15 February 2014

Mati ketawa ala TV Indonesia

Tertawa itu sehat. Banyak tertawa itu baik, kata banyak riset. Tapi tertawa yang bagaimana dulu? Apakah tertawa renyah ala hiburan slapstick yang menjamur di televisi kita?

Saya tak tahu. Belum saya tanya ke pakar ketawa. Tapi, yang jelas, saya tidak bisa ikut ketawa ketika banyak orang terpingkal-pingkal setiap kali melihat acara si Raffi atau Olga atau Soimah di televisi.

Lucunya di mana? Sulit saya temukan meskipun si artis memang bertingkah konyol. Dan penonton di studio, yang memang dibayar untuk tertawa, ramai-ramai tertawa ngakak. Dan penonton di rumah pun ikut ketawa.

"Acaranya bagus banget," kata Mbak Sri, penjual nasi goreng di Puspa Agro Taman. "Buat hiburan, hilangkan stres."

Mbak asal Jogja tapi sudah lama tinggal di Sidoarjo ini sangat keberatan ketika saya minta dia (agak maksa) memindahkan channel ke televisi berita. Kebetulan ada bahasan bagus yang melibatkan tokoh penting.

"Gak usah ya, enakan lihat hiburan kayak gini," katanya.

Yo wis, aku gak iso opo-opo. Wong ikut tipine sampean. Saya hanya bisa mencari hiburan dengan masuk ke internet. Tapi tetap terganggu dengan lawakan tak bermutu, dangkal, menurut saya.

Kalau terlalu lama dengerin omongan Raffi + Olga, kita bisa gila kayak orang yang ngombe obat catinone. Oh, ya, bagaimana kelanjutan kasus Raffi? Sudah beres ya?

Syukulah, kita punya banyak pilihan di era internet ini. Saluran televisi pun sangat banyak (meskipun yang disukai mayoritas orang Indonesia adalah lawakan-lawakan slapstick yang gak ada habis-habisnya dan tidak baru).

Tapi itu berarti kita harus menarik diri, menjauh dari orang-orang macam Mbah Sri atau orang kampung di NTT yang ketagihan sinetron, infotainment, atau komedi slapstick.

Saya jadi ingat sebuah kartun di Kompas Minggu beberapa waktu lalu. Solusi terbaik adalah ini: matikan televisimu!
Berbahagialah orang yang hidup tanpa televisi!




Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

2 comments:

  1. Sama moon goe di ama.... acara2 skrg, apalagi lawakan membosankan,, tidak segar...

    ReplyDelete
  2. Kamsia Bung Hurek, berbahagialah aku yang hidup tanpa TV.
    Acara TV di Tiongkok hampir samalah dengan di Indonesia, yang ada hanya propaganda, iklan obat, iklan alkoholika, talk show para artis yang lembeng, anak2 muda yang rambutnya di-cat kuning atau hijau, bahkan belang-blonteng. Jika toh ada acara yang bagus, sayang sekali para presenter-nya lembeng,
    cerawak, nyerocos terus menerus, jingkrak2 kayak orang tak waras. Dikira lucu, tetapi orang Bali mengatakan, lucunya matah.
    Achirnya Televisi dan dua antena parabola yang besar, saya sumbangkan kepada babu-saya, untuk dipasang dirumah orang-tua-nya didesa. Sejak 10 tahun saya tidak pernah nonton TV lagi.
    Sebelum pulang ke-Tiongkok, saya tiap tahun pulang ke-Indonesia ( Tanah Tumpah Darah, Ibu Pertiwi ), Singapura dan Hongkong. Bojo-ku menganjurkan kita pindah ke- Singapura, tetapi saya kurang cocok dengan sifat orang negeri singa yang terlalu sombong, mereka lebih inggris dari pada orang inggris tulen. Orang Eropa mengibaratkan Cina-Singapore sebagai manusia banana, luarnya kuning, dalamnya putih. Tentang cina-hongkong, tidak usah komentarlah, tidak sopannya minta ampun.
    Jika direnung kembali, mungkin filosofi- atau otak-saya, dan maaf, otak Bung Hurek, yang mlengse. Buktinya 1 milliard orang Cina dan 200 juta orang Indonesia senang dengan acara TV dinegeri mereka masing2. Sesuai hukum alam, mayoritas-lah yang menang, walaupun belum tentu benar, seperti halnya di Jerman kala Hitler. Paling benar, buang saja televisi-nya.
    Waktu ke-Tiongkok awal tahun 2000, saya menghadap kekantor urusan orang asing, saya bermaksud ingin membeli tanah untuk membangun rumah dan menetap di-Tiongkok. Kommunikasi kita secara setengah lisan dan setengah gestik, jari telunjuk selalu menunjuk-nunjuk kata2 yang ada didalam kamus bahasa Jerman-China, yang selalu berada disaku celana-saya. mergone saya sekolah cina hanya sampai kelas 3 SR dan dilarang sekolah tahun 1957, sebab WNI. Kemampuan berbahasa Mandarin terbatas dan banyak kata2 yang sudah lupa. Oleh direktor kantor, kami diajak menghadap kekepala partai kommunis, si-kepala partai menyambut kami dengan ramah, dia mengucapkan huan-ying ( 欢迎 ). Saya hanya ndrenges-drenges, tidak menjawab. Para pejabat didalam kantor mengawasi kami dengan keheranan. Cino-edan darimana ini ?
    Disambut kepala partai kommunis dengan ramah, lha koq meneng wae. Bojo-ku menyikut sambil berbisik, jawab-en ! Saya
    bilang kepada bojo ( cino-baba, nol putul bahasa mandarin ), apa yang harus gua jawab ? lha wong gua tidak ngerti dia bilang apa. Achirnya direktor kantor dinas urusan orang asing yang menerangkan kepada kepala partai ( shu-ji ). Mendengar keinginan kami, pak bupati tidak setuju, sebab bojo-ku minta beli tanah 9 kavling ( 5000 M2 lebih ), padahal tiap keluarga hanya boleh membeli 1 kavling. Tetapi di Tiongkok yang berkuasa adalah kepala partai, dia-nya hanya senyum2 sambil manthuk2,
    yo wis dapat 9 kavling. Pulang ke-Eropa langsung suruh arsitek membuat gambaran denah rumah, pembangunan kami serahkan 100 % kepada pemborong Cina. Setelah selesai, rumahnya jadi bukan model eropa, melainkan jadi model rumah Cina-Medan, sama sekali tidak sesuai dengan denah, bocor dan disunat kanan-kiri, bojo-ku ngambul, maki2 kepada saya; dasar lu ini selalu percaya omongan orang Cina ! Apa boleh buat ! Namanya juga Made in China. Nah, dua unit antena parabola besar, yang saya sumbangkan kepada babu, adalah pemborong cina yang memasang, katanya agar saya bisa menangkap siaran luar negeri.
    Sewaktu membeli tanah, sikepala partai tidak memperdulikan saya ber-pasport asing. Dia hanya menatap tampang cina saya, lalu bertanya, leluhur-lu darimana ? Gua jawab, dari Fujian-Quanzhou. Lalu dia berpaling ke-bojo-ku, lu bukan cina ya ? Langsung gua protes, pak shu-ji, lu jangan ngawur, kakeknya asal Hunan ! Dia hanya senyum. Lha gua memang pilih bojo yang matanya besar dan kulitnya agak gelap, sebab dulunya memang mau pulang ke- Ibu Pertiwi, biar bojo-ku dikira pribumi, dan gua anjurkan sesudah di-Indonesia, lu pakai jilbab saja, dan gua pakai kuplok.

    ReplyDelete