02 February 2014

Nona Rumahan vs Budaya Merantau NTT



Nona asal Surabaya, Elvira Devinamira, 20, baru terpilih sebagai Putri Indonesia 2014. (Bahasa Indonesia yang benar itu PUTRI bukan PUTERI.) Ketika ditanya wartawan, Elvira selalu bilang kangen rumah.

"Dua minggu gak pulang, homesick. Aku kangen kamar," ujar nona yang mahasiswi Unair itu.

Kata-kata macam ini sering saya dengar dari mulut wong Jowo. Khususnya pesohor atau artis atau calon artis macam Elvira. Mereka tidak bisa lama-lama berada jauh dari rumah orang tuanya. Karantina dua minggu saja sudah dirasa berat banget bagi Elvira dkk.

Orang NTT, khususnya Flores, khususnya Lembata, pasti terheran-heran mendengar pernyataan Elvira. Sudah 20 tahun, mahasiswi, kok ingin kumpul terus di rumah orang tua? Jangan-jangan nanti sudah menikah pun tak bisa keluar rumah sehingga memaksa suami tinggal di rumahnya. Pondok mertua nan indah.

Ada kenalan saya, wartawan senior televisi, yang stres karena istrinya tidak mau diajak tinggal di rumah kontrakan. Dia memaksa si teman menikmati pondok mertua. Maka, pernikahan mereka pun buyar dalam waktu singkat.

Orang yang tak punya budaya merantau memang punya penyakit homesick yang luar biasa. Beda dengan daerah-daerah yang kurang maju seperti NTT, yang mau tak mau, harus merantau untuk bekerja atau sekolah.

Orang kampung di pelosok Lembata setelah tamat SD hanya punya tiga pilihan. Satu, melanjutkan sekolah ke kota (bisa dekat bisa jauh). Dua, mengikuti jejak om-om di Malaysia Timur sebagai TKI. Tiga, bertahan di kampung.

Paling banyak memilih opsi kedua: jadi TKI. Kemudian memilih ke kota dan hanya sedikit bertahan di kampung. Yang terakhir ini biasanya para wanita.

Maka, boleh dikata sejak usia 12-14 tahun, anak-anak desa di NTT sudah meninggalkan orang tuanya. Merantau! Orang tua pun bahkan cenderung membiarkan anaknya jalan sendiri di tanah orang. Ini juga membuat orang-orang NTT di perantauan cenderung tidak suka pulang kampung.

Sudah biasa kalau perantau NTT di Malaysia itu 10 tahun tak pernah balik. Ada yang 20 tahun, 30 tahun, 40 tahun. Bahkan, banyak pula yang meninggal di Malaysia tanpa pernah kembali ke kampung halaman.

Apa boleh buat, budaya merantau yang akut di NTT di satu sisi membuat orang-orang NTT sangat mandiri, tak pernah tergantung pada orang tua. Apalagi si ortu memang miskin, tak punya apa-apa. Tapi di sisi lain, budaya merantau sejak belasan tahun ini membuat hubungan keluarga jadi renggang.

Sebaliknya, orang kota besar macam Elvira yang tak punya budaya merantau tidak akan bisa belajar mandiri. Selalu berada dalam zona nyaman bersama orang tua di rumah sejak lahir sampai tua. Tak ada kesempatan untuk merasakan tantangan hidup jauh dari rumah orang tua.

Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

5 comments:

  1. Masalah Nona Rumahan ini muncul di Indonesia sejak zaman Suharto dan di Tiongkok muncul sejak zaman Deng Xiao-ping.
    Nona Rumahan ini ibaratnya kacang lupa kulit.
    Yang bermasalah sebenarnya orang-tua mereka.
    Lelaki kere yang mempersunting Nona Rumahan, matanya buta, otaknya bebal, kulitnya seperti badak atau urat malunya putus.

    ReplyDelete
    Replies
    1. enaknya bisa ikut menikmati kekayaan mertua, kalau memang kaya beneran. biasanya ikut kecipratan rejekinya juga krn anak mantu disuruh kelola perusahaan. ada plus minusnya kawin sama gadis rumahan, misalnya anak tunggal yg papanya kaya raya.

      Delete
    2. Ada benarnya Mister Xian Sheng yg budiman di negeri Tiongkok yg sedang pelesir di Eropa.

      Fenomena ANAK MAMI yg manja atau nona rumahan ini merupakan ekses dari kebijakan satu anak Deng Xiaoping di Tiongkok dan kebijakan dua anak ala Pak Harto dulu. Orang tua begitu memanjakan anaknya, semua dituruti, bahkan banyak ibu2 yg berperan layaknya pembantu rumah tangga anaknya. Banyak yg sambat karena anaknya tidak pernah mau nyapu, cuci piring, nyiram bunga, disuruh beli ini itu dsb.

      Anak2 mami itu hanya mau minta dilayani, tidak bisa pekerjaan yang (agak kasar). Maunya cuma sekolah, dandan, party, dugem, les piano, modeling, dsb.

      Matur nuwun sudah kasih komen terus dari negeri yg jauh. Selamat tahun kuda ya! Xin nian kuai le!

      Delete
  2. Jarene koncoku, paling uenak kawin karo perempuan Meduro.
    Berikan dia modal berdagang 50 juta Rupiah, maka seumur hidup lu bisa eng-eng dan ongkang-ongkang, pokoke sandang-pangan-mapan terjamin, wis ngono katik disayang, dipijeti, dicokoti, wonge nurut ora kakehan tingkah.
    Rabi karo Nona Rumahan, berikan dia 500 juta Rupiah, hanya cukup untuk membeli satu tas hermes.

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehehe iso2 ae rek... seket yuto iso uro2 sampek tuwek yo muanteppp! opo maneh nurut gak kakehan tingkah.

      lima ngatus yuto entek tuku satas wae yo modarrrrr.... suwun banget wis komen

      Delete