09 February 2014

Pakde Yoeswadi Sketser Sidoarjo



Sepeninggal M Thalib Prasodjo dan Hardono, dunia seni rupa di Kabupaten Sidoarjo, cenderung meredup. Syukurlah, kini ada Yoeswadi Wibowo yang makin intens membuat sketsa berbagai tempat eksotik di Sidoarjo.

Seperti Eyang Thalib, Yoeswadi Wibowo suka blusukan ke mana-mana. Karena itu, pria 40 tahun ini sulit ditemui di sanggar atau lokasi yang tetap. Dulu Yoes, sapaan akrabnya, sering mangkal di Padepokan Akar Rumput milik Eyang Thalib di pinggir Kali Pucang.

"Sekarang saya banyak ke lapangan untuk nyeket (membuat sketsa)," katanya.

Begitu muncul inspirasi, Yoes pun langsung blusukan sambil membawa kertas dan peralatan gambar. Hunting di tempat alias on the spot. Dia bukan tipe pelukis studio yang menggarap lukisan di sanggar tertentu.

Sudah puluhan lukisan sketsa dibuat pria berambut ikal panjang ini. Yoes paling suka membuat sketsa Sidoarjo tempo doeloe, bangunan cagar budaya, kota lama, atau upacara tradisional. Beberapa objek yang sudah disket Yoes antara lain Pasar Jetis, toko tua di Jalan Gajah Mada, Sidoarjo, yang masih bertahan, kelenteng, pasar ikan, stasiun kereta api, dan kawasan pecinan.

"Saya ingin generasi muda Sidoarjo punya gambaran tentang Sidoarjo di masa lalu dan masa kini," ujarnya.

Jikapun suatu ketika bangunan-bangunan lama terpaksa dibongkar, paling tidak kita masih punya dokumentasi dalam bentuk sketsa. "Kita perlu merawat bangunan-bangunan lama yang punya kaitan erat dengan keberadaan Sidoarjo," katanya.

Sketsa sangat mendukung pekerjaan ayah Lintang, Langit, Sekar, dan Jagad itu sebagai desainer furniture. Dengan sketsa, kita lebih memahami anatomi dan perspektif ruang. Bikin sketsa juga memaksa dirinya untuk bekerja cepat dan eifisen.

"Nah, ketika ditunggu orang, maka dibutuhkan kemampuan nyeket cepat. Tidak bisa kerja santai," ucap Yoes.

Pria yang akrab disapa Pakde Yoes ini menambahkan, kegemarannya nyeket menjadi sarana refreshing, mengasah kemampuan, sketsa menggali ide. Ia merasa seru saat berburu gedung-gedung tua untuk disketsa.

"Banyak gedung tua yang bisa digali untuk ornamen desain, misal dari profil lisplang (bilah papan pada tembok bangunan) yang bisa diaplikasikan ke furnitur. Kebetulan di tempat saya desain mebelnya berbasis kolonial, sehingga sangat bermanfaat bagi saya," tutur pria kelahiran Oktober 1974 itu.

Saking banyak sketsanya tentang Sidoarjo dan Surabaya tempo doeloe, Pakde Yoes sering diajak mengikuti kegiatan komunitas tempo doeloe di kedua kota itu. Sketsa-sketsanya pun sering 'dimanfaatkan' untuk mengisi laman komunitas jadul di internet.

No comments:

Post a Comment