15 March 2014

Jokowi Yes, Caleg PDIP Nanti Dulu

Joko Widodo alias Jokowi masih berstatus bakal calon presiden alias balon. Wiranto, Prabowo, Sutiyoso, Aburizal Bakrie juga sama-sama balon. Mereka baru jadi calon presiden kalau sudah ditetapkan oleh KPU.

Siapa saja bisa jadi balon presiden... kalau mau + punya duit + punya partai. Di sinilah persoalan sistem pilpres di Indonesia. Partai-partai harus tunggu hasil pemilu legislatif 9 April untuk mengajukan balonnya secara resmi.

Kalau suaranya kurang 20 persen tidak bisa maju. Harus gabung dengan partai lain agar memenuhi syarat minimal 20 persen popular vote. Inilah yang tempo hari digugat di Mahkamah Konstitusi.

Syukur, lima tahun lagi tak ada syarat minimal 20 persen atau berapa pun. Semua partai boleh mengajukan balon presiden.

Tidak ada yang meragukan kepopuleran Jokowi. Tapi apakah caleg-caleg PDIP berhasil merebut suara nasional hingga 20 persen? Saya kok ragu.

Tidak usah jauh-jauh. Saya sendiri ingin Jokowi jadi presiden Indonesia. Tapi untuk urusan caleg, saya kurang sreg dengan caleg-caleg PDI Perjuangan di Kabupaten Sidoarjo, daerah pemilihan Jawa Timur I (Surabaya + Sidoarjo).

Mbak Indah bagus suaranya, pintar nyanyi, pernah jadi manajer Persebaya. Cakep lagi. Tapi dia sudah dan sedang jadi anggota DPR RI. Sudah cukuplah. Mas Guruh Soekarnoputra pun sudah karatan di parlemen tapi kinerja politiknya tidak terdengar.

Mas Guruh lebih cocok jadi seniman musik dan koreografer. Kurang cocok di politik. Caleg-caleg lain juga kurang meyakinkan. Saya justru sreg dengan caleg muda di bawah 40 tahun dari partai lain.

Dari obrolan di warkop, sebagian besar orang punya pandangan yang sama. Sebab pemilu sekarang memilih orang, bukan lagi pilih partai.

Maka, warga besar kemungkinan punya pilihan caleg yang berbeda partai. Misalnya, DPRD kabupaten pilih caleg Gerindra, provinsi Golkar, pusat pilih Arzeti model cantik dari PKB. Tapi tiga bulan kemudian pilih Jokowi... kalau gubernur Jakarta ini memenuhi syarat sebagai calon presiden.

Tugas berat para caleg PDIP, khususnya caleg DPR RI, untuk meyakinkan masyarakat bahwa mereka layak dipilih sebagai wakil rakyat. Kalau suara PDIP jeblok, ya, Bung Jokowi sebaiknya tetap mengurusi Jakarta saja.

Gitu aja kok repot!

No comments:

Post a Comment