16 March 2014

Budaya Konco Wingking di Flores Timur

Giliran para wanita mengambil makanan saat perayaan tahun baru 2014 di Lembata.


Iseng-iseng saya membaca majalah Tempo lama, Mei 2009. Tentang Ibu Ani Yudhoyono yang bukan sekadar konco wingking. Bu Ani diberitakan sering kasih masukan untuk Pak SBY.

Konco wingking! Istilah populer di Jawa yang menggambarkan peran istri, khususnya zaman dulu, di bagian belakang. Teman di belakang layar. Konco wingking ini kemudian dilembagakan Ibu Tien Soeharto dengan organisasi istri-istri pejabat mulai tingkat rendah hingga pusat.

Konco wingking sangat cocok dengan kearifan tradisional lama hampir di seluruh Indonesia. Ketika kaum wanita belum boleh bekerja jadi career woman. Yang boleh bekerja hanya suami, istri di rumah saja mengurus anak, bersih-bersih, cuci setrika, dan sebagainya.

Di Jawa, khususnya kota besar, saat ini makin sedikit wanita yang jadi konco wingking. Ibu bapak sama-sama kerja. Sama-sama pulang malam, pergi pagi, anak-anak dijaga pembantu. Sehingga istilah konco wingking mungkin tidak relevan lagi.

Di NTT, khususnya Pulau Flores, khususnya Flores Timur dan Lembata, yang etnis Lamaholot, konco wingking ini jauh lebih terasa. Meskipun tidak sekental sebelum tahun 1990an. Tapi di acara-acara adat seperti hajatan pernikahan atau kematian masih sangat terasa paham konco wingking ini.

Saya sendiri tidak menyangka kalau adat lama Lamaholot itu masih berlaku saat saya pulang kampung akhir Desember 2013. Satu contoh: wanita tidak boleh makan sebelum laki-laki. Tidak ada ceritanya bapak-bapak dan ibu-ibu mengambil makanan pada saat bersamaan.

"Bapa, mama, dan anak-anak yang dikasihi Tuhan, untuk santap malam bersama ini dimulai anak-anak (karena mereka mulai mengantuk), kemudian bapak-bapak, dan terakhir mama-mama," begitu ucapan pembawa acara.

Padahal, ini bukan pesta ada yang punya pakem laki-laki duluan, melainkan syukuran warga kampung di malam tahun baru. Oh, saya pun tersadar bahwa tradisi Lamaholot yang menomorsatukan laki-laki masih berlaku di bumi Lamaholot.

Kasihan mama-mama (orang NTT lebih suka pakai MAMA daripada IBU)! Mereka kebagian jatah daging yang sudah tinggal sedikit. Sebab saat itu warga hanya sembelih satu ekor kambing dan satu babi.

Benar saja. Ketika saya cek di meja makan di luar balai desa saat giliran makan mama-mama, daging tinggal sedikit. Sebagian sudah disikat bapa-bapa alias laki-laki. "Tidak apa-apa, yang penting bapa-bapa sudah makan," kata seorang ibu kepada saya.

Begitulah sikap wanita etnis Lamaholot yang nrimo, ikhlas, karena adatnya memang begitu. Tidak ada sedikit pun protes. Saya hanya tersenyum getir.

Tidak hanya di hajatan besar, di rumah tangga pun demikian. Kalau ada tamu laki-laki, istri dan wanita lain tidak akan nimbrung bicara. Tugasnya adalah menyiapkan kopi, teh, pisang goreng, atau camilan yang bisa dicicipi tamu laki-laki itu.

Ada lagi yang agak kelewatan. Sang istri mengintip dari lubang dinding rumah gedhek berapa orang tamu yang datang. Dengan begitu, dia bisa membuatkan kopi dalam jumlah yang pas.

Bagaimana kalau tamunya itu laki-laki dan perempuan? Sama saja. Yang laki-laki duduk di ruang tamu yang bagus, sementara yang wanita langsung ke belakang bergabung dengan ibu rumah tangga.

Dulu, ketika masih SD di pelosok Kabupaten Flores Timur (sekarang masuk Kabupaten Lembata setelah pemekaran), di gereja pun ada segregasi laki-laki dewasa, ibu-ibu, dan anak-anak.

Anak-anak laki-laki duduk paling depan sebelah kiri. Di belakangnya bapak-bapak. Anak-anak putri di bagian kanan depan. Ibu-ibu di belakang anak-anak perempuan itu. Beda sekali dengan di Jawa di mana ibu, bapak, dan anak-anak tampak harmonis duduk di bangku yang sama.

Khusus di gereja sudah ada perubahan sejak 1990an. Segregasi gender tidak ada lagi. Namun, orang-orang lama alias bapak-bapak dan kakek-kakek tidak akan pernah duduk berdampingan dengan wanita, meskipun istrinya sendiri.

Konco wingking ini (dulu) juga berlaku untuk urusan mencuci pakaian. Di Flores, dulu, yang belum terlalu lama, laki-laki tidak boleh mencuci pakaian sendiri. Buat apa ada wanita kalau laki-laki cuci pakaian? Laki-laki bertugas untuk pekerjaan kasar yang membutuhkan otot dan tenaga.

Karena itu, laki-laki Flores yang baru merantau sangat kesulitan ketika harus mencuci pakaian sendiri. Kecuali celana dalam tentu saja. Masa adaptasi untuk mandiri ini cukup lama.

Syukurlah, budaya konco wingking ini makin tergerus seiring makin tingginya pendidikan. Sejak ada wajib belajar, wanita dan pria sama-sama sekolah. Tidak ada lagi ketentuan bahwa hanya laki-laki yang boleh kuliah.

Boleh dikata, wanita-wanita Flores Timur yang lahir di atas tahun 1980 tak lagi mengalami budaya konco wingking itu. Wanita-wanita muda seperti yang saya pantau di kampung belum lama ini lebih cerdas, gaul, sudah mirip orang kota. Mainannya juga smartphone.

Di sisi lain, emansipasi perempuan Lamaholot ini juga sekaligus membawa dampak negatif. Misalnya, tradisi tenun ikat pelan tapi pasti menghilang karena kaum wanita muda tidak mau lagi menekuni keterampilan lawas ini.

Mana ada gadis-gadis Lamaholot sekarang yang mau tangannya hitam karena bahan pewarna untuk kain? Mana ada gadis-gadis di desa yang berjalan sambil memintal kapas (untuk dijadikan benang) seperti ibu atau neneknya?

Mencari jagung titi pun makin sulit karena wanita-wanita muda tidak mau memasak. Takut tangannya menebal karena panas.

Saya sendiri pun tidak berani lagi meminta wanita-wanita di desa, yang masih famili, untuk mencucikan pakaian saya yang kotor. Saya harus cuci sendiri. Toh mencuci pakaian itu gampang sekali.

Saya biarkan adik-adik wanita muda di kampung asyik nonton televisi dan ngobrol sesuka hati. Saya sangat sadar bahwa zaman sudah berubah. Kita tidak bisa memutar jarum jam sejarah ke masa lalu.

Saya hanya bisa mengenang masa kecil. Ketika para wanita sangat senang dititipi pakaian kotor untuk dicuci di sumur. Cukup kasih sabun + sedikit hadiah kecil.

No comments:

Post a Comment