25 March 2014

Kompas Mulai Pakai Tiongkok

Saya lagi membaca koran Kompas di kawasan Pucang, Surabaya, sambil ngopi. Selepas bersepeda santai.

Wow, koran terbesar di Jakarta ini pakai kata TIONGKOK. Tidak lagi pakai CHINA seperti biasanya. Ada berita demo anti-Tiongkok di Taiwan. Juga berita keluarga penumpang MH370 yang dikumpulkan di sebuah hotel di Beijing, ibu kota Tiongkok.

Tentu saja perubahan dari CHINA ke TIONGKOK ini merupakan tindak lanjut keputusan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada pertengahan Maret 2014. Presiden SBY secara resmi mencabut keppres era Kabinet Ampera yang melarang istilah Tionghoa dan Tiongkok.

Sebelumnya, setahu saya hanya seorang wartawan senior Kompas, RLP, yang sering menggunakan kata TIONGKOK dalam tulisan-tulisannya. RLP salah satu dari wartawan Indonesia yang sangat paham sosial budaya serta perkembangan politik di Tiongkok.

Tapi, kini dengan keppres resmi SBY, mau tidak mau, suka tidak suka, media-media resmi perlu menyesuaikan diri. Ke depan istilah TIONGKOK menjadi sangat lazim di Indonesia. Dan ini juga sesuai dengan keinginan pemerintah Republik Rakyat Tiongkok alias RRT sejak dulu.

Perubahan diksi Kompas untuk Tiongkok ini bisa dipastikan akan diikuti media-media lain di Indonesia. Kecuali Jawa Pos dan 200an media yang bernaung di Jawa Pos Group. Kenapa?

Sejak awal reformasi Jawa Pos dan koran-koran anak perusahaannya, yang dikomando pak bos, Dahlan Iskan, sudah menggunakan istilah Tiongkok. Kata CINA yang merujuk Tionghoa atau Tiongkok sudah lama dihilangkan dari Jawa Pos Group. Ini setelah diskusi panjang dan pengusaha-pengusaha dan paguyuban masyarakat Tionghoa di Surabaya.

Yah, untuk kesekian kalinya, Jawa Pos terbukti menjadi pelopor plus trend setter di Indonesia. Pak bos JP mampu melihat jauh ke depan. Mampu membuat keputusan yang jauh mendahului yang lain. Awalnya orang heran, kaget, bahkan tertawa, membaca Tiongkok di koran.

Tapi, belasan tahun kemudian, apa yang terjadi? Mulai Maret 2014 ini TIONGKOK menjadi istilah resmi pemerintah Indonesia.

Jawa Pos juga yang pertama kali menerbitkan koran berwarna full color di Indonesia. Saat itu koran-koran tidak berani cetak warna karena dianggap menurunkan keseriusan surat kabar. Tapi, kita tahu, beberapa tahun setelah itu koran-koran di tanah air ramai-ramai cetak color.

Jawa Pos pula yang mengawali koran tujuh kolom. Menggantikan koran sembilan kolom atau broad sheet yang lebar, yang sudah berurat berakar sejak zaman Hindia Belanda. Itu dimulai sejak krisis moneter 1997.

Apa yang terjadi kemudian? Saat ini tidak ada lagi koran sembilan kolom di Indonesia. Semuanya tujuh koloman. Kompas yang dulu ngotot bertahan dengan sembilan kolom, karena merasa tak terpengaruh krismon (kertas mahal), pun akhirnya jadi tujuh kolom.

Jawa Pos sekali lagi membuktikan bahwa tren itu bisa dimulai dari daerah. Kita yang di luar Jakarta pun bisa menjadi pelopor inovasi... kalau mau!

Ayo, siapa berminat jalan-jalan ke Tiongkok! Jangan lupa bawa oleh-oleh cungkuo cha!

2 comments:

  1. Kenapa tidak disebut Republik Rakyat Zhongguo atau Republik Rakyat Cungkuo (menurut EYD)? Kan bahasa resminya Mandarin bukan Bahasa Hokkian?

    ReplyDelete
  2. Kaum African American atau Black people tidak suka disebut negro atau nigger, repotnya di benua Afrika ada negara Nigeria

    Di Indonesia kaum hua ren tidak suka disebut cina, repotnya negeri nenek moyangnya memakai China sebagai nama lain dari Zhong Guo

    Seharusnya 中 国 memakai Zhongguo bukan China, mesti dirubah karena nama sebenarnya adalah Zhongguo bukan yg lain

    Sama seperti dulu ibu kotanya disebut Peking, setelah diganti kini semua juga tahu Beijing

    China itu istilah yg dipakai orang barat untuk merujuk pada benda keramik atau porselen, sungguh sangat melenceng

    Mungkin om Hurek bisa kasi masukan ke konjen China e Zhongguo di Surabaya, atau ke lao ban lao ban yg punya akses ke bpk konjen

    Terima kasih

    ReplyDelete