27 March 2014

Mampir di GKJW Mlaten Sidoarjo



Siang tadi saya mampir ke Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Mlaten di Desa Wonomelati, Kecamatan Kembung, Sidoarjo. Pak Tajab dan Bu Suliani, koster yang tinggal di kompleks gereja menyambut ramah. Mau minum kopi atau teh

"Cukup air putih saja," kata saya menjawab pertanyaan Bu Suliani. Soalnya baru habis dua gelas kopi di warung samping Pura Margo Wening, yang letaknya terpaut sekitar 300 meter dari gereja ini.

Ramah sekali pasangan suami istri ini. Bahasa Jawanya halus layaknya jemaat GKJW. Gereja Kristen Protestan yang menjadi tonggak kehadiran umat Kristen pribumi Jawa di Jawa Timur. "Bu pendetanya lagi istirahat. Kecapekan sih," kata Bu Suliani.

Tak usah dibangunkan. Sebab, saya hanya sekadar mampir sejenak. Bukan untuk wawancara, karena dulu pernah bicara panjang lebar dengan Pendeta Jonet, yang sekarang sudah pindah ke kota lain, melayani GKJW di tempat baru. Pendeta-pendeta GKJW memang harus siap ditugaskan di mana saja.

Nah, saat ini gembala jemaat GKJW Mlaten adalah Pendeta Anggraini asal Ngoro, Jombang. Orangnya masih muda, kata Bu Suliani, single pula. "Mungkin suatu ketika dapat jodoh pendeta juga," kata saya asal-asalan.

"Oh gak boleh. Sesama pendeta GKJW dilarang jadi suami istri. Hehehe," katanya.

Ibu ini sudah 27 tahun bertugas di gereja tua di lingkungan sawah dan kebun tua yang luas di kawasan Krembung itu. Jangan lupa, tak jauh dari gereja ada pabrik tebu terkenal: PG Kremboong.

Mengenai kegiatan gereja, kebaktian, bakti sosial, pendalaman Alkitab, dan sebagainya tak jauh berbeda dengan dulu. Kebaktian Minggu dilaksanakan jam delapan pagi. Umatnya dari Desa Wonomlaten dan sekitarnya.

Mereka keturunan orang-orang Kristen Jawa yang dicegah masuk ke Ngoro setelah menerima pembaptisan di Surabaya pada 1844. Jadi, GKJW Mlaten ini bisa dikatakan sebagai gereja tertua di Kabupaten Sidoarjo yang didirikan pada zaman Belanda.

Sebelumnya jemaat desa ini tinggal di Sidokare, dekat stasiun kereta api di tengah kota Sidoarjo. Namun, karena konflik dengan tuan tanah bernama Meneer Gunsch, sekitar 200 jemaat melakukan bedol desa. Ada yang bergabung dengan umat GKJW di Mojowarno, ada yang membentuk persekutuan alias cikal bakal GKJW di Mlaten.

Dan ada pula yang babat alas di Desa Bogem, Balongbendo, Sidoarjo. Yang ini kemudian membentuk GKJW Luwung, Sidoarjo, komunitas gereja desa yang cukup terkenal.

Perjalanan waktu membuat Mlaten yang dulunya kampung kecil, alas alias hutan, perlahan-lahan jadi ramai. Penduduk makin banyak, sementara orang Kristen Jawanya relatif kurang berkembang. Lama-lama umat GKJW malah menjadi minoritas.

Orang yang tidak tahu sejarah GKJW atau mereka yang baru melintas di Sidoarjo malah sering mengira GKJW Mlaten itu gereja baru. Masjid di depan gerejalah yang justru baru muncul belakangan.

"Banyak lho mahasiswa yang tanya tentang GKJW ini," kata Bu Suliana dengan logat Jawa yang kental.

Omong punya omong, akhirnya saya jadi tahu bahwa GKJW Mlaten ini ternyata tidak melulu mengadakan kebaktian mingguan dalam bahasa Jawa. Sekarang ini porsi bahasa Jawa dan Indonesia hampir seimbang. Gantian bahasa Jawa dan bahasa Indonesia.

Maklum, jemaat gereja ini tidak hanya orang Jawa, tapi juga banyak pendatangnya. Yang Jawa pun belum tentu menguasai krama inggil, bahasa Jawa halus yang dipakai untuk kebaktian dan kidung rohani.

"Malah kadang pendetanya khotbah pakai bahasa Indonesia meskipun kebaktiannya pakai bahasa Jawa," ujar Bu Suliani seraya tersenyum.

Yah, gereja memang harus dinamis. Mengikuti perkembangan zaman yang makin cepat dan modern. Namun, bagaimanapun juga ciri khas dan karakter GKJW yang khas, sangat njawani, nguri-uri budaya, tak boleh dikesampingkan begitu saja.

Siang makin panas. Seekor anjing di belakang rumah bu pendeta tiba-tiba menggonggong keras. Mungkin lapar. Saya pun lapar. Maka saya pun pamit pada Bu Suliani dan Pak Tajab yang sangat menyenangkan. Baru kenal serasa sudah kenal sangat lamaaa....

"Matur sembah nuwun. Kula pareng bu, pak!" kata saya mencoba berbahasa Jawa halus kayak orang Jawa beneran.

Di perjalanan saya teringat, kemudian bersenandung, lagu favorit paduan suara gereja dan mahasiswa kristiani di Jawa Timur.

MONGGO MONGGO
KULA NDEREK GUSTI
SALA..WAS...SEE....

GKJW Mlaten di Desa Wonomelati, Krembung, Sidoarjo.

1 comment: