12 February 2014

Masalah Bahasa Inggris di Sidoarjo

Miss Nina bersama murid-muridnya di Sidoarjo.

Miss Nina baru saja menyelesaikan program Fulbright English Teaching Assistant di Sidoarjo. Nona asal Amerika Serikat ini, meski hanya sembilan bulan menjadi guru bahasa Inggris salah satu SMA negeri favorit, sangat terkesan dengan Indonesia. Nasi pecel, jus alpukat, srikaya, dan murid-muridnya yang antusias.

Lantas, bagaimana dengan bahasa Inggris pelajar Sidoarjo? Ehm... Miss Nina menulis jawaban dengan jujur. Begini pendapatnya:

"Well, my students were nowhere near fluent and I would describe their English ability as average. With adults, I almost always spoke Bahasa... even the English teachers."

Begitulah. Kemampuan berbahasa Inggris pelajar kita masih sedang-sedang saja alias average. Bahkan, guru bahasa Inggris sekalipun belum bisa dikatakan lancar. Apalagi selancar Nona Nina, native speaker, yang sejak bayi sudah bicara bahasa Inggris dengan lancar tanpa berpikir dulu.

Sekali lagi, Miss Nina mengajar di salah satu SMA negeri di Sidoarjo yang standarnya cukup tinggi untuk tingkat Jawa Timur. Gedung sekolah dan perlengkapannya sangat bagus. siswa yang masuk ke situ pun sudah disaring dengan seleksi yang ketat.

Lha, SMA negeri di dekat Kota Surabaya saja seperti itu. Bagaimana pula dengan sekolah-sekolah swasta yang fasilitasnya pas-pasan? Dan pelajarnya pun kemampuan akademisnya dari sananya memang rendah? Bagaimana pula dengan sekolah-sekolah di luar Jawa?

Syukurlah, Sidoarjo mendapat jatah guru bahasa Inggris native speaker sekelas Miss Nina, yang sekarang berkerja di Washington DC. Peserta didik bisa berlatih praktik bicara bahasa Inggris dengan penutur asli. Bisa dikoreksi langsung oleh orang Amerika yang sejak bayi cas-cis-cus American English. Sekolah-sekolah lain, daerah lain, belum tentu dapat jatah Fulbright ETA yang memang sangat terbatas.

Speaking & listening memang sangat parah di Indonesia. Sebab, dua unsur paling penting itu dalam berbahasa itu nyaris diabaikan dalam pendidikan bahasa Inggris kita sejak SMP, SMA, hingga universitas. Oh, ya, saya sendiri memang baru mendapat pelajaran bahasa Inggris mulai SMP. Di sekolah dasar belum ada. Syukurlah, sekarang anak-anak SD, bahkan TK, sudah diperkenakan bahasa Inggris.

Kita hanya diajari tata bahasa (grammar), menghafalkan tenses, banyak rules of languages, kemudian reading. Menulis dalam bahasa Inggris, writing, hampir tidak ada. Karena itu, saya termasuk yang tidak bisa berbicara dengan lancar dalam bahasa Inggris meskipun nilai bahasa Inggris saya sejak SMP, SMA, hingga universitas selalu A, bahkan A+.

Minggu lalu saya seperti dipermalukan oleh dua bocah balita di kawasan Sedati, dekat Bandara Juanda. Kedua cucu Tuan Fu, pengusaha Tionghoa Sidoarjo, itu bicara begitu cepat dalam bahasa Inggris sehingga sulit ditangkap maksudnya. Lebih cepat ketimbang di film.

"Kita harus belajar bahasa Inggris sama balita," kata Tuan Fu seraya tertawa kecil.

Yah, maklumlah, itu tadi, sejak bayi kedua bocah itu tinggal di Canada. Setiap hari mereka listening, repeating, kemudian speaking dalam bahasa Inggris sebagai bahasa pertama atau bahasa ibu (mother tongue). Bahasa Indonesia tidak diajarkan karena orang tua kedua bocah itu memang sudah menjadi penduduk tetap Canada. Mereka ke Sidoarjo hanya karena cuti.

