pucukan saat ini masih seperti yg dijabarkan di atas atau sudah berubah?
      Ada berapa murid sekarang mbk di pucukan?

      Delete
    3. Kondisi oktober 2016: jumlah murid total 15 anak aja. Ada tiga kelas yg tidak punya murid yaitu kelas genap: 2 4 6. Demikian informasi yg saya terima dari salah satu guru senior di SDN gebang 2 pucukan kemarin.

      Kondisi jalan belum banyak berubah. Sinyal seluler juga lemah.

      Delete
    4. permisi mau bertanya, apakah di sekolah tersebut terdapat listrik? terimakasih

      Delete
    5. waktu naskah ini ditulis 2013 belum ada listrik di sekolah. kampung pucukan juga belum dapat aliran listrik pln. kalo gak salah tahun 2016 instalasi listrik pln baru dipasang. saya belum cek lagi ke pucukan karena pak suwarno kepala sekolahnya sudah meninggal dunia. saya belum kontak guru yg lain.

      Delete
  10. Salam buat Pak Guru Ihwal Praja, teman seangkatan prajabatan. Dari Dokter Joko.
    Salut dan tambah Semangat, Cak ! (Y)

    ReplyDelete
  11. Maaf mau tanya untuk sekarang apakah kondisi disekolah masih sama seperti yg terakhir disampaikan oleh mas lambertus hurek? Dan untuk kondisi desanya saat ini bagaimana?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bangunan sekolahnya sudah bagus, malah melebihi SDN di kota. Total muridnya ya akan selalu begini: tidak mungkin di atas 20 anak karena Pucukan itu kampung tambak.

      Dusunnya (bukan desa) juga cenderung statis. Maju pelaaan sekali karena status tanahnya itu kan tambak milik juragan2 kaya di kota. Awalnya cuma buruh tambak yg mondok di gubuk kemudian ajak temannya, kemudian punya istri anak dan jadilah kampung. Saya sudah sering persoalan kampung2 tambak kayak gini.

      Matur nuwun sampean tertarik dengan sekolahan pamong.

      Delete