24 February 2014

Lagi, Orang Flores Jadi Uskup Bogor



Akhir pekan lalu, 22 Februari 2014, Monsinyur Paskalis Bruno Syukur OFM ditahbiskan sebagai uskup Bogor. Deo gratias! Proficiat!

Uskup adalah pemimpin tertinggi umat Katolik di wilayah keuskupan. Uskup langsung bertanggung jawab ke Vatikan. Paus Fransiskus menunjuk Paskalis Bruno Syukur menggantikan Mgr Michael Angkur OFM yang pensiun.

Yang menarik, baik uskup Bogor yang baru ditahbiskan dan uskup emeritus yang digantikan sama-sama orang Flores. Bahkan sama-sama dari Manggarai di Flores bagian barat. Kok bisa begitu?

Yah, cuma kebetulan saja. Atau istilah katoliknya: providentia Deo! Penyelenggaraan Tuhan. Pihak Vatikan tentu punya pertimbangan sendiri, jauh melampaui pertimbangan asal usul daerah.

Bisa jadi pula karena wilayah Bogor dan sekitarnya (Serang, Banten, Cianjur, Bojonegara) sejak dulu digembalakan oleh imam-imam Fransiskan atau OFM. Dan, ketika Mgr Angkur menjadi uskup Bogor sejak 1980an, banyak panggilan imamat yang datang dari Flores.

Anak-anak muda asal Flores barat pun akhirnya tertarik mengikuti jejak Santo Fransiskus dengan bergabung ke kongregasi OFM. Dus, bapa uskup Angkur menjadi driver panggilan.

Itu sebabnya, banyak sekali orang Manggarai yang jadi romo OFM. Dan, itu juga sebabnya mereka bertugas di Keuskupan Bogor. Dan, ketika uskup lama pensiun, calon terkuat ya orang Manggarai juga.

Salut untuk kraeng-kraeng dari Manggarai!

Inilah bedanya Flores Barat dan Flores Timur. Kami yang di Flores Timur, Lembata, Adonara, Solor, Alor tidak mengenal kongregasi lain selain SVD. Imam-imam OFM tidak ada. Sekarang SVD sangat kurang karena Keuskupan Larantuka didominasi imam-imam praja atau diosesan.

Sebagai umat Keuskupan Surabaya, yang berasal dari Keuskupan Larantuka, terpilihnya Mgr Bruno Syukur OFM sebagai uskup Bogor ini sangat menarik. Mengapa? Ini seperti melawan tren yang ada di Gereja Katolik dalam beberapa dekade terakhir.

Sebab, saat ini kebanyakan uskup berlatar belakang imam praja. Sebut saja Uskup Agung Jakarta Mgr Suharyo atau Uskup Surabaya Vincentius Sutikno Wisaksono. Uskup Larantuka pun sudah lama dijabat imam praja, yakni Mgr Frans Kopong Kung.

Lantas, bagaimana dengan imam-imam praja di Bogor? Saya kira inilah salah satu tugas Mgr Bruno Syukur OFM untuk mematangkan romo-romo diosesan di Keuskupan Bogor.

Akhirnya, selamat kepada monsinyur yang baru! Selamat melayani umat!

Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

3 comments:

  1. salam kenal Bang Hurek,
    Bisa dijelasksn mengena perbedaan / perbedaan hirarki antara romo praja, diosesan dll. Mengapa di satu gereja atau keuskupan nggak bisa ada romo dari lain konggregasi ?

    ReplyDelete
  2. Romo projo = romo diosesan. Ia hanya bertugas di wilayah keuskupannya, tidak bisa pindah ke luar keuskupan.

    Contoh: romo diosesan/projo Keuskupan Surabaya hanya tugas di wilayah Keuskupan Surabaya, tidak bisa ke Malang atau Bangkalan (Madura) meskipun jaraknya sangat dekat, bertetangga, sama-sama Jawa Timur... karena beda keuskupan. Kota Malang dan Pulau Madura itu masuk Keuskupan Malang.

    Romo-romo diosesan/projo itu 100 persen milik uskup setempat yang menahbiskannya.

    Beda dengan romo kongregasi (ordo) yang hanya "diminta" melayani keuskupan karena romo2 projo belum banyak. Ketika romo2 projo (diosesan) sudah banyak, kongregasi ini menyerahkan paroki/gereja ke romo2 projo, kemudian menjadi misionaris di negara2 lain yg membutuhkan.

    Ini yang terjadi di Flores, khususnya Keuskupan Larantuka. Imam2 kongregasi SVD yang dulu hampir 100 persen, sekarang jumlahnya tidak sampai 10 persen karena romo2 projo sudah banyak.

    Kongregasi atau ordo itu memang punya wilayah masing2 supaya tidak tumpah tindih. Karena itu, Surabaya dikenal sebagai wilayah CM. Malang wilayah Carmelit. Bogor OFM. Sumatera Utara OFM Cap (Kapusin). Sulawesi Selatan CICM. Sumba CSsR. Flores, NTT, NTB, Bali wilayah SVD.

    Imam2 dari kongregasi lain bisa masuk ke wilayah keuskupan tertentu kalau diminta oleh uskup setempat. Contoh: awal tahun 1970an Uskup Surabaya meminta bantuan kongregasi SVD di Flores untuk membuka pelayanan di Surabaya. Maka, sejak itulah di Surabaya ada paroki yang digembalakan oleh romo2 SVD. Saat ini paroki2 SVD di Surabaya/Sidoarjo adalah Wonokromo, Jemur Handayani (Gembala yang Baik), Rungkut Puri Mas, Wisma Tropodo Salib Suci, dan Santo Paulus Jalan Raya Juanda.

    Tapi, di Surabaya ada pula paroki yang tadinya digembalakan oleh SVD, kemudian diserahkan ke projo Keuskupan Surabaya. Yakni Paroki Sakramen Mahakudus, Pagesangan, yang bertetangga dengan Masjid Agung Al-Akbar, yang diresmikan oleh Presiden KH Abdurrahman Wahid itu.

    Mudah-mudahan penjelasan singkat ini bisa membantu.

    ReplyDelete