Makanya, harus ada action nyata dari pemerintah untuk merombak total kurikulum Indonesia yang lebih menekankan hafalan, kurang praktik, kurang listening + speaking. Bagaimana bisa listening + speaking kalau tidak ada native speaker?

Miss Nina menulis:

"I teach about 300 students each week, or all ten sections of 10th grade at my school. I am able to meet with each section once a week to work on conversational English. 

The curriculum is very rote-based and does not emphasize speaking. I've enjoyed trying activities that encourage students to be creative and critical with their thinking."

Mau tidak mau, penutur asli macam Miss Nina ini perlu ada di semua sekolah kalau kita ingin pelajar dan mahasiswa Indonesia tidak gagap Inggris. Kalaupun tidak ada native speaker, karena mahal, dan program Fulbright tidak selalu ada, guru-guru bahasa Inggris harus punya kemampuan mendekati native speaker.

Syukur-syukur ada orang Indonesia yang tinggal lama di Amerika atau Inggris mau pulang ke tanah air untuk menjadi guru bahasa Inggris, khusus untuk speaking + listening. Kurikulum lawas yang pernah saya alami, yang penuh dengan grammar, dan ternyata membuat saya tak bisa speak fluently harus dirombak total.

Buat apa pintar grammar, nilai bahasa Inggris A, tapi tidak bisa bicara?

Saat ini saya lihat di Sidoarjo hanya ada satu sekolah yang punya native speaker dalam jumlah cukup banyak. Yakni Singapore National Academy, sekolah tiga bahasa (Inggris, Indonesia, Mandarin) milik Maspion Group di Pepelegi, Kecamatan Waru. Bule-bulenya banyak. Dan sekolah ini mewajibkan siswanya berbahasa Inggris dan Mandarin di lingkungan sekolah mulai TK sampai SMA. Bahasa Indonesia harus seminimal mungkin.

Model pembelajaran bahasa asing (Inggris dan Mandarin) di SNA ini terkesan ekstrem untuk orang Indonesia. Tapi itulah satu-satunya jalan yang harus ditempuh agar para siswa bisa speak speak speak speak... English.

Kalau tidak, ya, pelajaran bahasa Inggris tak beda dengan fisika, kimia, sejarah, atau geografi. Dihafalkan sebentar, hasil ujian bagus, kemudian dilupakan untuk selamanya.  Seperti saya!

3 comments:

  1. yah... pengajaran bahasa inggris memang membutuhkan guru yg benar2 ngerti inggris aktif n pasif. gak bisa kalo ngertinya sedikit2... jadinya muridnya gak bisa maju. problem guru ini gak gampang dipecahkan..

    ReplyDelete
  2. Lain lubuk lain ikannya, lain ladang lain belalangnya.
    Ketika saya harus belajar bahasa Inggris disekolah, presiden kita selalu memaki Amerika dan Britania adalah negara Kolim dan Nekolim. Sebagai anak2 muda yang mengagumi pak presiden, siapakah diantara kita yang sudi belajar bahasanya Nekolim.
    Yang ada Poros - Peking - Hanoi - Djakarta, tetapi anehnya WNI tidak diizinkan belajar bahasa Mandarin, akibatnya ya begini : Inggris ora cetos, Mandarin ora entos.

    ReplyDelete
  3. Mandarin masih jauh lebih bagus karena laoshi atau guru2nya sangat fasih bicara dan menulis hanzhi, mendekati penutur asli. Orang2 tionghoa pun biasa bicara Mandarin atau Hokkian setiap hari. Beda dengan guru2 bahasa Inggris kita yg semuanya bukan penutur asli. Lingkungan tempat tinggal kita di Indonesia pun kurang kondusif untuk bicara english setiap hari.

    Matur nuwun Xian Sheng, sudah kasih komentar.

    ReplyDelete