23 February 2014

Standup Comedy dan Wartawan Alay



Lucu dan tidak lucu itu relatif. Ada orang yang tertawa ngakak, terbahak-bahak, ketika melihat ludruk, tapi ada yang biasa saja. Ada yang bilang Soimah lucu atau Tukul lucu. Tapi saya sih biasa aja.

Mengukur kelucuan di zaman penuh rekayasa ini sangat sulit. Apalagi di televisi. Sebab, sebagian penonton di studio yang nonton lawakan itu dibayar untuk tertawa. Lucu tak lucu dia harus tertawa terpingkal-pingkal.

Belakangan ini banyak standup comedy di TV. Tapi rupanya saya makin sulit ketawa. Beberapa kali saya mencoba menyimak titik ledak atau lucunya tapi sulit ketemu. Apalagi kebanyakan adalah guyonan lawas.

Karena itu, saya selalu heran membaca ulasan wartawan Kompas tentang standup comedy di Kompas Minggu yang membahas lawakan di Kompas TV. Seakan-akan standup comedy di TV yang sama-sama satu manajemen itu begitu bagusnya. Kreatif, cerdas, dan tentunya lucu.

Saya pun terheran-heran dan kagum. Sebab saya malah tidak menemukan keasyikan menonton standup komedi di Kompas TV, Metro TV, dan sebagainya. Mungkin selera humor saya yang buruk.

Saya biasanya tertawa sendiri mendengar omongan Jaya Suprana atau Slamet Abdul Sjukur. Saya juga tertawa ngakak mendengar omongan tamunya Andy F Noya di Kick Andy meskipun mereka sama sekali tidak bermaksud melucu.

Tapi saya sangat memahami posisi penulis ulasan standup comedy di Kompas Minggu yang makan setengah halaman itu. Bagaimanapun juga dia harus menulis yang bagus-bagus, citra positif, agar warga ramai-ramai nonton standup comedy di Kompas TV.

Lantas, apa bedanya wartawan atau kolumnis dengan pemandu sorak bayaran alias alay di studio TV?


Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

No comments:

Post a Comment