04 February 2014

Mahasiswa IAIN Surabaya Pantau Misa Natal



Perayaan Natal 2013 sudah lama berlalu. Tapi ada cerita menarik yang saya dapat dari Ibu Elyana dari Gereja Kelahiran Santa Perawan Maria (Kelsapa) alias Gereja Kepanjen. Ini Gereja Katolik paling tua di Surabaya yang bangunannya sangat bagus. Saya terharu mendengar dan membaca catatan ringan ibu Tionghoa yang tinggal di kawasan pecinan Kembang Jepun itu.

Ceritanya begini. Pada malam Natal itu, 24 Desember 2013, sebanyak 51 mahasiswa Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Ampel Surabaya datang ke gereja. Mereka didampingi seorang dosen pembimbing. Tujuannya untuk studi banding dan tugas kuliah ilmu perbandingan agama. Mereka ingin tahu misa malam Natal itu kayak apa sih.

Karena itu, anak-anak muda calon intelektual muslim masa depan ini mau tidak mau harus ikut melihat jalannya perayaan ekaristi atau misa malam Natal. Wow, luar biasa! Tak pernah saya bayangkan sebelumnya ada keterbukaan yang tulus seperti adik-adik dari IAIN.

Sebelum misa, Djue Djue, koordinator liturgi Paroki Kepanjen, memperkenalkan para mahasiswa IAIN itu kepada umat Katolik yang akan segera mengikuti misa malam Natal pada pukul 18.00. Umat pun bertepuk tangan meriah menyambut para tamu istimewa itu.

"Luar biasa, karena kami tidak pernah menduga ada kunjungan mahasiswa IAIN. Ini membuat suasana Natal semakin damai," kata Bu Elyana.

Selesai meliput dan menyaksikan langsung perayaan skaristi ala Katolik, yang berlangsung dua jam lebih (pasti sangat lama untuk orang Islam), para mahasiswa IAIN Sunan Ampel ini bersalaman sambil mengucapkan selamat Natal kepada umat Katolik yang baru saja ikut misa. Mereka kemudian berdialog di aula dengan Pastor Paroki Kepanjen Romo F. Hersemedi CM dan para pengurus dewan paroki serta panitia Natal 2013.

Bagi umat Katolik di Paroki Kepanjen, dan umat kristiani umumnya, peristiwa kecil di Surabaya ini punya makna yang luar biasa. Di tengah fatwa ulama, khususnya MUI (Majelis Ulama Indonesia), yang melarang orang Islam mengucapkan selamat Natal kepada orang Kristen, kita seakan berada di oase yang segar. Bahwa masih ada, bahkan mungkin jauh lebih banyak, teman-teman kita yang muslim yang open minded, toleran, mau menyapa kita secara istimewa di malam Natal.

Intelektual-intelektual muslim produk IAIN Sunan Ampel dan kampus-kampus muslim lain sangat menentukan wajah Indonesia ke depan. Melihat kedatangan mereka yang tulus di Gereja Katolik Kepanjen, justru di acara liturgi, yang sangat dilarang fatwa MUI, kita layak berbahagia.

Istilah Katoliknya: Kita masih punya GAUDEUM et SPES! Kegembiraan dan harapan!

2 comments:

  1. Bung Hurek, terima kasih sudah menulis tentang event yang luar biasa ini. Buat kita yang di luar negeri, yang kita baca di media hanyalah sweeping dan pemerasan yang dilakukan FPI, kata2 keras yang disebarkan oleh HTI, dan lemahnya pemerintah SBY yang tidak berani menindak mereka, karena koalisi PD dengan PKS, yang tidak mau membuat marah konstituen mereka. Bahwa para mahasiswa dari Sunan Ampel mau menyimak ibadah umat beragama Katolik, ini suatu tanda bahwa Indonesia masih ada harapan untuk menjadi negara majemuk yang damai, tidak seperti Mesir, di mana rakyat beragama Koptik Orthodoks diganyang setelah diktator Mubarak turun tahta, atau di Syria, di mana kaum Kristen ketakutan akan dibasmi dan diusir seperti saudara2 mereka di Irak setelah orang kuat yang melindungi mereka diturunkan dengan paksa. Semoga, kita doakan.

    ReplyDelete
  2. very interesting and peace story. merry christmas and hapyy new year for all.

    ReplyDelete