12 February 2014

Pesta Kacang di Lembata 2014

Salah satu rumah adat di kampung Napaulun, Kecamatan Ile Ape, Lembata, NTT.


Jarang sekali ada berita bagus, good news, tentang NTT, khususnya Flores Timur dan Lembata, di media nasional. Setiap kali saya baca Kompas atau koran-koran Jakarta yang lain beritanya selalu kejahatan.

Terakhir kasus pembunuhan berencana terhadap seorang mantan kepala dinas di Lembata. Kasus ini jadi bahan pembicaraan luas di Lembata. Diduga kuat melibatan orang penting. Polisi pun gamang.

Maka, saya pun terkejut plus haru ketika Kompas edisi 1 Februari 2014 memuat dua tulisan panjang tentang Lembata. Tentang pesta kacang atau UTAN WERUN di Kecamatan Ile Ape, yang melibatkan 22 kampung. Upacara adat ini dipusatkan di Lamariang.

Wow, benar-benar kejutan! Kompas menyediakan satu halaman koran untuk membahas tradisi pesta kacang itu. Lengkap dengan kutipan mantra dalam bahasa Lamaholot.

Lera wulan tanah ekan
Beso tekan utan
Kaka ari edo bereo opulake
Beso tekan utan
Ipetai wewa wau
Beso teka utan
Nakam nebo
Beso tekan utan.

Oh, ternyata wartawan Kompas yang menulis dua naskah panjang ini Kornelis Kewa Ama, orang Adonara, sehingga pasti fasih bahasa Lamaholot. Kornelis bisa menceritakan dengan baik upacara sesajen di Nuba Nara untuk menghormati leluhur dan Sang Pencipta alam semesta.

Orang Lembata yang berada di luar daerah, merantau ke mana-mana, biasanya sangat merindukan pesta kacang ini. Pesta yang jadwalnya tidak jelas dan tidak selalu ada setiap tahun. Terserah kepala adat yang punya mekanisme konsultasi sendiri dengan roh-roh di alam sana.

Di saat utan werun itulah nama-nama semua orang kampung yang masih hidup, baik yang tinggal di kampung, di luar NTT, bahkan luar negeri, akan disebut di rumah adat. Akan jadi masalah besar jika ada nama yang tercecer.

Believe it or not, tanpa justifikasi adat seperti itu, orang Lembata, khususnya Kecamatan Ile Ape dan Kecamatan Ile Ape Timur, bisa hidup dengan tenang. Ada saja halangan dari yang ringan sampai berat. Mengabaikan tradisi lama bisa berakibat fatal.

Pulau Lembata bagian utara, yakni kampung-kampung di seputar Gunung Ile Ape, agak terlambat jadi Katolik. Sebab, misi penginjilan SVD yang dirintis Pater Bode dimulai dari selatan. Yakni Lamalera, kampung pemburu ikan paus yang juga penghasil pastor, suster, bruder terbanyak di Indonesia.

Karena itu, tempo doeloe (yang belum terlalu lama) penduduk Ile Ape tidak kenal perayaan ekaristi atau misa atau ibadat sabda. Yang ada hanya upacara di altar tradisi yang disebut Nuba Nara itulah. Banyak sesajen yang disediakan macam ayam, hasil panen, aneka masakan, hingga tuak dan arak.

Ketika seluruh Pulau Lembata sudah dikatolikkan, tradisi lama masih jalan meskipun tak sehebat zaman dulu. Pesta kacang diberi muatan kristiani sebagai perayaan syukur atas panen petani. Sekaligus memohon perlindungan dari Sang Pencipta.

Cukup lama upacara adat ini meredup sebelum pemerintah kabupaten mencoba mengangkat sebagai salah satu objek wisata. Maka jalan kecil menuju ke rumah adat di kampung lama dilebarkan agar bisa dilewati mobil. Pestanya pun dikemas lebih meriah dan modern.

Sayang, rumah-rumah adat di kampung adat saya, Napaulun, yang dulu sering dikunjungi turis Eropa, tidak terawat setelah pesta usai. Dibiarkan ambruk. Baru diperbaiki kalau ada pesta kacang lagi. Itu yang di Kecamatan Ile Ape.

Saya bersyukur di Kecamatan Ile Ape, seperti diberitakan Kompas, kondisinya lebih terawat. Semoga Pemkab Lembata bisa lebih serius melestarikan kearifan lokal di Lewotanah ini.


Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

1 comment:

  1. jadi sudah ya, pesta kacangnya? bukannya Agustus? wah, ketinggalan lagi.

    ReplyDelete